Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

Dari Setrika Arang hingga Kursi Pemimpin Redaksi: Sebuah Perjalanan Hidup yang Ditempa Air Mata, Doa, dan Perjuangan

Loading

(Oleh: Diki Kusdian,Pemimpin Redaksi Media Tribunpribumi.com)

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Artikel,TRIBUNPRIBUMI.com – Ada satu hal yang selalu saya yakini: Tuhan tidak pernah salah menempatkan seseorang untuk lahir dari keluarga sederhana. Setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda, dan saya percaya bahwa jalan yang penuh kerikil sering kali melahirkan pribadi yang lebih kuat dibanding jalan yang mulus tanpa rintangan.

Saya tidak pernah malu menceritakan masa kecil saya. Justru dari kisah itulah saya belajar arti kehidupan yang sebenarnya. Jika hari ini saya dipercaya memimpin sebuah media nasional, itu bukan karena saya lahir dari keluarga berada, tetapi karena saya dibesarkan oleh perjuangan yang tidak pernah berhenti.

Rumah Sederhana yang Menjadi Sekolah Kehidupan

Masa kecil saya bukan tentang mainan mahal, pakaian baru, atau makanan enak setiap hari.

Rumah sederhana yang saya tempati bersama kakek dan nenek menjadi sekolah kehidupan pertama. Di sanalah saya belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

Ibu harus meninggalkan kampung halaman untuk merantau mencari nafkah menjadi seorang asisten rumah tangga di jakarta. Berat rasanya bagi seorang anak harus berpisah dengan ibu pada usia yang masih belia. Namun kini saya mengerti, kepergian beliau bukan karena tidak mencintai anak-anaknya, melainkan karena cinta itulah beliau rela berkorban.

Ayah bekerja sebagai seorang sopir bus di luar pulau Jawa. Terminal dan jalanan adalah tempat beliau menggantungkan harapan keluarga. Setiap kali berangkat kerja, tidak ada jaminan akan pulang membawa hasil. Taruhan hidup dan mati selamanya di terminal atau jalanan,kehidupan keras dan kasar  selalu menjadi teman perjuangan seorang sopir bus. Saya hanya bisa menunggu kabar dan berdoa agar ayah selalu diberi keselamatan.

Pelukan Nenek didikan maupun asuhan dari paman – paman juga bibi saya yang Menjadi Pengganti Kasih Sayang Kedua Orang Tua

Selama kedua orang tua berjuang mencari nafkah, saya dibesarkan oleh nenek.

Beliau adalah perempuan sederhana yang tidak pernah mengenal kata menyerah. Walaupun hidup serba kekurangan, beliau selalu memastikan cucunya tetap bisa bersekolah.

Saya masih mengingat bagaimana beliau bangun sebelum matahari terbit, menyiapkan kebutuhan rumah, memasak makanan sederhana, lalu mengantar saya dengan doa yang tidak pernah putus.

Beliau mungkin tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, tetapi dari beliaulah saya belajar tentang kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan.

Setrika Arang dan Seragam yang Berkali-kali Dijahit

Anak-anak zaman sekarang mungkin tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya menyetrika pakaian menggunakan setrika arang.

Batok kelapa dibakar hingga menjadi bara. Bara itulah yang dimasukkan ke dalam setrika besi agar panas. Jika apinya mulai padam, harus ditiup kembali. Kadang pakaian sekolah masih kusut karena panasnya tidak merata.

Seragam sekolah saya pun bukan seragam baru.

Celana yang robek dijahit berulang kali.

Kaus kaki yang sudah longgar diikat memakai karet, terkadang berangkat ke sekolah dengan terpaksa memakai sandal jepit.

Sepatu yang mulai rusak dipakai selama masih bisa digunakan.

Tidak ada rasa bangga memakai pakaian seperti itu. Yang ada hanyalah harapan agar tidak menjadi bahan ejekan teman-teman.

Namun justru dari sanalah saya belajar bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh pakaian yang dikenakan, tetapi oleh akhlak,kejujuran, keimanan dan semangat hidupnya.

Uang Jajan Rp50 hingga Rp100 yang Terasa Sangat Berharga.

Saya masih ingat ketika uang Rp100 menjadi bekal berangkat sekolah.

Kadang ada.

Kadang tidak ada sama sekali.

Saat teman-teman membeli jajanan, saya memilih menahan lapar.

Jika beruntung, saya memetik kelapa, memakannya bersama gula merah.

Kadang lauk makan siang hanya tutut, sambal terasi, atau sayur seadanya.

Namun tidak pernah terdengar keluhan dari Kakek maupun nenek.

Dalam bahasa Sunda Beliau selalu berkata, “Nu penting urang tiasa dahar sareng tiasa sakola.” Yang artinya. ” Yang penting kita bisa makan dan sekolah,”. Kalimat sederhana itu masih terngiang sampai hari ini.

Pulang Sekolah Bukan Bermain, Tetapi Bekerja

Sepulang sekolah, saya tidak langsung bermain.

Saya mencari pakis di kebun.

Mencari salak.

Mencari jengkol.

Mengumpulkan hasil alam untuk dijual kepada tetangga.

Upah Rp300 terasa sangat besar.

Ketika mendapatkan Rp500, rasanya seperti menjadi anak paling kaya di kampung.

Dari pekerjaan kecil itulah saya belajar bahwa uang tidak datang dengan sendirinya. Ada tenaga, ada waktu, dan ada doa yang menyertainya.

Minder Melihat Teman yang Dijemput Orang Tuanya

Ada satu kenangan yang sampai sekarang masih membuat hati terasa sesak.

Setiap pulang sekolah saya melihat teman-teman dijemput ayah dan ibunya.

Mereka bercanda, tertawa, lalu pulang bersama.

Sedangkan saya berjalan sendiri.

Saat itu saya sering bertanya kepada Tuhan, mengapa hidup saya berbeda?

Namun semakin dewasa saya memahami, ternyata orang tua saya sedang memperjuangkan masa depan anak-anaknya.

Mereka mungkin jauh secara fisik, tetapi doa mereka selalu dekat.

Kemiskinan Bukan Kutukan

Kemiskinan memang menyakitkan.

Tetapi kemiskinan bukan kutukan.

Yang menjadi kutukan adalah ketika seseorang menyerah pada keadaan.

Saya bersyukur pernah hidup dalam keterbatasan.

Karena dari situlah saya belajar menghargai setiap rupiah.

Menghargai setiap makanan.

Menghargai setiap kesempatan.

Menghargai setiap orang yang membantu.

Dan menghargai perjuangan kedua orang tua.

Menjadi Jurnalis, Menjadi Saksi Perjuangan Banyak Orang

Ketika akhirnya saya memilih jalan hidup sebagai jurnalis, saya menyadari bahwa di luar sana masih banyak orang yang memiliki kisah lebih berat daripada saya.

Saya bertemu petani yang tetap bekerja di bawah terik matahari.

Saya bertemu dengan semua pedagang kecil yang pulang nya belum tentu membawa hasil.

Saya bertemu buruh tani yang tetap tersenyum meski penghasilannya tidak menentu.

Saya bertemu anak-anak yang berjalan berkilometer demi sampai ke sekolah.

Semua itu membuat saya semakin yakin bahwa tugas seorang jurnalis bukan hanya menulis berita, tetapi juga menyuarakan suara mereka yang sering kali tidak terdengar.

Sebuah Pesan untuk Anak-Anak Saya

Kelak, ketika anak-anak saya membaca tulisan ini, saya ingin mereka mengetahui satu hal.

Ayahmu bukan lahir dari kemewahan.

Ayahmu pernah lapar.

Pernah menangis karena rindu kepada orang tua.

Pernah malu memakai pakaian yang telah dijahit berkali-kali.

Pernah bekerja sejak kecil hanya untuk mendapatkan uang receh.

Semua itu bukan untuk disesali.

Tetapi untuk dikenang agar kalian tidak pernah menjadi anak yang sombong ketika hidup berkecukupan.

Hormatilah ibu kalian.

Sayangilah ayah kalian.

Karena tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya hidup susah.

Terima Kasih untuk Ibu, Ayah, Kakek dan Nenek

Hari ini saya hanya ingin mengucapkan terima kasih.

Untuk ibu yang sekarang telah meninggal dunia.Untuk ayah yang bertaruh nyawa menjadi seorang sopir bus di luar pulau Jawa. Juga untuk Alm dan Almarhumah Kakek,nenek yang membesarkan saya dengan cinta yang tak pernah meminta balasan.

Kalian mungkin tidak pernah meminta penghargaan.

Namun di hati saya, kalian adalah pahlawan sejati.

Semoga Allah SWT membalas setiap tetes keringat, setiap air mata, dan setiap doa yang telah kalian panjatkan dengan rahmat, keberkahan, serta surga-Nya.

Jika hari ini ada seseorang yang sedang merasa hidupnya paling berat, percayalah, jangan pernah menyerah. Kesulitan hanyalah bagian dari perjalanan, bukan akhir dari kehidupan.

Saya adalah bukti bahwa anak kampung yang pernah menyetrika dengan arang, makan nasi dengan sambal terasi, mencari pakis dan jengkol sepulang sekolah, serta hidup jauh dari pelukan orang tua, tetap bisa bangkit, berkarya, dan mengabdikan hidup melalui dunia jurnalistik.

Perjuangan tidak pernah mengkhianati hasil. Doa orang tua tidak pernah sia-sia. Dan kemiskinan bukanlah akhir dari mimpi.

Selama kita terus berusaha, menjaga kejujuran, bekerja keras, serta berserah diri kepada Allah SWT, maka selalu ada harapan untuk mengubah air mata menjadi kebahagiaan, keterbatasan menjadi kekuatan, dan masa lalu yang penuh luka menjadi kisah inspiratif bagi generasi yang akan datang.

Sebab pada akhirnya, warisan terbesar yang dapat kita tinggalkan bukanlah harta, melainkan keteladanan, kerja keras, kejujuran, dan kasih sayang yang akan terus hidup dalam hati anak-anak kita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *