![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat,melalui Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) terus mendorong peningkatan kualitas dan kompetensi tenaga kerja melalui berbagai program pelatihan kerja.Di tengah perubahan kebutuhan dunia usaha dan industri yang berlangsung cepat, keterampilan menjadi salah satu modal penting bagi masyarakat untuk meningkatkan daya saing.
Sementara,tidak hanya untuk memperoleh pekerjaan, keterampilan juga diharapkan dapat menjadi bekal masyarakat dalam membuka usaha dan menciptakan sumber pendapatan secara mandiri. Untuk tahun 2026, Disnakertrans Kabupaten Garut menargetkan sekitar 1.500 orang dapat mengikuti berbagai program pelatihan kerja.
Kepala Disnakertrans Kabupaten Garut, Drs. H. Nia Gania Karyana, M.Si., mengatakan target tersebut disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang tersedia.
“Disesuaikan anggaran, target sekitar 1.500 orang,” ujar Nia saat di wawancarai awak media melalui sambungan Whatsapp miliknya, Kamis (10/09/2026).
Dari target tersebut, pelaksanaan program hingga saat ini telah menjangkau kurang lebih 1.000 peserta. Dengan demikian, masih terdapat sekitar 500 orang yang menjadi sasaran untuk melengkapi target peserta pelatihan sepanjang 2026.
“Sekarang sudah ada kurang lebih 1.000 orang,” katanya.
Meningkatkan Skill, Membuka Peluang
Menurut Nia, peningkatan keterampilan tenaga kerja merupakan bagian penting dari upaya pemerintah dalam meningkatkan daya saing masyarakat.Pelatihan kerja diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan secara teoritis, tetapi juga menghasilkan keterampilan yang dapat diterapkan dalam dunia kerja maupun kegiatan usaha.
Orientasi tersebut menjadi penting karena persaingan memperoleh pekerjaan semakin membutuhkan tenaga kerja yang mempunyai kemampuan sesuai kebutuhan perusahaan dan perkembangan sektor usaha, Masyarakat yang mempunyai keterampilan lebih spesifik diharapkan memiliki peluang yang lebih luas, baik untuk memasuki pasar kerja maupun mengembangkan usaha sendiri.
Nia menegaskan, peningkatan keterampilan tersebut pada akhirnya diharapkan memberikan dampak terhadap kemampuan masyarakat dalam memperoleh penghasilan.
“Mereka meningkatkan skill tenaga kerja, bisa bersaing di dunia kerja, pendapatan meningkat,” terangnya.
Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa program pelatihan kerja memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar meningkatkan jumlah masyarakat yang mengikuti kegiatan pelatihan. Disitu,ada harapan agar keterampilan yang diperoleh peserta benar-benar dapat digunakan setelah mereka menyelesaikan pelatihan.
Capaian Sekitar 1.000 Peserta
Hingga September 2026, sekitar 1.000 orang disebut telah mendapatkan akses pelatihan kerja melalui program yang dilaksanakan Disnakertrans Garut.
Capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju target 1.500 peserta pada tahun ini.
Masih adanya sekitar 500 sasaran peserta menunjukkan bahwa pelaksanaan program pelatihan masih terus berjalan dan membutuhkan penguatan agar target yang telah ditetapkan dapat direalisasikan.
Namun, pencapaian target kuantitatif bukan satu-satunya aspek yang menentukan keberhasilan program.
Yang tidak kalah penting adalah memastikan peserta mendapatkan jenis keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan memiliki peluang untuk dimanfaatkan dalam kegiatan ekonomi.Sebab, pelatihan akan memiliki nilai lebih ketika kompetensi yang diperoleh peserta dapat berlanjut menjadi pekerjaan, peningkatan produktivitas, ataupun usaha baru.
Kerja Sama dengan Pemerintah Pusat dan Provinsi
Untuk memperluas akses pelatihan, Disnakertrans Garut berupaya membangun sinergi dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.Kerja sama tersebut, membuka peluang bagi masyarakat Garut untuk memperoleh pelatihan pada berbagai bidang yang memiliki relevansi dengan kebutuhan dunia kerja.
Salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan pada awal Agustus 2026 berlangsung di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Bandung Barat dengan jumlah peserta mencapai 412 orang.Peserta memperoleh berbagai jenis pelatihan, mulai dari pemasaran digital, pengolahan hasil perikanan, vokasi agroforestri, hingga keterampilan barista.
Keberagaman bidang tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan keterampilan masyarakat tidak selalu sama,sebagian peserta dapat diarahkan untuk memasuki sektor jasa dan industri, sementara peserta lainnya dapat memanfaatkan keterampilan untuk mengembangkan potensi ekonomi yang tersedia di lingkungan tempat tinggal mereka.
Pemasaran Digital Jadi Modal di Era Ekonomi Digital
Salah satu keterampilan yang semakin penting dalam perkembangan ekonomi saat ini adalah pemasaran digital.
Perubahan perilaku konsumen membuat pelaku usaha tidak lagi hanya mengandalkan pemasaran secara konvensional. Pemanfaatan media digital dan berbagai platform pemasaran dapat membuka akses pasar yang lebih luas.Bagi masyarakat yang telah memiliki produk usaha, kemampuan pemasaran digital dapat membantu memperkenalkan produk kepada calon konsumen di luar wilayah tempat tinggalnya.
Karena itu, pelatihan pemasaran digital tidak hanya relevan bagi calon tenaga kerja, tetapi juga bagi pelaku usaha mikro dan masyarakat yang ingin memulai kegiatan usaha.Keterampilan tersebut dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendorong masyarakat agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai peluang ekonomi.
Keterampilan Praktis Harus Berujung Manfaat
Begitu pula dengan pelatihan barista yang dapat membuka peluang bagi peserta untuk memasuki sektor perhotelan, restoran, kafe dan berbagai bidang jasa lainnya. Peserta yang memiliki keterampilan tersebut dapat mencari pekerjaan sesuai kompetensinya atau mengembangkan usaha secara mandiri apabila memiliki dukungan modal dan kemampuan manajemen usaha.
Sementara itu, pelatihan pengolahan hasil perikanan dapat dikembangkan sesuai dengan potensi ekonomi masyarakat.
Demikian pula bidang agroforestri yang memiliki keterkaitan dengan potensi sumber daya alam dan lingkungan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, pelatihan diharapkan tidak bersifat seragam, tetapi dapat menyesuaikan dengan kebutuhan peserta sekaligus peluang ekonomi yang tersedia.
Tantangan Setelah Pelatihan
Persoalan yang kemudian menjadi tantangan adalah apa yang terjadi setelah peserta menyelesaikan pelatihan.
Sertifikat atau bukti telah mengikuti pelatihan tentu menjadi salah satu hasil kegiatan. Namun, dampak yang lebih nyata akan terlihat ketika peserta mampu menggunakan keterampilan tersebut dalam aktivitas ekonomi.
Karena itu, kesinambungan setelah pelatihan menjadi hal yang perlu mendapatkan perhatian. Namun,peserta yang diarahkan memasuki dunia kerja membutuhkan informasi pasar kerja, akses terhadap perusahaan, serta keterampilan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan pemberi kerja.
Sementara peserta yang memilih jalur kewirausahaan membutuhkan dukungan lanjutan berupa pendampingan, akses pasar, pengetahuan pengelolaan usaha dan, bila tersedia, akses terhadap pembiayaan.
Dengan demikian, pelatihan dapat menjadi pintu masuk menuju kemandirian, bukan sekadar kegiatan yang selesai ketika materi pelatihan berakhir.
Sinergi dengan Dunia Usaha dan Industri
Keterlibatan dunia usaha dan industri juga menjadi faktor penting dalam menjaga relevansi program pelatihan. Sedangkan,
Pemerintah perlu terus membaca perkembangan kebutuhan tenaga kerja sehingga bidang pelatihan yang diberikan kepada masyarakat tidak tertinggal dari perubahan dunia industri.
Keterhubungan antara lembaga pelatihan dan perusahaan dapat memberikan gambaran mengenai kompetensi yang benar-benar dibutuhkan di lapangan.
Dengan demikian, peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan secara umum, tetapi memiliki kemampuan yang lebih dekat dengan kebutuhan pekerjaan.
Sinergi tersebut juga dapat membuka peluang lebih besar bagi peserta untuk memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pelatihan.
Bagi pemerintah daerah, pola seperti ini menjadi penting karena salah satu tujuan utama peningkatan kompetensi adalah meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal.
Bukan Sekadar Mengejar Angka 1.500
Target 1.500 peserta pelatihan kerja pada 2026 menjadi salah satu indikator program Disnakertrans Garut.
Namun, keberhasilan program idealnya tidak hanya diukur dari jumlah masyarakat yang mengikuti pelatihan.Pertanyaan berikutnya adalah berapa banyak peserta yang kemudian memperoleh pekerjaan, berapa yang mampu meningkatkan pendapatannya, dan berapa yang berhasil membangun usaha setelah mengikuti pelatihan.
Ukuran tersebut penting karena pelatihan kerja pada akhirnya berkaitan dengan persoalan ekonomi masyarakat.
Jika keterampilan yang diberikan benar-benar mampu meningkatkan kesempatan kerja dan produktivitas, maka manfaat program akan terasa lebih luas.
Sebaliknya, apabila pelatihan hanya berhenti pada kegiatan pembelajaran tanpa keberlanjutan, maka dampak ekonominya berpotensi tidak maksimal. Karena itu, pencapaian sekitar 1.000 peserta hingga saat ini perlu dilihat sebagai bagian dari proses yang masih berlanjut.
Mendorong Masyarakat Naik Kelas
Disnakertrans Garut menempatkan peningkatan keterampilan sebagai salah satu instrumen untuk mendorong masyarakat agar memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi persaingan.
Konsep “naik kelas” dalam konteks ketenagakerjaan tidak hanya berarti mendapatkan pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk meningkatkan produktivitas dan penghasilan.
Bagi pencari kerja, naik kelas dapat berarti memperoleh kompetensi yang lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Bagi pelaku usaha, peningkatan kemampuan dapat berarti bertambahnya kualitas produk, pemasaran yang lebih luas, dan kemampuan mengembangkan usaha. Sedangkan,bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan maupun usaha, pelatihan dapat menjadi titik awal untuk menemukan bidang keterampilan yang dapat dikembangkan.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan ekonomi dan teknologi yang menuntut masyarakat untuk terus belajar dan beradaptasi.
500 Peserta Masih Menjadi Sasaran
Dengan capaian sekitar 1.000 peserta, Disnakertrans Garut masih memiliki sasaran sekitar 500 peserta untuk memenuhi target 1.500 orang pada 2026.
Sisa target tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperluas akses masyarakat terhadap program pelatihan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memastikan bahwa masyarakat yang menjadi peserta berikutnya mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan sesuai kebutuhan dan potensi masing-masing.
Pemilihan peserta dan bidang pelatihan menjadi bagian penting agar program dapat memberikan manfaat secara optimal.
Selain itu, keterkaitan antara pelatihan dan peluang kerja juga perlu terus diperkuat.
Dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Lapangan Kerja
Dalam jangka panjang, pelatihan kerja juga diharapkan mampu mengubah paradigma masyarakat.
Masyarakat tidak hanya diarahkan untuk menjadi pencari kerja, tetapi juga mempunyai kemampuan menciptakan peluang ekonomi.
Keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan dapat menjadi modal awal untuk membangun usaha kecil sesuai potensi daerah.
Jika dikembangkan dengan baik, keberadaan tenaga kerja terampil dan pelaku usaha baru dapat memberikan dampak berantai terhadap perekonomian masyarakat.
Usaha yang berkembang membutuhkan tenaga kerja. Tenaga kerja yang terserap meningkatkan pendapatan rumah tangga. Peningkatan pendapatan kemudian berpotensi mendorong aktivitas ekonomi lainnya.Karena itu, program peningkatan kompetensi tenaga kerja memiliki keterkaitan dengan agenda pembangunan ekonomi daerah secara lebih luas.
Menjaga Agar Pelatihan Memberikan Dampak Nyata
Target 1.500 peserta pelatihan kerja di Kabupaten Garut pada 2026 pada akhirnya perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya jangka panjang meningkatkan kualitas sumber daya manusia.Angka 1.500 peserta penting sebagai target program, tetapi dampak setelah pelatihan jauh lebih penting untuk melihat keberhasilannya.
Disnakertrans Garut masih mempunyai sekitar 500 sasaran peserta yang diharapkan dapat mengikuti program hingga target tahunan tercapai. Ke depan, tantangan pemerintah bukan hanya memperluas jumlah peserta, tetapi juga memastikan setiap keterampilan yang diberikan mempunyai relevansi dengan kebutuhan dunia kerja dan peluang usaha.
Keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, lembaga pelatihan serta dunia usaha dan industri menjadi penting untuk menciptakan ekosistem pelatihan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan program pelatihan kerja bukan sekadar tentang berapa banyak orang yang duduk mengikuti pelatihan.
Keberhasilan yang lebih substantif adalah ketika keterampilan tersebut berubah menjadi pekerjaan, usaha, produktivitas, pendapatan dan kemandirian.
Dengan semangat tersebut, target 1.500 peserta pelatihan kerja pada 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai angka administratif, tetapi menjadi bagian dari proses membangun tenaga kerja Garut yang kompeten, produktif, adaptif dan mampu naik kelas secara ekonomi. (*)












Leave a Reply