Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

WCPD 2026 Jadi Panggung Inspirasi, Wahyu Widyatmoko Tegaskan Pentingnya Hak dan Kesetaraan Anak Disabilitas

Loading

Bandung,TRIBUNPRIBUMI.com – Peringatan Hari Cerebral Palsy Sedunia atau World Cerebral Palsy Day (WCPD) 2026 menjadi panggung inspirasi sekaligus pengingat pentingnya perlindungan, kepedulian, dan kesetaraan hak bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Suasana haru, bangga, dan penuh kekaguman mewarnai kegiatan yang digelar di Hotel Horison Bandung, Minggu (08/11/2026). Melalui beragam pertunjukan seni, mulai dari tarian, nyanyian, permainan angklung, pembacaan puisi hingga peragaan busana, anak-anak penyandang cerebral palsy memperlihatkan bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk membatasi kreativitas, kemampuan, dan cita-cita.

Mengusung tema “Kolaborasi Kebaikan Ruang Senyum Anak Istimewa”, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda peringatan tahunan. Lebih dari itu, WCPD 2026 menjadi ruang untuk membangun solidaritas, memperluas kesadaran masyarakat, serta memperjuangkan lingkungan sosial yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPRD Kota Cimahi, Wahyu Widyatmoko, S.H., yang memberikan perhatian terhadap pentingnya pemenuhan hak, perlindungan, serta kesempatan yang setara bagi anak-anak penyandang cerebral palsy.

Peringatan WCPD 2026 diikuti sekitar 1.400 peserta. Jumlah tersebut terdiri atas 500 penyandang cerebral palsy dari berbagai kelompok usia dan 900 pendamping. Mereka berasal dari lima wilayah, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan Kabupaten Sumedang.

Anak Disabilitas Bukan Sekadar Penerima Bantuan

Berbagai penampilan yang disuguhkan menjadi bukti nyata bahwa anak-anak penyandang cerebral palsy memiliki potensi yang patut dihargai. Mereka tampil dengan penuh semangat melalui tarian, nyanyian, permainan angklung, pembacaan puisi, hingga peragaan busana.

Tidak hanya menampilkan kemampuan seni, kegiatan ini juga memberikan ruang pemberdayaan ekonomi melalui stan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Beragam produk kreatif, seperti lukisan, buku, kerajinan rajut, serta hasil karya lainnya dipamerkan kepada para pengunjung. Kehadiran produk tersebut memperlihatkan bahwa komunitas penyandang disabilitas dan keluarganya juga mempunyai kemampuan untuk berkarya, mengembangkan usaha, serta memberikan kontribusi terhadap perekonomian masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Wahyu Widyatmoko menekankan bahwa dukungan terhadap anak penyandang cerebral palsy membutuhkan kolaborasi yang kuat antara keluarga, komunitas, pemerintah, dan tenaga medis.

Menurutnya, kepedulian terhadap penyandang disabilitas tidak boleh hanya muncul ketika ada kegiatan peringatan atau acara seremonial. Mereka membutuhkan perhatian yang berkesinambungan, pelayanan yang memadai, serta kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Wahyu juga menegaskan bahwa DPRD Kota Cimahi berupaya mendorong pemerintah daerah agar menghadirkan regulasi yang memberikan perlindungan dan keberpihakan nyata kepada penyandang disabilitas.

Sebab, pengakuan terhadap hak-hak penyandang disabilitas tidak cukup hanya disampaikan melalui pernyataan kepedulian. Pengakuan tersebut harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan konkret, program yang tepat sasaran, serta penyediaan fasilitas publik dan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Pemutakhiran Data dan Penguatan Pelayanan

Sementara itu, Farhan Helmy dari Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat Kota Bandung menyampaikan bahwa pihaknya bersama Dinas Sosial Kota Bandung terus melakukan pembenahan dan pemutakhiran data penyandang disabilitas.

Langkah tersebut dinilai penting agar kebutuhan penyandang disabilitas dapat teridentifikasi secara lebih akurat sehingga pelayanan dan program pemerintah dapat diberikan secara tepat sasaran.

Selain pemutakhiran data, penguatan koordinasi juga terus dilakukan untuk memobilisasi dan melengkapi fasilitas pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh penyandang disabilitas.

Dengan demikian, keberadaan data yang akurat diharapkan dapat menjadi dasar dalam menyusun kebijakan dan meningkatkan kualitas pelayanan bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.

WCPD Menjadi Ruang Solidaritas Keluarga

Ketua Yayasan Anak Bunda Istimewa sekaligus Pembina Komunitas Keluarga Cerebral Palsy Bandung Raya, Rika Yulianti Windriani, S.Pd., mengatakan bahwa peringatan WCPD ke-9 menjadi momentum penting bagi keluarga penyandang cerebral palsy untuk saling bertemu, berbagi pengalaman, serta memperkuat dukungan.

Menurut Rika, kegiatan tersebut bukan hanya perayaan tahunan, melainkan juga sarana untuk membuka mata masyarakat bahwa anak-anak penyandang cerebral palsy memiliki potensi, kemampuan, dan hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan dalam kehidupan sosial.

Kehadiran pemerintah dan unsur legislatif juga menjadi hal penting. Dengan hadir secara langsung, para pengambil kebijakan dapat melihat kondisi nyata, tantangan, serta berbagai kebutuhan yang selama ini dihadapi oleh keluarga penyandang disabilitas.

Ia berharap aspirasi yang disampaikan komunitas tidak berhenti sebatas harapan dan wacana. Sebaliknya, aspirasi tersebut harus dapat diterjemahkan menjadi kebijakan, peraturan, dan program pemerintah yang benar-benar memberikan manfaat.

Rika juga berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan jangkauan yang lebih luas, bahkan hingga tingkat provinsi dan nasional.

Kesetaraan Tidak Boleh Berhenti pada Slogan

Peringatan WCPD 2026 memberikan pesan kuat bahwa anak-anak penyandang cerebral palsy bukan sekadar kelompok masyarakat yang membutuhkan belas kasihan ataupun bantuan.

Mereka adalah individu yang memiliki martabat, hak, kemampuan, kreativitas, dan masa depan. Karena itu, sudah seharusnya masyarakat memberikan ruang yang adil agar mereka dapat menunjukkan kemampuan serta mengambil bagian dalam berbagai aktivitas kehidupan.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan bahwa pembangunan masyarakat inklusif tidak cukup hanya dengan menghadirkan acara seremonial.

Diperlukan langkah nyata melalui kebijakan perlindungan, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, fasilitas publik yang ramah disabilitas, serta pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

Kehadiran Ketua DPRD Kota Cimahi, Wahyu Widyatmoko, dalam peringatan tersebut diharapkan semakin memperkuat perhatian legislatif terhadap perjuangan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas.

Sebab, ukuran keberhasilan sebuah masyarakat bukan hanya dilihat dari kemajuan pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat mampu memberikan perlindungan, penghormatan, dan kesempatan yang setara kepada setiap warganya.

WCPD 2026 mengirimkan pesan bahwa setiap anak berhak tersenyum, berkarya, bermimpi, dan memperoleh masa depan yang setara tanpa dibatasi oleh kondisi fisiknya. (DVN)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *