![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan semestinya berhenti sebagai agenda seremonial. Di balik peringatan tersebut terdapat pesan penting tentang bagaimana umat Islam menempatkan keikhlasan, amanah, kebersamaan dan kemaslahatan masyarakat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan KH. Abdul Mujib, M.Ag., atau yang akrab disapa Ceng Mujib, saat menghadiri sekaligus memberikan tausiah dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan peresmian Asrama Putra Pondok Pesantren Bidayatul Faizin, di Kampung Negla, Desa Cipangramatan, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa malam, (15/09/2026).
Di hadapan jamaah dan keluarga besar pesantren, Ceng Mujib mengajak masyarakat untuk melihat kembali makna sebuah perjuangan. Menurutnya, perjuangan dalam kehidupan, termasuk dalam organisasi, pendidikan, kepemimpinan maupun pengabdian kepada masyarakat, akan memiliki nilai apabila dilakukan dengan niat yang tulus karena Allah SWT.
Ia menekankan pentingnya menjalankan segala amanah dengan prinsip lillahita’ala, bukan semata-mata karena mengejar keuntungan pribadi, materi ataupun pengakuan dari manusia.Pesan tersebut, menjadi salah satu bagian penting dalam tausiah yang disampaikannya.
Keikhlasan Menjadi Dasar Sebuah Pengabdian
Ceng Mujib yang juga dikenal sebagai mubalig sekaligus pengurus Pesantren Fauzan mengingatkan bahwa perjalanan pengabdian tidak selalu mudah,seseorang yang memilih jalan pengabdian akan berhadapan dengan berbagai tantangan. Tidak semua perjuangan mendapatkan penghargaan, tidak semua kebaikan langsung mendapatkan balasan, dan tidak setiap pekerjaan yang dilakukan untuk masyarakat akan selalu diketahui banyak orang.
Karena itu, menurut pesan yang disampaikannya, keikhlasan menjadi kekuatan penting agar seseorang tetap mampu menjalankan amanah tanpa mudah kecewa ketika tidak mendapatkan apresiasi.
Ketika orientasi utama seseorang adalah mencari ridha Allah SWT, maka ukuran keberhasilannya bukan sekadar pujian manusia.
Semangat tersebut dinilai sangat relevan diterapkan dalam kehidupan sosial saat ini, terutama bagi mereka yang mendapatkan kepercayaan untuk memimpin atau melayani masyarakat.
Jabatan Bukan Sekadar Kedudukan
Dalam tausiah tersebut, Ceng Mujib juga memberikan pesan kepada para pemimpin, pejabat, ulama, guru, tokoh masyarakat serta mereka yang dipercaya mengemban amanah.
Ia mengingatkan bahwa jabatan pada hakikatnya merupakan tanggung jawab.
Kewenangan yang diberikan kepada seseorang semestinya digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri.
Seorang pemimpin dituntut mampu menempatkan kepentingan masyarakat sebagai salah satu pertimbangan utama dalam setiap keputusan.Begitu pula seorang guru memiliki tanggung jawab untuk membentuk generasi, sementara ulama dan tokoh masyarakat memiliki peran dalam memberikan keteladanan serta menjaga kehidupan sosial agar tetap berada dalam nilai-nilai kebaikan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa semakin besar amanah yang diterima seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dijalankan.
Pesan untuk Generasi Muda dan Para Santri
Momentum peresmian Asrama Putra Pondok Pesantren Bidayatul Faizin juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.
Keberadaan asrama bukan hanya berkaitan dengan fasilitas tempat tinggal para santri. Lebih jauh, lingkungan pesantren dapat menjadi ruang pembentukan karakter dan kedisiplinan generasi muda.
Para santri tidak hanya dituntut untuk memahami ilmu agama, tetapi juga diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan.Kejujuran, kesederhanaan, kedisiplinan, menghormati guru, menghargai sesama serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari pendidikan karakter yang sangat penting.
Dalam konteks tersebut, pesan Ceng Mujib tentang keikhlasan dan amanah menjadi relevan untuk ditanamkan sejak dini kepada generasi muda,santri yang kelak terjun ke tengah masyarakat diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan intelektual dan keagamaan, tetapi juga mempunyai karakter yang kuat serta kesadaran untuk memberikan manfaat bagi lingkungan.
Maulid Nabi sebagai Momentum Introspeksi
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga dapat menjadi momentum untuk melakukan introspeksi,mengenang kelahiran Rasulullah SAW bukan hanya tentang mengetahui sejarah, tetapi juga mengambil nilai-nilai keteladanan yang dapat diterapkan dalam kehidupan.
Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang amanah, jujur, sabar dan memiliki kepedulian terhadap sesama.Nilai-nilai tersebut dapat menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Di sisi lain,Ceng Mujib mengajak jamaah agar semangat memperingati Maulid Nabi diteruskan dalam bentuk perbuatan nyata.
Artinya, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak berhenti pada ucapan, tetapi tercermin melalui akhlak, perilaku dan kepedulian terhadap sesama.
Memperkuat Kemandirian dan Kebersamaan
Selain berbicara mengenai keikhlasan dan amanah, Ceng Mujib juga mengajak masyarakat Garut untuk memperkuat kemandirian dan kebersamaan.
Menurut pesan yang disampaikannya, masyarakat memiliki peran penting dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.
Kebersamaan menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
Perbedaan pandangan dan latar belakang hendaknya tidak menjadi penghalang untuk membangun persaudaraan.
Justru melalui kebersamaan, masyarakat dapat saling membantu, saling mengingatkan dan saling menguatkan.
Semangat gotong royong juga menjadi nilai yang tidak kalah penting untuk terus dipertahankan.
Pengabdian Tidak Selalu Harus Terlihat
Salah satu pesan moral yang kuat dari tausiah tersebut adalah pentingnya memahami bahwa pengabdian tidak selalu harus terlihat,ada banyak bentuk kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui banyak orang.
Bagi Ceng Mujib, selama dilakukan dengan niat yang baik dan ikhlas karena Allah SWT, sebuah perjuangan tetap memiliki nilai.
Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian bukan sekadar tentang seberapa banyak seseorang mendapatkan penghargaan, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap seperti itu sangat diperlukan agar setiap orang dapat menjalankan perannya tanpa menjadikan kepentingan pribadi sebagai satu-satunya tujuan.
Istiqamah Menjadi Kunci
Ceng Mujib juga mengajak jamaah untuk istiqamah dalam kebaikan.Menurutnya, berbuat baik mungkin mudah dilakukan ketika keadaan mendukung. Namun mempertahankan kebaikan dalam situasi sulit membutuhkan kesabaran dan keteguhan.
Karena itu, masyarakat diharapkan tidak mudah menyerah dalam menjalankan perjuangan.Apapun profesi dan kedudukan seseorang, selama memiliki niat yang baik, bekerja dengan sungguh-sungguh dan menjaga amanah, maka perjuangan tersebut dapat memberikan manfaat.
Pesan itu juga menjadi penting bagi para pengurus dan pengelola pesantren yang terus berupaya mengembangkan lembaga pendidikan keagamaan.
Pembangunan fisik seperti asrama hanyalah salah satu bagian dari perjalanan panjang. Tantangan berikutnya adalah bagaimana fasilitas tersebut dapat benar-benar menunjang proses pendidikan dan melahirkan generasi yang memiliki ilmu serta akhlak.
Dari Cikajang untuk Kemajuan Umat
Rangkaian Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan peresmian Asrama Putra Pondok Pesantren Bidayatul Faizin di Kampung Negla menjadi momentum yang sarat dengan pesan moral.Dari kegiatan tersebut, masyarakat kembali diingatkan bahwa pembangunan umat tidak hanya membutuhkan fasilitas fisik, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki integritas, keikhlasan dan kepedulian.
Pesan Ceng Mujib menjadi refleksi bahwa pengabdian tidak semestinya hanya diukur dari apa yang diperoleh seseorang, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Para pemimpin diingatkan tentang amanah. Para guru dan ulama diingatkan tentang tanggung jawab mendidik. Para santri diberikan teladan tentang pentingnya ilmu dan akhlak. Sementara masyarakat diajak untuk menjaga persaudaraan dan kebersamaan.
Pada akhirnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan tahunan yang selesai ketika acara berakhir.Lebih dari itu, semangat Maulid diharapkan dapat hidup dalam keseharian masyarakat—melalui kejujuran, kepedulian, ketulusan, amanah dan kesediaan untuk terus berbuat baik.
Sebab, pengabdian yang dilakukan dengan hati yang ikhlas tidak selalu membutuhkan panggung dan tepuk tangan.Yang terpenting adalah tetap bekerja, tetap berbuat baik dan tetap memberikan manfaat, meskipun tidak selalu terlihat oleh manusia.
Itulah salah satu esensi keteladanan yang dapat dipetik dari momentum Maulid Nabi: bekerja dengan sungguh-sungguh, mengabdi dengan ikhlas, menjaga amanah dan menghadirkan manfaat bagi sesama. (DIX)












Leave a Reply