Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

Tiga Jenderal Pernah Ukir Pengabdian di Polda Sulut, Kini Berada di Posisi Strategis Mabes Polri

Loading

Manado,TRIBUNPRIBUMI.com – Sebuah pertemuan tiga perwira tinggi Polri dalam satu frame menyimpan cerita tersendiri bagi masyarakat Sulawesi Utara. Ketiganya bukan nama asing bagi lingkungan kepolisian di daerah tersebut karena pernah mengemban tugas di Polda Sulawesi Utara.

Sementara,mereka adalah Komjen Pol R.Z. Panca Putra Simanjuntak, Irjen Pol Roycke Harry Langie, dan Irjen Pol Johnny Eddizon Isir.Ketiga jenderal tersebut kini telah menempati posisi strategis dalam struktur Kepolisian Negara Republik Indonesia di tingkat pusat. Namun, perjalanan karier mereka sebelumnya memiliki satu titik temu, yakni Sulawesi Utara.

Panca Putra Simanjuntak pernah dipercaya menjadi Kapolda Sulut pada periode 2020–2021. Setelah menyelesaikan tugasnya di Sulawesi Utara, perjalanan kariernya terus berkembang hingga kemudian dipercaya memegang jabatan penting di lingkungan Mabes Polri.

Saat ini, Panca menjabat sebagai Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri (Kalemdiklat Polri).

Sementara itu, Irjen Pol Roycke Harry Langie juga pernah berada di pucuk pimpinan Polda Sulut. Ia dipercaya menjadi Kapolda Sulut sejak September 2024,pengabdiannya di Sulawesi Utara kemudian berlanjut dengan penugasan baru di tingkat pusat. Roycke kini mengemban amanah sebagai Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops Kapolri).

Adapun Irjen Pol Johnny Eddizon Isir memiliki pengalaman berbeda. Sebelum dipercaya menduduki jabatan strategis di Mabes Polri, Johnny pernah menjalankan tugas sebagai Wakapolda Sulut, termasuk tercatat menjalankan jabatan tersebut pada 2022.

Kini Johnny Isir dipercaya sebagai Kepala Divisi Humas Polri (Kadiv Humas Polri).

Satu Foto, Satu Benang Merah

Bagi masyarakat Sulawesi Utara, pertemuan ketiga perwira tinggi tersebut tentu memiliki daya tarik tersendiri.Pasalnya, ketiganya pernah hadir dalam perjalanan kepolisian di daerah yang dikenal sebagai Bumi Nyiur Melambai.

Panca pernah memimpin Polda Sulut. Roycke juga pernah memimpin institusi yang sama. Sedangkan Johnny Isir pernah menduduki posisi Wakapolda. Saat ini mereka berada di level berbeda dengan tugas yang juga semakin strategis.Panca berada pada sektor pendidikan dan pelatihan personel Polri, sedangkan Roycke menjalankan tugas di bidang operasi. Sementara Johnny Isir bertanggung jawab pada bidang hubungan masyarakat dan komunikasi publik Polri.

Dengan latar belakang tersebut, pertemuan mereka dalam satu frame dapat dilihat sebagai potret perjalanan panjang pengabdian di tubuh Polri.

Dari penugasan di daerah hingga menduduki posisi strategis di tingkat nasional.

Muncul dalam Agenda Pencegahan Karhutla

Momen kebersamaan ketiga jenderal tersebut juga berkaitan dengan agenda kepolisian dalam memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pada 7 September 2026, Lemdiklat Polri mengerahkan sebanyak 322 personel yang tergabung dalam Satgas Edukasi Karhutla.

Personel tersebut akan ditempatkan di sejumlah wilayah yang memiliki tantangan terkait potensi kebakaran hutan dan lahan.

Enam wilayah kepolisian daerah yang menjadi sasaran penempatan personel tersebut adalah Polda Kalimantan Timur, Polda Kalimantan Barat, Polda Kalimantan Tengah, Polda Kalimantan Selatan, Polda Riau, dan Polda Sumatera Selatan.

Kehadiran personel tidak semata-mata ditujukan untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat,mereka juga diarahkan melakukan pemetaan persoalan serta mengevaluasi berbagai kondisi yang berpotensi menjadi penyebab terjadinya karhutla,langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan kepolisian dalam melakukan pencegahan sebelum kebakaran terjadi.

Pendidikan Personel Jadi Bagian Strategi

Sebagai Kalemdiklat Polri, Panca Putra Simanjuntak menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari pendidikan dan penguatan kemampuan personel. Peserta didik tidak hanya dituntut memahami persoalan karhutla dari sisi teknis, tetapi juga dibekali kemampuan melihat persoalan melalui perspektif strategi dan manajemen operasi.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena persoalan kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menyangkut aspek pemadaman.

Pencegahan membutuhkan pemetaan wilayah, edukasi masyarakat, koordinasi antarlembaga, serta kemampuan mengidentifikasi potensi kerawanan sejak dini.Karena itu, keterlibatan personel dalam kegiatan edukasi sekaligus pemetaan diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung dalam menghadapi persoalan di lapangan.

Jejak Sulut yang Membawa Mereka ke Pusat

Perjalanan ketiga jenderal tersebut memperlihatkan bahwa penugasan di daerah dapat menjadi bagian penting dari proses pengembangan karier seorang perwira tinggi Polri.

Sulawesi Utara menjadi salah satu wilayah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pengabdian Panca, Roycke, dan Johnny Isir.

Mereka menjalankan tugas dengan kapasitas yang berbeda pada masa yang berbeda.

Panca memimpin Polda Sulut pada 2020–2021. Roycke kemudian dipercaya memimpin Polda Sulut sejak September 2024. Sementara Johnny Isir pernah menjadi Wakapolda Sulut dan tercatat menjalankan tugas tersebut pada 2022.

Kini, ketiganya tidak lagi berada dalam struktur kepemimpinan Polda Sulut.

Mereka telah menempati posisi masing-masing di tingkat pusat dan menjalankan tugas dengan cakupan tanggung jawab yang lebih luas.

Bagi Sulut, Ini Bukan Sekadar Foto

Bagi masyarakat Sulawesi Utara, satu frame yang memperlihatkan ketiga jenderal tersebut bukan sekadar dokumentasi biasa.

Ada rekam jejak pengabdian yang menghubungkan mereka dengan Sulawesi Utara.

Dari Bumi Nyiur Melambai, perjalanan karier ketiganya terus bergerak hingga ke tingkat nasional.Kini, Panca, Roycke, dan Johnny Isir memiliki tugas masing-masing dalam mendukung kebijakan dan agenda strategis Polri.

Pertemuan mereka juga menunjukkan bahwa pengalaman penugasan di daerah menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang perwira sebelum mendapat kepercayaan pada posisi yang lebih tinggi.

Di tengah agenda nasional mengenai pencegahan karhutla, pertemuan tiga jenderal tersebut sekaligus menghadirkan cerita lain: tiga perwira tinggi yang pernah mengabdi di Polda Sulut kini kembali berada dalam satu frame, bukan sebagai pejabat daerah, tetapi sebagai bagian dari jajaran strategis Polri di tingkat nasional.

Bagi publik Sulawesi Utara, perjalanan tersebut menjadi catatan tersendiri tentang bagaimana para perwira yang pernah bertugas di daerah kemudian membawa pengalaman pengabdiannya ke panggung kepolisian nasional. (KEY)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *