![]()
(Oleh: Diki Kusdian)
Opini,TRIBUNPRIBUMI.com – Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, manusia modern seolah memiliki segalanya. Teknologi berkembang, informasi dapat diakses dalam hitungan detik, dan berbagai kemudahan hidup hadir di hadapan mata. Namun, di balik kemajuan tersebut muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah kemajuan kehidupan selalu sejalan dengan kedalaman jiwa manusia?
Pertanyaan itulah yang membuat jejak kehidupan KH. A. Shohibulwafa Tajul Arifin atau Abah Anom Suryalaya tetap menarik untuk direnungkan.
Abah Anom bukan sekadar nama dalam sejarah perkembangan tarekat di tanah Sunda. Beliau merupakan sosok yang meninggalkan jejak panjang dalam dunia pendidikan, pembinaan spiritual, dakwah, dan kehidupan sosial umat melalui Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya.
Bagi para pengamal Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN), Abah Anom dikenal sebagai seorang mursyid yang memiliki peranan penting dalam mengembangkan tradisi tarekat tersebut sehingga dikenal luas di berbagai wilayah Nusantara.
Namun, melihat Abah Anom hanya dari sisi kedudukannya sebagai mursyid tentu belum cukup.Ada perjalanan ilmu, keteladanan, pengabdian, dan perjuangan panjang yang patut dibaca sebagai sebuah pelajaran kehidupan.
Ilmu yang Tidak Berhenti di Ruang Pesantren
Salah satu hal yang menarik dari perjalanan Abah Anom adalah bagaimana ilmu agama tidak ditempatkan hanya sebagai pengetahuan teoritis.
Tradisi pesantren mengajarkan bahwa ilmu harus memiliki konsekuensi moral. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati perilakunya, semakin luas manfaatnya, dan semakin besar tanggung jawabnya terhadap sesama.
Dalam perjalanan keilmuannya, Abah Anom menempuh proses belajar agama dan memperdalam berbagai disiplin keislaman. Dari ilmu fikih hingga bahasa Arab, dari pendidikan pesantren hingga pendalaman tasawuf dan tarekat.
Perjalanan tersebut memperlihatkan satu hal penting: jalan spiritual tidak semestinya dipisahkan dari ilmu.
Tarekat tanpa pemahaman agama berpotensi kehilangan pijakan. Sebaliknya, ilmu yang tidak melahirkan perubahan akhlak juga berisiko hanya menjadi pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran.
Di sinilah relevansi pemikiran dan keteladanan Abah Anom bagi kehidupan umat hari ini.
TQN dan Perjalanan Membersihkan Diri
TQN bukan sekadar identitas kelompok keagamaan. Bagi para pengamalnya, tarekat merupakan jalan pembinaan batin melalui amalan, dzikir, disiplin spiritual, dan bimbingan seorang guru atau mursyid.
Pesan yang dapat direnungkan dari tradisi tersebut sebenarnya sangat sederhana: sebelum sibuk memperbaiki dunia, manusia perlu belajar memperbaiki dirinya sendiri.
Kita hidup pada zaman ketika seseorang mudah sekali menemukan kesalahan orang lain. Media sosial memberikan ruang luas untuk mengomentari kehidupan orang lain, sementara introspeksi terhadap diri sendiri sering kali terlupakan.
Dalam konteks inilah nilai muhasabah menjadi sangat penting.
Perjalanan spiritual seharusnya membawa seseorang semakin mampu mengendalikan ego, menjaga ucapan, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Maka, tarekat tidak semestinya dipahami hanya sebagai rangkaian ritual. Ia juga harus menghadirkan perubahan perilaku.
Abah Anom dan Makna Keteladanan
Salah satu warisan paling berharga dari seorang ulama bukanlah banyaknya gelar yang melekat pada namanya, melainkan keteladanan yang tetap hidup setelah dirinya tiada.
Abah Anom wafat pada 5 September 2011. Namun, nama dan jejak pengabdiannya tetap dikenang oleh banyak kalangan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pengaruh seorang guru tidak selalu berhenti ketika usia biologisnya berakhir.
Ilmu yang diajarkan, murid yang dibimbing, lembaga yang dibangun, dan nilai-nilai yang diwariskan dapat terus berjalan melewati generasi.
Dalam konteks Suryalaya, pesantren menjadi salah satu ruang penting tempat pendidikan agama, pembinaan spiritual, dan kehidupan sosial bertemu.
Di sinilah kita dapat melihat bahwa dakwah tidak selalu harus dilakukan melalui pidato panjang.
Mendidik, membimbing, membangun lembaga, membina generasi muda, membantu masyarakat, dan memberikan keteladanan juga merupakan bentuk dakwah.
Ketika Dunia Modern Kehilangan Kedalaman
Hari ini, manusia dapat berbicara dengan siapa saja tanpa mengenal jarak. Tetapi ironisnya, banyak orang justru semakin sulit berbicara dengan dirinya sendiri.
Kita memiliki ribuan teman di media sosial, tetapi belum tentu memiliki kedekatan dengan hati sendiri.
Kita mengetahui banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan.
Kita mampu berdebat mengenai berbagai persoalan, tetapi belum tentu mampu mengalahkan ego dalam diri.
Karena itu, warisan spiritual para ulama dan guru tarekat seperti Abah Anom masih relevan untuk direnungkan.
Bukan untuk membawa manusia mundur dari perkembangan zaman, melainkan agar manusia tidak kehilangan arah ketika bergerak maju.
Modernitas membutuhkan ilmu. Tetapi ilmu membutuhkan akhlak.
Teknologi membutuhkan kecerdasan. Tetapi kecerdasan membutuhkan kebijaksanaan.
Kekuasaan membutuhkan kemampuan. Tetapi kekuasaan membutuhkan amanah.
Dan kehidupan membutuhkan kesuksesan. Namun kesuksesan tanpa ketenangan jiwa pada akhirnya dapat menjadi sesuatu yang kosong.
Mursyid sebagai Pembimbing, Bukan Sekadar Gelar
Dalam tradisi tarekat, istilah mursyid memiliki makna penting sebagai pembimbing spiritual.
Namun, di zaman sekarang, istilah tersebut perlu dipahami secara bijaksana.
Seorang guru spiritual idealnya bukan sosok yang menjadikan murid bergantung secara membabi buta, melainkan membimbing mereka untuk semakin mengenal Allah SWT, memahami ajaran agama, memperbaiki akhlak, dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
Karena itu, menghormati guru bukan berarti menghilangkan daya kritis.
Sebaliknya, penghormatan kepada guru semestinya berjalan bersama dengan kecintaan terhadap ilmu, adab, dan kebenaran.
Inilah salah satu pelajaran penting yang dapat kita tarik ketika membaca perjalanan para ulama besar.
Warisan Abah Anom untuk Generasi Sekarang
Generasi hari ini menghadapi persoalan yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Tantangannya bukan hanya kemiskinan atau keterbatasan pendidikan, tetapi juga banjir informasi, budaya instan, materialisme, krisis keteladanan, dan melemahnya kemampuan manusia untuk melakukan introspeksi.
Karena itu, warisan spiritual Abah Anom dapat dibaca dalam konteks yang lebih luas.
Bukan semata-mata mengenai tarekat, tetapi tentang bagaimana manusia membangun keseimbangan antara akal, ilmu, hati, dan amal.
Jika ilmu menjadikan manusia sombong, maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Jika ibadah tidak melahirkan akhlak, maka ada sesuatu yang perlu direnungkan.
Jika kekuasaan tidak melahirkan pelayanan, maka amanah perlu dipertanyakan.
Dan jika keberhasilan dunia tidak membuat seseorang semakin dekat kepada Allah SWT, maka mungkin ada perjalanan batin yang belum selesai.
Cahaya Itu Ada pada Keteladanan
Abah Anom Suryalaya telah menjadi bagian dari sejarah panjang perjalanan spiritual umat Islam di Indonesia.
Terlepas dari berbagai pandangan dan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat, satu hal yang patut direnungkan adalah bagaimana seorang ulama dapat meninggalkan pengaruh melalui ilmu, pendidikan, keteladanan, dan pengabdian.
Cahaya seorang guru tidak selalu berbentuk sesuatu yang terlihat.
Kadang cahaya itu hadir melalui seorang murid yang berubah menjadi lebih baik.
Hadir melalui masyarakat yang memperoleh manfaat.
Hadir melalui lembaga pendidikan yang terus hidup.
Dan hadir melalui nilai-nilai kebaikan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Maka, membaca jejak Abah Anom bukan hanya membaca masa lalu. Kita sedang bercermin pada kehidupan hari ini.
Apakah ilmu yang kita miliki sudah menjadi amal?
Apakah ibadah yang kita jalankan sudah melahirkan akhlak?
Apakah keberadaan kita sudah memberikan manfaat bagi orang lain?
Sebab pada akhirnya, perjalanan spiritual manusia bukan tentang seberapa banyak orang mengenal namanya, melainkan seberapa besar kebaikan yang mampu ia tinggalkan.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari sebuah warisan keilmuan: ketika sang guru telah tiada, tetapi cahaya ilmu dan keteladanannya masih mampu menerangi jalan orang-orang yang datang setelahnya.
Wallahu a’lam bish-shawab.














Leave a Reply