Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

Kades Tambakbaya Yusron Pimpin Langsung Padat Karya Tunai, Tegaskan Pemimpin Harus Memberi Contoh dan Turun Bersama Warga

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Program Padat Karya Tunai (PKT) yang dilaksanakan Pemerintah Desa Tambakbaya, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat memasuki hari kedua dengan semangat gotong royong yang semakin kuat. Kegiatan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat tersebut menjadi bukti nyata bahwa pembangunan desa dapat berjalan optimal ketika seluruh elemen bersatu dan bekerja bersama demi kepentingan masyarakat.

Kepala Desa Tambakbaya, Yusron, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran yang dimiliki pemerintah, melainkan oleh tingkat partisipasi masyarakat dan kebersamaan seluruh unsur yang ada di desa.

Dalam pelaksanaan Program Padat Karya Tunai tersebut, Yusron terlihat turun langsung ke lapangan bersama warga. Ia tidak hanya memantau jalannya pekerjaan, tetapi ikut terlibat dalam berbagai aktivitas yang sedang dilaksanakan masyarakat.

“Hari kedua Program Padat Karya Tunai ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa semangat gotong royong masyarakat Desa Tambakbaya masih sangat kuat. Kami bersama BPD, LPM, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, perangkat desa, dan warga turun langsung bergotong royong demi kemajuan desa,” ujar Yusron..

Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan bagi masyarakat. Karena itu, dirinya memilih ikut bekerja di lapangan dibanding hanya memberikan instruksi dari balik meja..

“Saya selalu berusaha memberikan contoh kepada masyarakat. Sebagai kepala desa, saya tidak ingin hanya tunjuk-tunjuk pekerjaan. Saya ikut turun ke lapangan, ikut bekerja bersama warga. Karena pemimpin harus bisa merasakan langsung bagaimana proses pembangunan berlangsung dan bagaimana semangat masyarakat yang terlibat di dalamnya,” tegasnya.

Program Padat Karya Tunai sendiri merupakan salah satu program yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa melalui kegiatan pembangunan yang melibatkan tenaga kerja lokal. Selain meningkatkan kualitas infrastruktur desa, program ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat karena mampu membuka kesempatan kerja dan menambah penghasilan warga..

Yusron menjelaskan bahwa pembangunan yang dilaksanakan melalui pola padat karya memiliki banyak manfaat. Selain hasil pembangunan fisik yang dapat dirasakan langsung masyarakat, program tersebut juga mampu memperkuat hubungan sosial antarwarga

“Kami ingin pembangunan ini tidak hanya menghasilkan sarana dan prasarana yang baik, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan. Ketika masyarakat bekerja bersama, muncul rasa memiliki terhadap hasil pembangunan sehingga nantinya mereka juga akan ikut menjaga dan merawatnya,” katanya.

Suasana penuh kebersamaan terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Warga dari berbagai kalangan, baik pemuda, orang tua, perangkat desa maupun tokoh masyarakat tampak bekerja tanpa mengenal lelah. Mereka saling membantu dan bahu – membahu menyelesaikan pekerjaan yang menjadi target program tersebut.

Kehadiran unsur keamanan dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas juga semakin memperkuat sinergitas antara pemerintah desa, aparat, dan masyarakat. Keharmonisan yang terjalin selama kegiatan berlangsung menjadi cerminan kuatnya kolaborasi dalam membangun desa.

Yusron menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, keberhasilan pembangunan desa merupakan hasil kerja bersama, bukan semata-mata keberhasilan pemerintah desa.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga, BPD, LPM, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, para ketua RT dan RW, serta semua pihak yang telah menunjukkan kepedulian dan semangat gotong royong. Tanpa dukungan mereka, pembangunan tidak akan berjalan maksimal,” ungkapnya.

Sejumlah warga yang hadir mengaku bangga dan termotivasi melihat kepala desa mereka bekerja langsung di lapangan. Menurut mereka, sikap Yusron menjadi contoh positif bagi masyarakat sekaligus membangun kepercayaan bahwa pemerintah desa benar-benar hadir dan bekerja untuk rakyat.

“Kami merasa senang karena Pak Kades tidak hanya datang melihat-lihat. Beliau ikut bekerja bersama kami. Hal seperti ini membuat masyarakat semakin bersemangat dan merasa dihargai,” kata salah seorang warga.

Lebih lanjut, Yusron menegaskan bahwa budaya gotong royong harus terus dipertahankan sebagai warisan luhur bangsa yang memiliki nilai sosial sangat tinggi. Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, menurutnya semangat kebersamaan tidak boleh hilang dari kehidupan masyarakat desa.

Ia berharap Program Padat Karya Tunai tidak hanya menghasilkan pembangunan fisik semata, tetapi juga mampu menumbuhkan kembali nilai-nilai solidaritas sosial yang menjadi kekuatan utama masyarakat pedesaan.

“Kami ingin Desa Tambakbaya terus maju dengan mengedepankan kebersamaan. Ketika masyarakat kompak, pemerintah desa bekerja maksimal, dan seluruh unsur bersatu, maka berbagai program pembangunan akan lebih mudah dilaksanakan. Gotong royong adalah kekuatan terbesar yang harus terus kita jaga,” ujarnya.

Program Padat Karya Tunai yang memasuki hari kedua ini pun mendapat sambutan positif dari masyarakat. Selain membantu mempercepat pembangunan, program tersebut dinilai mampu mempererat hubungan sosial antarwarga serta menciptakan rasa tanggung jawab bersama terhadap pembangunan desa.

Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, Pemerintah Desa Tambakbaya optimistis berbagai program pembangunan yang telah direncanakan dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kehadiran kepala desa yang turun langsung bekerja bersama warga menjadi simbol bahwa pembangunan desa bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan kerja kolektif seluruh elemen masyarakat.

Melalui Program Padat Karya Tunai ini, Desa Tambakbaya menunjukkan bahwa gotong royong masih menjadi ruh pembangunan desa. Ketika pemimpin dan masyarakat berjalan beriringan, pembangunan bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan gerakan bersama untuk mewujudkan desa yang maju, mandiri, dan sejahtera. (DIX)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *