![]()
Jakarta,TRIBUNPRIBUMI.com – Peristiwa cekcok antara seorang petugas keamanan (satpam) dengan pengemudi mobil Toyota Alphard pada, Jum’at (24/07/2026) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, berubah menjadi sorotan nasional. Bukan semata karena dugaan pelanggaran lalu lintas yang menjadi awal persoalan, melainkan karena berkembangnya pertanyaan publik mengenai perlindungan terhadap petugas keamanan yang sedang menjalankan tugas serta kesetaraan perlakuan di hadapan hukum.
Kasus ini menjadi viral setelah beredar rekaman CCTV dan video klarifikasi dari petugas keamanan bernama Vicol Harefa. Dalam keterangannya, Vicol mengaku justru menjadi pihak yang disalahkan setelah menegur pengemudi Toyota Alphard yang diduga menerobos lampu penyeberangan ketika pejalan kaki sedang menyeberang di zebra cross.
Menurut pengakuannya, dirinya dipanggil ke pos polisi bersama pengemudi kendaraan. Alih-alih memperoleh perlindungan sebagai petugas yang sedang menjalankan tugas, ia mengaku mendapat penilaian bahwa dirinya telah melakukan kesalahan karena mengetuk kaca mobil saat memberikan teguran.
Pernyataan tersebut memunculkan reaksi luas di tengah masyarakat. Banyak pihak mempertanyakan sejauh mana petugas keamanan memiliki ruang untuk bertindak ketika melihat potensi pelanggaran yang dapat membahayakan keselamatan pengguna jalan lainnya, khususnya pejalan kaki.
Dalam video klarifikasi yang beredar, Vicol mengaku berada dalam posisi yang sangat tertekan. Ia menyebut dirinya sempat diancam akan dilaporkan kepada perusahaan penyedia jasa keamanan tempatnya bekerja sehingga berpotensi kehilangan pekerjaan.
Merasa tidak memiliki pilihan lain, ia mengaku akhirnya memilih meminta maaf kepada pengemudi. Bahkan, ia bersujud sebagai bentuk permohonan maaf agar persoalan tidak semakin panjang.
Pengakuan tersebut memicu simpati masyarakat. Banyak warganet menilai tindakan bersujud yang dilakukan seorang petugas keamanan saat menjalankan tugas merupakan gambaran betapa rentannya posisi pekerja di lapangan ketika berhadapan dengan pihak yang dianggap memiliki pengaruh lebih besar
Kontroversi semakin berkembang setelah Vicol mengklaim dirinya masih menerima perlakuan yang tidak menyenangkan, mulai dari dimaki, diminta melakukan push-up, hingga kerah bajunya sempat dipegang ketika hendak meninggalkan pos polisi. Klaim tersebut kini menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang masih menjadi perhatian publik.
Sementara itu, rekaman kamera pengawas (CCTV) yang beredar memperlihatkan detik-detik awal kejadian. Dalam rekaman tersebut tampak sejumlah pejalan kaki sedang menunggu lampu penyeberangan. Setelah lampu berubah dan kendaraan lain berhenti sebelum zebra cross, seorang petugas keamanan mulai membantu penyeberangan warga.
Pada saat bersamaan, sebuah mobil berwarna hitam terlihat tetap melaju melintasi area penyeberangan. Petugas kemudian memberikan isyarat agar kendaraan berhenti sebelum akhirnya mobil tersebut menepi dan terjadi adu argumentasi.
Peristiwa tersebut tidak lagi dipandang sebagai persoalan sederhana antara dua individu. Kasus ini berkembang menjadi diskursus mengenai penegakan aturan lalu lintas, penghormatan terhadap hak pejalan kaki, perlindungan terhadap petugas keamanan, serta pentingnya kesetaraan perlakuan bagi seluruh warga negara.
Dalam negara hukum, setiap orang memiliki kedudukan yang sama di depan hukum. Prinsip tersebut menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum. Karena itu, berbagai kalangan berharap proses penanganan kasus ini dilakukan secara objektif, profesional, transparan, dan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di sisi lain, kepolisian telah menyampaikan bahwa proses pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang terlibat akan dilakukan guna memperoleh gambaran utuh mengenai kronologi kejadian. Langkah tersebut diharapkan mampu menjawab berbagai pertanyaan yang berkembang di tengah masyarakat.
Kasus Bundaran HI juga menjadi pengingat bahwa keselamatan pejalan kaki merupakan hak yang harus dihormati oleh setiap pengguna jalan. Ketika lampu penyeberangan telah memberikan hak prioritas kepada pejalan kaki, seluruh pengendara berkewajiban mematuhi aturan demi mencegah terjadinya kecelakaan.
Publik kini menantikan penyelesaian perkara ini secara adil dan terbuka. Tidak hanya untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi, tetapi juga untuk memastikan bahwa siapa pun yang menjalankan tugas menjaga ketertiban dan keselamatan masyarakat memperoleh perlindungan yang layak, tanpa memandang jabatan, status sosial, maupun jenis kendaraan yang digunakan.
Kasus ini menjadi ujian penting bagi penegakan hukum yang berkeadilan. Masyarakat berharap seluruh fakta diungkap secara terang, seluruh pihak diberi kesempatan menyampaikan keterangannya, dan setiap tindakan dinilai berdasarkan bukti, sehingga kepercayaan publik terhadap supremasi hukum tetap terjaga. (BES)












Leave a Reply