Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

Asep Hasan (64): Gunung Nagara, Menelusuri Jejak Leluhur Sunda di Tengah Heningnya Cisompet

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Jauh dari hiruk-pikuk pusat perkotaan, kawasan Situs Gunung Nagara di Desa Depok, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyimpan suasana yang berbeda. Pepohonan yang tumbuh rindang, udara yang relatif sejuk, serta lingkungan yang tenang membuat kawasan tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin berziarah, mengenal sejarah, maupun sekadar menikmati suasana alam Garut Selatan.

Bagi Asep Hasan (64), Gunung Nagara bukan hanya sebuah tempat yang berada di kawasan perbukitan. Di balik suasana heningnya, terdapat cerita dan tradisi masyarakat yang selama bertahun-tahun diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Menurut Asep, keberadaan Gunung Nagara menjadi bagian dari perjalanan budaya masyarakat Sunda. Berbagai cerita yang berkembang mengenai tokoh-tokoh masa lampau, keberadaan makam kuno, hingga kisah yang menghubungkan kawasan tersebut dengan sejarah kerajaan Sunda membuat Gunung Nagara memiliki nilai tersendiri di tengah masyarakat.

“Gunung Nagara mempunyai daya tarik yang berbeda. Tempatnya tenang, alamnya masih terasa, dan masyarakat juga memiliki cerita yang sudah lama diwariskan tentang kawasan ini,” ujar Asep saat di wawancarai awak media di lokasi Gunung Nagara, Kamis (10/09/2026).

Menurutnya, suasana tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat tetap datang ke Gunung Nagara. Sebagian pengunjung datang untuk melakukan ziarah, sementara lainnya tertarik karena ingin mengetahui lebih jauh mengenai sejarah dan budaya yang berkembang di kawasan tersebut.

Keheningan yang Menyimpan Cerita

Gunung Nagara memiliki karakter yang cukup berbeda dibandingkan destinasi wisata yang mengandalkan keramaian, wahana, atau fasilitas modern.Di kawasan ini, pengunjung justru disuguhkan suasana yang relatif sunyi. Suara alam, pepohonan, dan kondisi lingkungan yang jauh dari kepadatan perkotaan menciptakan atmosfer yang membuat pengunjung dapat merasakan nuansa berbeda.

Bagi masyarakat yang datang untuk berziarah, ketenangan tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman mereka.

Sementara bagi pencinta sejarah dan budaya, kondisi tersebut menghadirkan ruang untuk melihat bagaimana sebuah tempat dapat tetap memiliki makna meskipun zaman terus berubah.

Asep mengatakan, keheningan Gunung Nagara seharusnya tidak dipandang sebagai kekurangan. Justru suasana tersebut merupakan salah satu karakter yang perlu dijaga apabila kawasan itu hendak dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.

“Jangan sampai kalau dikembangkan menjadi tempat wisata, kemudian suasana aslinya justru hilang. Menurut saya, ketenangan dan lingkungan alaminya merupakan bagian dari daya tarik Gunung Nagara,” katanya.

Antara Sejarah dan Tradisi Masyarakat

Salah satu hal yang membuat Gunung Nagara menarik perhatian adalah cerita mengenai masa lalu kawasan tersebut.

Di tengah masyarakat berkembang berbagai kisah mengenai tokoh dan leluhur Sunda yang dikaitkan dengan kawasan Gunung Nagara. Cerita-cerita tersebut umumnya berkembang melalui tradisi lisan dan diwariskan secara turun-temurun.

Bagi Asep, tradisi lisan tersebut tetap memiliki nilai budaya yang penting. Namun, ia menilai masyarakat juga perlu bersikap bijak dalam memahami berbagai cerita yang berkembang.

Menurutnya, tidak semua cerita yang diwariskan secara turun-temurun dapat langsung diposisikan sebagai fakta sejarah. Untuk memastikan sebuah peristiwa atau hubungan dengan tokoh tertentu secara akademis, diperlukan penelitian dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Cerita masyarakat tentu harus dihargai karena itu bagian dari budaya. Tetapi kalau berbicara soal sejarah secara akademis, tentu perlu penelitian dan bukti yang jelas,” jelasnya.

Pandangan tersebut dinilai penting agar pelestarian Gunung Nagara tidak terjebak pada perdebatan mengenai benar atau tidaknya seluruh cerita yang berkembang. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana keberadaan situs tersebut dapat tetap terjaga sebagai bagian dari warisan budaya lokal.

Makam Kuno dan Nilai Spiritual

Keberadaan kompleks makam kuno menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian pengunjung.Bagi sebagian masyarakat, makam tersebut memiliki nilai spiritual sehingga kawasan Gunung Nagara menjadi salah satu tujuan ziarah. Tradisi ziarah sendiri telah menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat Indonesia dan memiliki bentuk serta pemaknaan yang beragam.

Di sisi lain, keberadaan makam dan situs lama juga memiliki nilai penting dari perspektif budaya. Situs tersebut dapat menjadi bagian dari bahan kajian untuk memahami kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Karena itu, menurut Asep, keberadaan kawasan Gunung Nagara harus dirawat dengan penuh kehati-hatian.

“Kalau kita melihat makam atau peninggalan lama, jangan hanya melihat dari sisi wisatanya. Ada nilai budaya yang harus dihormati,” terangnya.

Ia berharap pengunjung yang datang dapat menjaga sikap, kebersihan, dan kelestarian lingkungan.Jangan sampai meningkatnya kunjungan wisata justru menimbulkan persoalan baru, seperti kerusakan lingkungan, sampah, atau perubahan karakter kawasan.

Potensi Wisata Sejarah Garut Selatan

Garut Selatan selama ini dikenal memiliki beragam potensi wisata, terutama wisata alam. Pantai, pegunungan, kawasan perkebunan, hingga berbagai destinasi berbasis masyarakat menjadi bagian dari daya tarik wilayah tersebut.Dalam konteks itu, Asep melihat Gunung Nagara memiliki peluang untuk menjadi salah satu destinasi yang menawarkan konsep berbeda.

Jika wisata alam menawarkan panorama, Gunung Nagara dapat memberikan pengalaman berupa perpaduan antara alam, sejarah, budaya, dan tradisi masyarakat.

“Wisatawan yang datang ke Garut Selatan sebenarnya bisa mendapatkan pengalaman yang lengkap. Ada alam, ada budaya, ada sejarah, dan ada tradisi masyarakat,” tuturnya.

Menurut Asep, pengembangan destinasi tersebut tidak harus dilakukan secara berlebihan.Penataan akses, kebersihan, papan informasi, area istirahat, serta informasi mengenai sejarah dan budaya kawasan dinilai sudah dapat membantu pengunjung memahami tempat tersebut.

Yang paling penting, kata dia, informasi yang disampaikan kepada wisatawan harus dibuat secara proporsional dan tidak mencampuradukkan antara fakta sejarah dengan cerita yang masih menjadi bagian dari tradisi lisan.

Pentingnya Informasi Sejarah yang Akurat

Menurut Asep, salah satu tantangan dalam mengembangkan situs sejarah adalah bagaimana menyampaikan informasi kepada masyarakat secara benar. Di era media sosial, cerita mengenai suatu tempat dapat menyebar dengan sangat cepat. Sebuah informasi yang belum diverifikasi dapat dengan mudah dianggap sebagai fakta apabila terus dibagikan.

Karena itu, diperlukan sinergi antara masyarakat, pemerintah daerah, pemerhati budaya, sejarawan, akademisi, dan pihak terkait lainnya untuk melakukan pendokumentasian.

Kajian tersebut tidak hanya penting untuk kepentingan wisata, tetapi juga untuk memastikan warisan budaya dapat diwariskan dalam bentuk informasi yang lebih akurat kepada generasi mendatang.

“Kalau ada penelitian yang lebih mendalam, tentu akan semakin bagus. Masyarakat bisa mengetahui mana yang merupakan sejarah berdasarkan sumber dan mana yang merupakan cerita atau tradisi yang berkembang,” ungkap Asep.

Dengan demikian, Gunung Nagara tidak hanya dikenal karena cerita yang beredar, tetapi juga memiliki dokumentasi sejarah dan budaya yang dapat menjadi referensi bagi masyarakat.

Generasi Muda Jangan Kehilangan Jejak

Asep juga mengingatkan pentingnya melibatkan generasi muda dalam upaya pelestarian situs budaya.Menurutnya, generasi muda merupakan kelompok yang akan menentukan apakah sebuah warisan budaya masih dikenal atau justru hilang ditelan perkembangan zaman.

Kemajuan teknologi, menurut Asep, seharusnya tidak menjadi alasan bagi generasi muda untuk meninggalkan sejarah lokal.Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan Gunung Nagara kepada masyarakat yang lebih luas melalui dokumentasi digital, tulisan, foto, video, maupun berbagai bentuk edukasi.

“Sekarang anak-anak muda lebih dekat dengan teknologi. Itu bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan sejarah dan budaya daerah. Tetapi informasinya harus benar dan tidak asal menyebarkan cerita,” katanya.

Ia berharap generasi muda di Garut tidak hanya mengenal sejarah nasional, tetapi juga memahami sejarah dan budaya yang ada di lingkungan mereka sendiri.

Pelestarian Harus Melibatkan Masyarakat

Menurut Asep, masyarakat sekitar memiliki posisi penting dalam menjaga keberadaan Gunung Nagara.Masyarakat bukan hanya menjadi pihak yang menerima dampak dari perkembangan wisata, tetapi juga dapat menjadi bagian utama dalam pelestarian.

Kearifan lokal yang selama ini berkembang dapat menjadi modal penting untuk menjaga kawasan.Pada saat yang sama, pemerintah juga perlu memberikan perhatian melalui pembinaan, pendataan, pengelolaan, serta upaya perlindungan terhadap situs apabila berdasarkan kajian memang memiliki nilai cagar budaya atau sejarah yang perlu dilestarikan.

Menurut Asep, pengembangan Gunung Nagara idealnya tidak hanya berorientasi pada jumlah wisatawan.

“Yang paling penting bukan hanya berapa banyak orang datang. Tetapi bagaimana setelah datang mereka mendapatkan pengetahuan dan ikut menjaga tempat ini,” jelasnya.

Menjaga Alam Sekaligus Menjaga Ingatan

Keberadaan Gunung Nagara pada akhirnya memperlihatkan bagaimana alam dan budaya dapat berjalan beriringan.

Kawasan yang tenang menjadi ruang bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas spiritual, sementara cerita dan tradisi yang berkembang memberikan warna budaya tersendiri.Namun, nilai tersebut akan kehilangan makna apabila kawasan tidak dirawat.

Sampah, kerusakan lingkungan, vandalisme, serta aktivitas yang tidak menghormati kawasan situs menjadi sejumlah hal yang perlu diantisipasi apabila kunjungan wisata meningkat. Asep berharap, siapapun yang datang ke Gunung Nagara memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan.

“Kalau kita datang ke tempat seperti ini, jangan hanya mengambil foto. Kita juga harus menjaga kebersihan dan menghormati tempatnya,” katanya.

Gunung Nagara dan Masa Depan Warisan Leluhur

Bagi Asep Hasan, Gunung Nagara merupakan salah satu contoh bahwa warisan masa lalu masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat modern.

Kawasan tersebut bukan hanya berbicara mengenai makam atau cerita leluhur, tetapi juga mengenai bagaimana sebuah komunitas mempertahankan ingatan terhadap masa lalu.

Cerita yang diwariskan secara turun-temurun merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat. Sementara penelitian sejarah diperlukan untuk memberikan pemahaman yang lebih objektif mengenai perjalanan masa lalu. 

Keduanya dapat berjalan berdampingan selama ditempatkan secara proporsional,Gunung Nagara juga memiliki peluang menjadi ruang edukasi bagi generasi muda. Mereka dapat belajar bahwa sejarah tidak selalu ditemukan dalam buku atau bangunan besar, tetapi juga dapat ditemukan di lingkungan sekitar melalui situs, tradisi, cerita masyarakat, dan peninggalan budaya.Karena itu, pelestarian Gunung Nagara membutuhkan perhatian bersama.

Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam aspek kebijakan dan perlindungan. Masyarakat memiliki peran menjaga tradisi dan lingkungan. 

Sementara generasi muda dapat menjadi penghubung antara warisan masa lalu dengan perkembangan zaman.

Bagi Asep Hasan, selama semua pihak memiliki kepedulian, Gunung Nagara dapat terus menjadi bagian dari perjalanan budaya Garut Selatan.

“Harapannya, Gunung Nagara tetap terjaga. Anak-anak kita nanti masih bisa datang ke sini, mengetahui ceritanya, mengenal budayanya, dan memahami bahwa tempat seperti ini merupakan bagian dari warisan yang harus dihormati,” pungkasnya.

Di tengah semakin cepatnya perubahan zaman, Gunung Nagara tetap berdiri dalam keheningan Cisompet. Kawasan itu menyimpan cerita yang terus hidup dalam ingatan masyarakat, sekaligus menawarkan peluang untuk mempertemukan wisata, sejarah, budaya, dan pendidikan dalam satu ruang.

Lebih dari sekadar destinasi untuk dikunjungi, Gunung Nagara menjadi pengingat bahwa warisan leluhur hanya akan tetap hidup apabila generasi sekarang bersedia mengenal, merawat, meneliti, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

(Wawan Sutiawan)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *