BERITA TEKNOLOGI

View All

LIFESTYLE

View All

Technique Offers Hope for Cystic Fibrosis Treatment

What's the problem? Early morning coffee is also known to interfere with your natural morning cortisol production and stress your adrenal glands if consumed in excess. Cortisol continues to diminish after peaking at 8:30 a.m.…

Virtual Reality Theme Park Offers Immersive Adventures

You'll be able to detect if you're not feeling well. It's possible that you're simply "off." You could notice that you're weary, that your digestive system isn't working as effectively as it should, and that…

How Work From Home Spurred Employee To Move Around The World

Moving closer to family  For decades, working parents — and mothers in particular — have been calling for more flexibility to juggle their personal and professional responsibilities. Finally, a global pandemic forced many employers to…

OTOMOTIVE

View All

TNI – POLRI

View All

KESEHATAN

View All

Waspada Terhadap Dua Wajah Ini: Pembangkang yang Mundur dalam Diam dan Penjilat yang Menikam dari Belakang

Loading

Waspada Terhadap Dua Wajah Ini: Pembangkang yang Mundur dalam Diam dan Penjilat yang Menikam dari Belakang

(Oleh: Pimpinan Umum Media Tribunpribumi.com)

Opini,TRIBUNPRIBUMI.com – Dalam setiap lingkaran kekuasaan baik di pemerintahan, organisasi, maupun komunitas sosial selalu ada dinamika yang tidak seluruhnya tampak di permukaan. Konflik terbuka memang mudah dikenali, tetapi justru yang paling berbahaya sering hadir dalam bentuk yang sunyi: mereka yang memilih mundur tanpa suara, dan mereka yang terlihat setia namun diam-diam menyusun langkah untuk menjatuhkan.

Dua wajah inilah yang patut diwaspadai: pembangkang yang mundur dalam diam, dan penjilat yang lihai “menaikkan diri” dengan cara menikam dari belakang.
Pembangkang tidak selalu hadir dengan suara lantang. Ada kalanya seseorang memilih mundur dari arena bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa tidak lagi memiliki ruang untuk bersuara. Ketika kritik diabaikan, aspirasi tidak didengar, dan keadilan terasa timpang, sebagian orang memilih diam. Mereka menarik diri, berhenti terlibat, dan tampak seolah-olah tidak lagi peduli.

Namun, diam bukan berarti selesai. Dalam banyak kasus, diam justru menjadi ruang bagi akumulasi kekecewaan. Pembangkang yang mundur seringkali menyimpan catatan panjang tentang perlakuan yang dianggap tidak adil, tentang keputusan yang dinilai keliru, dan tentang harga diri yang merasa dilukai. Mereka tidak lagi melawan secara langsung, tetapi mulai mengamati dari kejauhan.

Di titik inilah potensi bahaya muncul. Ketika seseorang yang pernah berada di dalam sistem memilih mundur dengan membawa beban emosi dan pengalaman, ia memiliki dua hal: pengetahuan dan motif. Pengetahuan tentang bagaimana sistem bekerja, serta motif untuk membuktikan sesuatu entah itu membela harga diri atau sekadar “membalas” keadaan.

Jika tidak dikelola dengan baik, pembangkang diam ini bisa berubah menjadi kekuatan laten. Mereka tidak lagi terikat oleh aturan internal, tidak memiliki kewajiban loyalitas, dan memiliki kebebasan untuk bergerak dari luar. Ketika momentum datang, mereka bisa kembali bukan sebagai bagian dari solusi, tetapi sebagai faktor yang memperkeruh situasi.

Di sisi lain, ada penjilat kekuasaan figur yang tampak selalu hadir di lingkaran dalam, terlihat setia, dan seringkali mendapatkan tempat strategis. Namun, kesetiaan mereka perlu dipertanyakan.

Apakah benar didasarkan pada komitmen terhadap nilai dan tujuan bersama, atau sekadar strategi untuk bertahan dan naik?

Penjilat kekuasaan tidak hanya sekadar memuji. Mereka adalah aktor yang memahami bagaimana sistem bekerja, bagaimana memanfaatkan celah, dan bagaimana memposisikan diri agar selalu berada di sisi yang “menguntungkan”. Mereka bisa tampil ramah, loyal, dan membantu. Namun di balik itu, mereka menyusun langkah yang sangat kalkulatif.

Salah satu ciri paling berbahaya dari penjilat adalah kemampuannya untuk “menikam dari belakang”. Mereka tidak akan menyerang secara terbuka, karena itu berisiko. Sebaliknya, mereka memilih jalur yang lebih halus membangun opini di belakang layar, memengaruhi keputusan secara diam-diam, atau bahkan menjatuhkan orang lain tanpa terlihat sebagai pelaku.

Dalam banyak kasus, penjilat juga pandai memanfaatkan situasi. Ketika ada celah konflik, mereka akan masuk. Ketika ada figur yang melemah, mereka akan mengambil alih. Ketika ada peluang untuk naik, mereka tidak ragu mengorbankan pihak lain. Loyalitas mereka bersifat sementara selama menguntungkan, mereka akan bertahan; ketika tidak, mereka akan berpindah.

Yang membuat situasi semakin kompleks adalah kemungkinan bertemunya dua tipe ini. Pembangkang yang mundur dalam diam, dengan segala kekecewaan dan pengetahuannya, bisa saja menjadi “sekutu tak langsung” bagi penjilat yang oportunis. Yang satu membawa motif emosional, yang lain membawa strategi dan akses. Jika keduanya bertemu dalam satu momentum, dampaknya bisa sangat merusak.

Sistem bisa terguncang dari dua arah sekaligus: dari luar oleh mereka yang pernah menjadi bagian di dalam, dan dari dalam oleh mereka yang berpura-pura setia. Inilah kondisi yang seringkali sulit diantisipasi, karena ancaman tidak datang secara frontal, melainkan melalui proses yang perlahan namun pasti.

Lalu, bagaimana cara menghadapinya?

Pertama, penting untuk membangun budaya komunikasi yang terbuka dan jujur. Banyak pembangkang diam lahir dari ruang yang tertutup di mana kritik tidak dihargai dan perbedaan dianggap ancaman. Ketika orang merasa didengar, bahkan jika tidak selalu disetujui, kecenderungan untuk mundur dengan membawa kekecewaan dapat diminimalisir.

Kedua, sistem harus dibangun di atas prinsip transparansi dan meritokrasi. Penjilat kekuasaan tumbuh subur di lingkungan yang tidak jelas ukurannya di mana kedekatan lebih dihargai daripada kinerja, dan loyalitas semu lebih penting daripada integritas. Dengan sistem yang transparan, ruang gerak mereka akan semakin sempit.

Ketiga, penting untuk membaca pola, bukan sekadar kata-kata. Orang yang terlalu sering berubah sikap, terlalu cepat mendekat ketika ada keuntungan, atau terlalu lihai memainkan dua sisi, patut untuk dicermati. Demikian pula dengan mereka yang tiba-tiba diam dan menjauh perlu dipahami, bukan diabaikan.

Pada akhirnya, menjaga stabilitas sebuah sistem bukan hanya soal kebijakan atau struktur, tetapi juga soal memahami manusia di dalamnya. Ada ego, ada ambisi, ada luka, dan ada kepentingan yang saling berkelindan. Mengabaikan hal ini sama saja membuka ruang bagi potensi konflik yang lebih besar.

Kewaspadaan bukan berarti menumbuhkan kecurigaan berlebihan, tetapi kesadaran bahwa tidak semua yang diam itu netral, dan tidak semua yang tampak setia itu tulus. Dalam dunia yang penuh dinamika, keseimbangan antara kepercayaan dan kehati-hatian menjadi kunci.

Sebab ancaman terbesar seringkali bukan datang dari mereka yang berteriak di depan, melainkan dari mereka yang memilih mundur sambil menyimpan perhitungan, dan dari mereka yang tersenyum sambil diam-diam menyiapkan langkah untuk menjatuhkan.

Jejak Sanitasi Masa Lalu Diubah Bak Singgasana, Bukti Peradaban Bersih Sejak Dulu

Loading

Jejak Sanitasi Masa Lalu Diubah Bak Singgasana, Bukti Peradaban Bersih Sejak Dulu

Solo,TRIBUNPRIBUMI.com – Di tengah arus modernisasi yang kian pesat, sebuah bangunan tua yang berdiri kokoh di kawasan Ngebrusan, Kestalan, Banjarsari, menyimpan pesan penting tentang peradaban yang kerap terlupakan. Bangunan yang dikenal dengan sebutan “ponten” ini sekilas tampak seperti singgasana kerajaan atau tempat sakral. Namun siapa sangka, di balik arsitekturnya yang megah dan artistik, ponten justru merupakan fasilitas sanitasi umum yang telah ada sejak puluhan tahun lalu.

Ponten ini dibangun pada tahun 1936 pada masa pemerintahan Sri Mangkunegara VII di lingkungan Pura Mangkunegaran. Keberadaannya menjadi bukti nyata bahwa kesadaran akan pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan telah menjadi perhatian serius sejak zaman dahulu, bahkan jauh sebelum konsep sanitasi modern berkembang seperti sekarang.

Dari luar, bangunan ini memang tidak menunjukkan fungsi utamanya. Bentuknya yang menyerupai bangunan monumental dengan sentuhan arsitektur khas kolonial membuatnya lebih mirip simbol kejayaan daripada fasilitas umum. Namun ketika ditelusuri lebih dalam, ponten ini dilengkapi dengan pancuran air serta bilik-bilik kecil yang difungsikan sebagai tempat mandi dan buang air.

Menariknya, meski dibangun tanpa pintu, desain ponten tetap memperhatikan aspek privasi. Setiap bilik dibuat berkelok sehingga tidak terbuka langsung ke arah luar. Selain itu, fasilitas untuk pria dan wanita dipisahkan, mencerminkan adanya pemahaman tentang etika, kenyamanan, dan norma sosial dalam penggunaan ruang publik.

Nama “ponten” sendiri berasal dari bahasa Belanda, fontein, yang berarti air mancur. Istilah ini merujuk pada sistem aliran air yang menjadi bagian utama dari fasilitas tersebut. Tak hanya sebagai tempat membersihkan diri, ponten juga menjadi simbol perubahan pola hidup masyarakat menuju lingkungan yang lebih sehat.

Bangunan ini dirancang oleh arsitek Belanda ternama, Thomas Karsten, yang dikenal banyak menghasilkan karya penting di Indonesia pada masa kolonial. Perancangan ponten bukan tanpa alasan. Pada masa itu, wilayah sekitar kerap dilanda wabah penyakit seperti kolera, yang salah satu penyebab utamanya adalah buruknya sanitasi lingkungan.

Kebiasaan masyarakat yang masih membuang hajat di sungai, termasuk di aliran Kali Pepe yang berada tak jauh dari lokasi, memperparah kondisi kesehatan. Menyadari hal tersebut, pemerintah kerajaan di bawah Mangkunegaran mengambil langkah konkret dengan membangun fasilitas sanitasi umum yang layak dan terorganisir.

Ponten menjadi solusi nyata untuk mengubah perilaku masyarakat. Dengan menyediakan tempat MCK yang mudah diakses, diharapkan masyarakat beralih dari kebiasaan lama menuju pola hidup yang lebih bersih dan sehat. Meski teknologi yang digunakan saat itu masih sederhana diduga menggunakan sistem septic tank namun keberadaannya sudah menjadi langkah maju dalam upaya pengelolaan limbah.

Kini, ponten Mangkunegaran telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Fungsinya mungkin telah bergeser seiring perkembangan zaman, namun nilai historis dan pesan yang dikandungnya tetap relevan hingga hari ini. Di era modern, sistem sanitasi telah berkembang pesat dengan adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal yang lebih canggih dan ramah lingkungan.

Namun ironisnya, di tengah kemajuan tersebut, masih ditemukan sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya sadar akan pentingnya sanitasi. Praktik buang air sembarangan di sungai masih terjadi di beberapa daerah, menjadi ironi yang mencerminkan kemunduran dalam perilaku, meski teknologi telah maju.

Ponten Mangkunegaran seolah menjadi cermin bagi generasi masa kini. Bahwa peradaban bersih bukanlah hal baru, melainkan warisan yang telah dirintis sejak lama. Bahkan, dalam beberapa aspek, pendekatan masa lalu menunjukkan keseriusan yang patut diapresiasi.

Lebih dari sekadar bangunan, ponten adalah simbol komitmen terhadap kesehatan publik dan lingkungan. Ia mengajarkan bahwa peradaban tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi, tetapi juga dari kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan dan kualitas hidup.

Dengan memahami sejarah ini, diharapkan masyarakat tidak hanya melihat ponten sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga sanitasi. Sebab pada akhirnya, lingkungan yang bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama sebagai bagian dari peradaban yang berkelanjutan. (YON)

TRIBUNPRIBUMI