![]()
Sorong,TRIBUNPRIBUMI.com – Brigjen Pol. Dr. Hengki Haryadi, S.I.K., M.H., kini mengemban amanah baru sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua Barat Daya.Perwira tinggi Polri tersebut sebelumnya menjabat Wakapolda Riau. Penunjukan Hengki sebagai Kapolda Papua Barat Daya merupakan bagian dari rotasi dan mutasi sejumlah perwira tinggi serta perwira menengah Polri berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1877/VIII/KEP./2026 tertanggal 30 Agustus 2026.
Hengki menggantikan Brigjen Pol. Yulius Audie Sonny Latuheru yang selanjutnya mendapat penugasan sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri.
Pergantian tersebut kemudian ditandai dengan proses serah terima jabatan. Pada 9 September 2026, Hengki telah menjalankan tugasnya sebagai Kapolda Papua Barat Daya dalam agenda serah terima pataka di Mapolda Papua Barat Daya, Aimas, Kabupaten Sorong.
Latar Belakang dan Karier Kepolisian
Hengki Haryadi dikenal sebagai perwira yang memiliki latar belakang panjang di bidang reserse dan penegakan hukum.
Ia lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 16 Oktober 1974 dan merupakan alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1996. Sebelum menduduki sejumlah jabatan strategis di wilayah Jakarta maupun tingkat Mabes Polri, Hengki menjalani berbagai penugasan di bidang operasional dan penyidikan.
Kariernya kemudian berkembang di lingkungan Polda Metro Jaya. Ia pernah menduduki sejumlah posisi, termasuk Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, Kapolres KP3 Tanjung Priok,Wadirreskrimsus Polda Metro Jaya, Kapolres Metro Jakarta Barat, Kapolres Metro Jakarta Pusat, hingga Dirreskrimum Polda Metro Jaya.
Sebelum dipercaya menjadi Wakapolda Riau, Hengki juga pernah bertugas sebagai penyidik tindak pidana utama di lingkungan Bareskrim Polri.
Rekam penugasan tersebut membuat namanya cukup dikenal, khususnya ketika menangani sejumlah perkara kriminal dan kasus yang mendapat perhatian publik.
Nama Hengki Mencuat Saat Berhadapan dengan Hercules
Salah satu bagian yang paling banyak dikaitkan dengan perjalanan karier Hengki adalah penanganan kasus yang melibatkan Rosario de Marshall atau Hercules.
Pada 2013, ketika menjabat Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, Hengki bersama jajaran kepolisian terlibat dalam penangkapan Hercules dan sejumlah anak buahnya terkait perkara pemerasan serta dugaan tindak kekerasan. Sejumlah awak media juga mencatat keterlibatan Hengki dalam penangkapan Hercules pada periode tersebut.
Namun,disitu catatan sejumlah awak media menunjukkan bahwa kisah penangkapan Hercules tidak berhenti pada satu kejadian. Suatu contoh,Detikcom mencatat Hercules kembali ditangkap pada November 2018 ketika Hengki menjabat Kapolres Metro Jakarta Barat. Penangkapan itu berkaitan dengan perkara pendudukan lahan di kawasan Kalideres, Jakarta Barat.
Sejumlah pemberitaan bahkan menyebut Hengki bersama tim kepolisian terlibat dalam penangkapan Hercules sebanyak tiga kali, termasuk peristiwa pada 2013 yang berlangsung dalam beberapa tahapan penanganan perkara. Karena itu, penyebutan jumlah penangkapan perlu ditempatkan sesuai kronologi dan sumber yang digunakan.
Tidak Hanya Menangani Kasus Premanisme
Pengalaman Hengki dalam penegakan hukum tidak hanya berkaitan dengan perkara yang melibatkan kelompok preman.
Saat menjalankan tugas di sejumlah satuan reserse, ia juga pernah menangani perkara korupsi, pungutan liar, serta berbagai kasus kriminal yang menjadi perhatian publik.
Pengalaman panjang di bidang penyidikan tersebut menjadi salah satu bagian dari rekam jejak yang melekat pada dirinya sebelum memperoleh sejumlah penugasan sebagai pimpinan kewilayahan.
Dengan pengalaman tersebut, penugasan sebagai Kapolda Papua Barat Daya membawa tanggung jawab yang berbeda. Ia tidak hanya dituntut menjalankan fungsi penegakan hukum, tetapi juga memimpin institusi kepolisian di sebuah provinsi baru dengan karakteristik geografis, sosial, dan keamanan yang beragam.
Tantangan Baru di Papua Barat Daya
Sebagai Kapolda Papua Barat Daya, Hengki kini bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan tugas kepolisian di wilayah tersebut.
Pergantian kepemimpinan di Polda Papua Barat Daya menjadi bagian dari proses pembinaan dan pengembangan karier personel Polri. Pihak kepolisian menyebut rotasi dan mutasi sebagai bagian dari kebutuhan organisasi serta pemberian tanggung jawab baru kepada para perwira.
Bagi Hengki, pengalaman panjang di bidang reserse menjadi salah satu modal pengalaman dalam menjalankan tugas barunya. Namun, karakter tugas sebagai Kapolda memiliki ruang lingkup yang jauh lebih luas dibandingkan ketika dirinya bertugas sebagai pejabat reserse.
Kini perhatian publik akan tertuju pada bagaimana kepemimpinan Hengki diterapkan dalam membangun organisasi, menjaga keamanan, memperkuat pelayanan kepada masyarakat, serta menjalankan penegakan hukum di Papua Barat Daya.
Perjalanan karier dari sejumlah satuan reserse di Jakarta hingga dipercaya memimpin sebuah kepolisian daerah menjadi bagian penting dari profil Brigjen Hengki Haryadi.
Dari pengalaman menangani perkara kriminal di wilayah perkotaan, hingga kini berada di pucuk pimpinan Polda Papua Barat Daya, Hengki memasuki fase baru dalam perjalanan panjangnya sebagai perwira Kepolisian Negara Republik Indonesia. (DOS)















Leave a Reply