![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Slogan Kapolres Garut AKBP Niko N. Adi Putra, S.H., S.I.K., M.H., “Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas”, kembali mendapat ruang untuk diterjemahkan dalam tindakan nyata. Bukan melalui seremoni di ruang tertutup, melainkan melalui kehadiran langsung di tengah masyarakat.
Jumat pagi (28/08/2026), Bhayangkari Satlantas Polres Garut hadir di kawasan Bundaran Suci, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dengan membawa semangat sederhana: berbagi dan memberikan perhatian kepada masyarakat melalui pembagian sarapan pagi gratis.
Kegiatan tersebut sekilas memang terlihat sederhana. Namun, di balik sebungkus sarapan yang diberikan secara cuma-cuma, terdapat pesan yang jauh lebih besar tentang bagaimana institusi kepolisian berusaha membangun kedekatan dengan masyarakat.
Sebab, pelayanan kepada masyarakat tidak selalu harus berbentuk tindakan besar.
Terkadang, kehadiran, sapaan, perhatian dan kepedulian justru menjadi pintu masuk untuk membangun kepercayaan.
Ketika Slogan Turun ke Jalan
“Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas.”
Tiga kalimat tersebut akan kehilangan makna apabila hanya berhenti sebagai slogan.
Namun, ketika diterjemahkan dalam tindakan, slogan dapat menjadi semangat yang menggerakkan personel untuk hadir di tengah masyarakat.Kegiatan Bhayangkari Satlantas Polres Garut di Bundaran Suci menjadi salah satu contoh bagaimana semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosial.
Sejak pagi, jajaran Bhayangkari hadir dan membagikan makanan kepada masyarakat yang melintas maupun warga yang sedang menjalankan aktivitas.Para pengendara, pekerja dan masyarakat lainnya mendapatkan sarapan secara gratis. Pantauan awak media di lokasi kegiatan, tidak ada sekat yang terlihat. Interaksi berlangsung secara sederhana dan penuh keakraban.
Di tengah aktivitas lalu lintas pagi, kehadiran Bhayangkari memberikan warna tersendiri. Masyarakat tidak hanya melihat polisi dari sisi tugas pengaturan lalu lintas maupun penegakan hukum, tetapi juga dari sisi kepedulian sosial.
Bripka Hamdan: Kami Ingin Hadir dan Berbagi
Bripka Hamdan mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari kepedulian kepada masyarakat.
Menurutnya, sarapan yang dibagikan mungkin tidak seberapa jika dilihat dari nilainya. Namun, pihaknya berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang sudah beraktivitas sejak pagi.
“Kegiatan ini merupakan bentuk bakti dan kepedulian kami kepada masyarakat. Walaupun sederhana, kami berharap sarapan yang diberikan dapat bermanfaat bagi masyarakat yang sedang beraktivitas sejak pagi,” ujar Bripka Hamdan.
Ia menegaskan bahwa polisi merupakan bagian dari masyarakat. Karena itu, kedekatan antara kepolisian dengan masyarakat harus terus dibangun melalui berbagai kegiatan positif.
“Kami ingin terus hadir di tengah masyarakat. Bukan hanya ketika ada persoalan keamanan, tetapi juga melalui kegiatan sosial dan kemanusiaan,” ungkapnya.
Membangun Kepercayaan Tidak Cukup dengan Kata-Kata
Dalam konteks pelayanan publik, kepercayaan masyarakat tidak lahir secara instan.Kepercayaan membutuhkan proses panjang,ini dibangun melalui konsistensi, ketulusan, komunikasi dan tindakan nyata.
Karena itu, kegiatan sosial yang dilakukan di ruang publik memiliki nilai tersendiri. Masyarakat dapat melihat secara langsung kehadiran aparat dan keluarga besar Polri dalam kehidupan sehari-hari.
Pembagian sarapan gratis bukan berarti menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat. Namun, kegiatan tersebut setidaknya menjadi simbol bahwa kepolisian berupaya membangun hubungan yang lebih dekat dan humanis dengan warga.
Dari Bundaran Suci untuk Masyarakat
Bundaran Suci pada Jumat pagi menjadi saksi sebuah kegiatan sederhana yang membawa pesan besar.
Bahwa pengabdian kepada masyarakat bisa dimulai dari hal kecil.
Bahwa kepedulian tidak harus menunggu program besar.
Dan bahwa slogan akan memiliki arti ketika diwujudkan dalam tindakan.
Semangat “Kerja Keras” terlihat dari kesediaan untuk turun dan hadir di lapangan.
“Kerja Cerdas” tercermin dari upaya membangun komunikasi dengan masyarakat melalui pendekatan sosial yang sederhana dan langsung.
Sementara “Kerja Ikhlas” menjadi nilai yang diharapkan mendasari setiap bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Kapolres Garut AKBP Niko N. Adi Putra, semangat tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai jargon, tetapi terus menjadi bagian dari budaya pelayanan jajaran kepolisian.
Sebab masyarakat pada akhirnya tidak hanya membutuhkan aparat yang mampu menjalankan aturan, tetapi juga membutuhkan aparat yang mampu mendengar, menyapa, hadir dan peduli.
Dan dari Bundaran Suci, sebuah pesan sederhana kembali disampaikan:
Polisi hadir bukan hanya ketika masyarakat membutuhkan keamanan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan sentuhan kepedulian. (*)













Leave a Reply