Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas), Sat Samapta Polres Garut melaksanakan patroli dialogis pada Rabu malam (29/4/2026) di wilayah Jalan Ibrahim Adjie, Kabupaten Garut.
Kegiatan patroli yang dimulai sekitar pukul 23.35 WIB tersebut difokuskan pada upaya antisipasi tindak kejahatan C3 (Curat, Curas, dan Curanmor) serta penyakit masyarakat lainnya. Dalam pelaksanaannya, tim patroli presisi berhasil mengamankan sekelompok pemuda yang kedapatan tengah menggelar pesta minuman keras di lokasi tersebut.
Petugas mengamankan sebanyak enam orang pemuda dan satu orang pemudi untuk dilakukan pembinaan lebih lanjut. Adapun identitas para pemuda tersebut diinisialkan masing-masing RA (20) warga Tarogong Kidul, RAZ (17) , AR (16), Warga Samarang, RS (20) warga Tarogong Kaler dan SM (18) Warga Pasirwangi.
Sebagai tindak lanjut atas kejadian tersebut, petugas Sat Samapta Polres Garut langsung membubarkan kegiatan pesta minuman keras yang dilakukan oleh para pemuda di lokasi. Selanjutnya, para pemuda yang diamankan diberikan pembinaan dan imbauan agar tidak mengulangi perbuatannya serta lebih bijak dalam bergaul.
Petugas juga melakukan penyitaan dan pemusnahan minuman keras yang ditemukan di tempat kejadian dengan cara dibuang, guna mencegah potensi gangguan kamtibmas yang lebih luas. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk penegakan hukum sekaligus upaya preventif dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
Kasat Samapta Polres Garut, AKP Ardiyanto, S.H., M.P., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Polres Garut dalam menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif, khususnya pada malam hari yang rawan terhadap gangguan keamanan.
“Patroli dialogis ini tidak hanya sebagai langkah penegakan hukum, tetapi juga upaya preventif untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada Masyarakat Dengan adanya kegiatan patroli rutin ini, diharapkan dapat menekan angka kriminalitas serta mencegah terjadinya tindakan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.” Ujarnya.(*)
Gebyar Budaya Berujung Keluhan, Tokoh Masyarakat Garut: Saat Warga Kesulitan, Anggaran Justru Dihamburkan untuk Kemewahan Sesaat
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Gelaran Gebyar Pesona Budaya Garut (GPBG) 2026 yang digadang-gadang sebagai panggung kebanggaan daerah, justru berubah menjadi sumber keluhan publik. Alih-alih menghadirkan kebanggaan kolektif, acara ini dinilai sarat persoalan, mulai dari dugaan pemborosan anggaran, kemacetan parah, hingga minimnya pelibatan pelaku lokal yang seharusnya menjadi ruh utama kegiatan budaya.
Sorotan tajam datang dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat Garut yang secara terbuka mempertanyakan sensitivitas pemerintah daerah dalam menyusun prioritas kebijakan. Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, pelaksanaan acara dengan nuansa megah dinilai tidak tepat sasaran.
“Ini ironi yang menyakitkan. Di saat masyarakat masih berjibaku dengan kebutuhan hidup, anggaran justru dihambur-hamburkan untuk kemewahan sesaat. Ini bukan hanya soal acara, tapi soal keberpihakan,” tegasnya saat di wawancarai awak media, Sabtu (25/04/2026).
Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Sejumlah warga mengaku tidak merasakan dampak langsung dari kegiatan tersebut, selain justru mengalami gangguan aktivitas harian. Kemacetan menjadi keluhan paling dominan yang muncul selama perhelatan berlangsung. Ruas-ruas jalan utama di pusat Kota Garut lumpuh, arus kendaraan tersendat berjam-jam, dan mobilitas warga terganggu secara signifikan.
Kondisi ini memperlihatkan lemahnya perencanaan teknis, khususnya dalam pengaturan lalu lintas. Tidak adanya koordinasi yang matang dengan pihak terkait, termasuk pelaku transportasi, memperparah situasi di lapangan. Perubahan rute angkutan umum yang dilakukan secara mendadak tanpa sosialisasi memicu kebingungan massal.
Sejumlah sopir angkutan kota mengeluhkan kerugian yang mereka alami. Selain kehilangan waktu akibat terjebak macet, mereka juga harus menanggung pembengkakan biaya operasional, terutama bahan bakar. Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, jumlah penumpang justru menurun karena masyarakat enggan beraktivitas di tengah situasi yang tidak kondusif.
“Biasanya kami bisa dapat beberapa rit dalam sehari, sekarang satu saja sudah syukur. Macet di mana-mana, rute berubah tanpa pemberitahuan. Ini jelas merugikan,” ungkap salah satu sopir dengan nada kecewa.
Fenomena “megat angkot” pun tak terhindarkan. Penumpang dipaksa turun di tengah perjalanan dan berganti kendaraan karena rute yang tidak jelas. Situasi ini tidak hanya menyulitkan, tetapi juga menambah beban biaya bagi masyarakat kecil.
Tak berhenti di situ, kritik juga mengarah pada substansi acara yang dinilai kehilangan esensi. Sebagai event yang mengusung nama budaya Garut, GPBG 2026 justru dianggap gagal memberi ruang yang layak bagi seniman dan pelaku budaya lokal. Banyak pihak menilai bahwa panggung utama lebih didominasi pihak luar, sementara talenta daerah hanya menjadi penonton di rumah sendiri.
Seorang perwakilan komunitas seni di Garut menyebut kondisi ini sebagai bentuk pengabaian terhadap potensi lokal yang selama ini berjuang mengangkat identitas budaya daerah.
“Kalau bukan kita yang menghidupkan budaya Garut, lalu siapa? Tapi kenyataannya, kami justru tidak dilibatkan secara maksimal. Ini bukan sekadar soal tampil atau tidak, tapi soal penghargaan terhadap pelaku budaya lokal,” ujarnya.
Kritik ini membuka pertanyaan besar: untuk siapa sebenarnya acara ini digelar? Jika tujuan utamanya adalah mempromosikan budaya daerah, maka pelibatan pelaku lokal seharusnya menjadi prioritas, bukan sekadar pelengkap.
Di sisi lain, transparansi anggaran juga mulai dipertanyakan. Publik menilai perlu adanya keterbukaan terkait besaran dana yang digunakan, termasuk rincian alokasinya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat luas, bukan sekadar menciptakan euforia sesaat.
Pengamat kebijakan publik di Garut menilai bahwa persoalan ini mencerminkan lemahnya perencanaan strategis dan kurangnya pendekatan partisipatif dalam penyelenggaraan kegiatan berskala besar.
“Event sebesar ini seharusnya dirancang dengan matang, melibatkan berbagai pihak, dan memiliki dampak nyata. Jika yang muncul justru keluhan, maka ada yang keliru sejak awal,” ungkapnya.
Gelombang kritik yang terus menguat menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. Ke depan, masyarakat berharap agar setiap kegiatan tidak hanya berorientasi pada kemegahan, tetapi juga pada kebermanfaatan, keberpihakan, dan keberlanjutan.
GPBG 2026 seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya Garut. Namun jika tidak dikelola dengan bijak, justru berpotensi menjadi contoh bagaimana sebuah agenda besar kehilangan makna di tengah gemerlapnya seremoni.
Kini, publik menunggu langkah konkret dari pemerintah: apakah kritik ini akan dijadikan bahan introspeksi, atau justru berlalu tanpa perubahan berarti. Yang jelas, masyarakat Garut tidak membutuhkan kemewahan sesaat, melainkan kebijakan yang berpihak dan berdampak nyata. (DIX)
Pengaspalan Jalan Desa Sukamanah Digeber, Akses Lintas Jalan Warga Cibucil Kini Lebih Lancar
Bogor,TRIBUNPRIBUMI.com – Pemerintah Desa Sukamanah, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, merealisasikan pembangunan infrastruktur berupa pengaspalan jalan lingkungan pada Tahun Anggaran 2026. Kegiatan tersebut ditandai dengan pemasangan papan informasi proyek di lokasi pekerjaan, tepatnya di Kampung Cibucil RT 002–003 RW 001.
Berdasarkan informasi yang tertera, proyek pengaspalan jalan ini memiliki volume pekerjaan sepanjang 225 meter dengan lebar 2,3 meter dan ketebalan 0,04 meter. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas serta kenyamanan masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari.
Adapun sumber pendanaan berasal dari Dana Desa Tahap I sebesar Rp115.206.000,00 yang juga mencakup kewajiban pajak. Proyek ini dilaksanakan oleh Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa Sukamanah dengan melibatkan unsur masyarakat setempat.
Kepala Desa Sukamanah, Hj. Hadi Sutardi, menyampaikan bahwa pembangunan jalan lingkungan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah desa dalam meningkatkan kualitas infrastruktur yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Kami berharap dengan adanya pengaspalan jalan ini, mobilitas warga menjadi lebih lancar, baik untuk aktivitas sehari-hari maupun kegiatan ekonomi. Ini juga sebagai bentuk upaya pemerataan pembangunan di wilayah desa,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya transparansi dalam setiap pelaksanaan program desa. “Papan kegiatan yang dipasang di lokasi merupakan bentuk keterbukaan informasi kepada masyarakat terkait penggunaan anggaran Dana Desa. Kami ingin masyarakat mengetahui dan ikut mengawasi jalannya pembangunan,” tambahnya.
Pemerintah desa berharap pembangunan jalan lingkungan ini dapat memberikan dampak positif, terutama dalam menunjang mobilitas warga, memperlancar distribusi hasil usaha, serta meningkatkan kualitas infrastruktur desa secara keseluruhan.
Dengan adanya pembangunan ini, diharapkan semangat “Desa Membangun Indonesia” dapat terus terwujud melalui peningkatan sarana dan prasarana yang merata di wilayah pedesaan.(REZZA)