Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

Iyan Sopiyan Tegaskan Pendidikan Tak Butuh Pencitraan: “Yang Penting Kerja Nyata dan Manfaatnya Dirasakan Anak”

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Dunia pendidikan tidak cukup dibangun dengan slogan, seremoni maupun sekadar menampilkan berbagai kegiatan kepada publik. Lebih dari itu, setiap program pendidikan harus mampu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya bagi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Jawa Barat, H. Iyan Sopiyan, S.I.P., saat menekankan pentingnya membangun pendidikan melalui kerja konkret, kebersamaan dan komitmen seluruh pemangku kepentingan.

Iyan secara tegas menyatakan bahwa dirinya tidak ingin berbagai pekerjaan di bidang pendidikan hanya berujung pada pencitraan. Menurutnya, ukuran keberhasilan bukan terletak pada seberapa sering seseorang terlihat bekerja, melainkan seberapa besar hasil pekerjaan tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dan memberikan dampak positif bagi perkembangan anak.

“Kita buktikan kerja nyata, tidak ingin ada pencitraan. Ini wujud kebersamaan untuk kemajuan anak bangsa di masa yang akan datang,” tegas Iyan.

Kerja Nyata Harus Menghasilkan Dampak

Menurut Iyan, pembangunan pendidikan merupakan proses panjang yang membutuhkan konsistensi. Sebuah program tidak boleh berhenti hanya pada pelaksanaan kegiatan, dokumentasi maupun seremoni.

Hal yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap kegiatan benar-benar memberikan dampak terhadap peserta didik dan masyarakat.

Anak, kata dia, harus ditempatkan sebagai pusat perhatian dalam setiap kebijakan dan program pendidikan. Setiap langkah yang dilakukan pemerintah maupun seluruh unsur pendidikan semestinya diarahkan untuk mendukung tumbuh kembang anak, pembentukan karakter, kreativitas, kemampuan sosial serta kesiapan menghadapi tantangan masa depan.

“Jangan sampai pendidikan hanya berhenti pada kegiatan atau seremonial, tetapi hasilnya tidak dirasakan oleh anak-anak,” ujarnya saat di wawancarai awak media melalui sambungan Whatsapp miliknya, Jum’at malam (28/08/2026).

Iyan menilai, kerja nyata harus menjadi budaya dalam menjalankan tugas. Perubahan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan yang terukur dan dilakukan secara berkelanjutan.

Kebersamaan Menjadi Fondasi Pendidikan

Iyan juga menekankan bahwa pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian dalam membangun kualitas pendidikan.

Menurutnya, pemerintah memiliki tanggung jawab menyiapkan kebijakan dan berbagai fasilitas pendukung. Sekolah bertugas menerjemahkan kebijakan tersebut dalam proses pendidikan, sementara tenaga pendidik menjadi ujung tombak dalam mendampingi peserta didik.

Di sisi lain, orang tua dan masyarakat juga memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Semua unsur tersebut, menurut Iyan, harus berjalan dalam satu arah dan memiliki tujuan yang sama, yakni menciptakan pendidikan yang berkualitas dan berpihak kepada kepentingan anak.

Jika sinergi tersebut terbangun dengan baik, berbagai persoalan pendidikan akan lebih mudah dihadapi. Sebaliknya, apabila setiap unsur berjalan sendiri-sendiri dan lebih mengedepankan kepentingan sektoral, maka upaya membangun generasi unggul akan menghadapi lebih banyak hambatan.

Karena itu, Iyan mengajak seluruh unsur pendidikan di Kabupaten Garut untuk menghilangkan ego sektoral dan memperkuat kolaborasi.

“Kita ingin apa yang dilakukan bersama ini benar-benar memberikan manfaat. Yang paling utama adalah kepentingan anak,” katanya.

Pendidikan Anak Usia Dini Punya Peran Strategis

Sebagai pejabat yang membidangi PAUD dan Pendidikan Masyarakat, Iyan memandang pendidikan pada usia dini memiliki posisi yang sangat strategis.

Masa anak-anak merupakan fase penting dalam membentuk karakter, kebiasaan, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, rasa percaya diri dan kemampuan bersosialisasi.

Karena itu, pendidikan anak tidak boleh semata-mata diarahkan pada kemampuan akademik. Anak juga membutuhkan ruang untuk berekspresi, berkreasi, berkomunikasi dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Menurut Iyan, anak-anak yang saat ini sedang mendapatkan pendidikan merupakan generasi yang kelak akan menentukan arah pembangunan bangsa.

“Kalau hari ini kita serius mendidik dan membangun karakter anak, maka kita sedang menyiapkan masa depan bangsa,” ungkapnya.

Jabatan Harus Dibuktikan dengan Pengabdian

Iyan kembali menegaskan bahwa amanah dan jabatan yang diemban harus dipertanggungjawabkan melalui kinerja dan pengabdian. Baginya, masyarakat membutuhkan bukti nyata, bukan sekadar janji atau tampilan keberhasilan yang tidak memiliki dampak langsung.

Karena itu, setiap program pendidikan harus dilaksanakan secara serius, terarah, transparan dan berorientasi pada manfaat.

“Kita tidak ingin hanya terlihat bekerja. Yang kita inginkan adalah benar-benar bekerja dan hasilnya bisa dirasakan,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa pelayanan pendidikan harus berorientasi pada kepentingan masyarakat, bukan kepentingan pencitraan individu maupun kelompok.

Pendidikan Adalah Investasi Masa Depan

Iyan menyebut pembangunan pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak selalu dapat dilihat dalam waktu singkat, namun kualitas pendidikan hari ini akan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.

Anak-anak yang saat ini belajar di ruang kelas, mengikuti berbagai aktivitas pendidikan dan mengembangkan kreativitas, kelak akan menjadi bagian dari masyarakat yang ikut menentukan perjalanan bangsa.

Karena itu, setiap kebijakan dan program pendidikan harus mempertimbangkan kepentingan serta masa depan anak.

Menurutnya, perubahan zaman juga menuntut dunia pendidikan untuk terus beradaptasi. Anak-anak tidak hanya membutuhkan bekal pengetahuan akademik, tetapi juga karakter, kreativitas, keberanian, kemampuan berkomunikasi serta kemampuan menghadapi berbagai perubahan.

Jangan Berhenti Berinovasi

Iyan berharap semangat kebersamaan dapat terus diperkuat di lingkungan pendidikan Kabupaten Garut.

Pemerintah, sekolah, guru, orang tua dan masyarakat harus memiliki kesadaran bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya muncul ketika ada kegiatan tertentu, tetapi menjadi budaya dalam menjalankan seluruh proses pembangunan pendidikan.

Ia juga mendorong seluruh jajaran pendidikan untuk terus melakukan inovasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Sebab, pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan anak yang memiliki pengetahuan, tetapi juga generasi yang memiliki karakter kuat, kreativitas, rasa percaya diri dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Pada akhirnya, pesan yang disampaikan Iyan Sopiyan menegaskan satu hal: pendidikan tidak membutuhkan pencitraan, tetapi membutuhkan kerja nyata.

Keberhasilan pembangunan pendidikan bukan diukur dari seberapa besar seseorang terlihat bekerja, melainkan dari seberapa besar manfaat yang benar-benar dapat diberikan kepada anak-anak dan masyarakat.

“Ini wujud kebersamaan untuk kemajuan anak bangsa di masa yang akan datang,” pungkas Iyan.

Semangat tersebut menjadi pengingat bahwa membangun pendidikan berarti sedang membangun masa depan. Ketika pemerintah, sekolah, tenaga pendidik, orang tua dan masyarakat mampu bergerak dalam satu tujuan, maka cita-cita melahirkan generasi Garut yang berkarakter, kreatif dan berkualitas bukan sekadar slogan, melainkan dapat diwujudkan melalui kerja nyata dan pengabdian bersama. (DIX)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *