![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Di tengah tantangan pengelolaan limbah industri yang kerap menjadi isu lingkungan di berbagai daerah, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut, Jawa Barat justru mampu melihat peluang emas. Melalui kolaborasi strategis dengan Pupuk Organik Mandraguna, Lapas Garut sukses mengimplementasikan model ekonomi sirkular yang mengubah limbah industri penyamakan kulit menjadi sumber daya bernilai guna, sekaligus menciptakan ekosistem pembinaan warga binaan yang produktif dan berkelanjutan.
Menjawab Tantangan Lingkungan melalui Inovasi
Kabupaten Garut, yang secara historis dikenal sebagai pusat industri kulit nasional, selama ini menghadapi beban ekologis akibat sisa-sisa produksi penyamakan kulit yang menumpuk. Selama ini, limbah tersebut seringkali dipandang sebagai masalah tanpa solusi yang berarti bagi lingkungan. Namun, Lapas Kelas IIA Garut mengambil inisiatif untuk mengubah paradigma tersebut.
Melalui pendekatan yang terintegrasi, Lapas Garut menjadikan limbah kulit bukan lagi sebagai polutan, melainkan sebagai bahan baku utama dalam siklus produksi yang bermanfaat. Inovasi ini menjadi langkah konkret dalam mendukung program lingkungan pemerintah sekaligus mengedepankan aspek edukasi bagi warga binaan di dalam lapas.
Transformasi Pembinaan yang Relevan
Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, A.Md., S.H., IP., M.Si., menekankan bahwa program ini merupakan inti dari transformasi sistem pemasyarakatan masa kini. Menurutnya, masa hukuman warga binaan harus diisi dengan kegiatan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan praktis yang sangat dicari di dunia usaha saat ini.
“Kami tidak ingin pembinaan hanya sebatas formalitas. Melalui kolaborasi dengan Pupuk Organik Mandraguna, kami ingin menghadirkan model pengelolaan limbah yang konkret. Warga binaan dilatih untuk memahami rantai ekonomi sirkular, mulai dari pemilahan limbah hingga menjadi produk jadi. Harapannya, saat mereka bebas nanti, mereka memiliki keahlian yang relevan, berdaya saing, dan berwawasan lingkungan,” jelas Rusdedy saat di wawancarai awak media melalui sambungan Whatsapp miliknya, Jum’at (10/07/2026).
Mekanisme Ekonomi Sirkular
Penerapan model ini dilakukan melalui alur yang efisien dan ramah lingkungan. Limbah kulit yang diperoleh diolah menjadi media budi daya maggot. Maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF) ini memiliki potensi luar biasa sebagai sumber pakan ternak tinggi protein.
Setelah fase budi daya maggot selesai, sisa media atau residu yang dihasilkan tidak dibuang begitu saja. Residu tersebut kemudian diproses lebih lanjut menjadi pupuk organik berkualitas tinggi. Pupuk ini selanjutnya dimanfaatkan langsung di area lingkungan lapas untuk mendukung program ketahanan pangan, mulai dari tanaman hortikultura hingga sektor peternakan yang dikelola secara mandiri oleh warga binaan.
Apresiasi Sektor Swasta dan Harapan Masa Depan
Owner Pupuk Organik Mandraguna Pusaka Indonesia, H. Muhammad Rian, yang menjadi mitra utama dalam proyek ini, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran Lapas Garut. Menurutnya, langkah ini membuktikan bahwa lembaga negara dapat menjadi motor penggerak ekonomi kreatif berbasis kelestarian lingkungan.
“Sinergi ini adalah contoh nyata bagaimana ekonomi sirkular bekerja. Kami berharap model ini bisa melahirkan ekosistem usaha yang terintegrasi di masa depan. Transfer pengetahuan yang diberikan kepada warga binaan tidak hanya terbatas pada teknis produksi, tetapi juga pola pikir untuk menciptakan nilai tambah dari sesuatu yang dianggap tidak berharga,” kata H. Muhammad Rian.
Lebih jauh, ia berharap kolaborasi ini bisa menjadi cikal bakal terbentuknya pusat pelatihan terpadu bagi masyarakat sekitar, yang tidak hanya mengandalkan kemitraan dengan lapas, tetapi juga melibatkan komunitas lokal.
Inspirasi Nasional
Keberhasilan Lapas Kelas IIA Garut dalam mengintegrasikan fungsi pembinaan dengan solusi lingkungan ini diharapkan dapat menjadi pilot project bagi lembaga pemasyarakatan lainnya di seluruh Indonesia. Inovasi ini membuktikan bahwa keterbatasan di balik jeruji besi bukanlah penghalang untuk berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.
Dengan semangat yang terus menyala, Lapas Garut membuktikan komitmennya untuk tidak sekadar menjadi tempat penahanan, melainkan menjadi pusat pemberdayaan manusia dan solusi bagi persoalan lingkungan. Ke depan, program ini diproyeksikan akan terus dikembangkan guna memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kemandirian ekonomi warga binaan, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan hidup di Kabupaten Garut. (*)













Leave a Reply