Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

Hj. Dede Susilawati Apresiasi Pelayanan Bale Khitan Paseban, dr. Trisna Tekankan Kenyamanan dan Keselamatan Anak

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Memilih tempat untuk menjalani khitan bagi anak tidak hanya berkaitan dengan tindakan medis. Bagi keluarga, suasana pelayanan, komunikasi dengan pasien, keramahan petugas, hingga informasi mengenai perawatan setelah tindakan juga menjadi hal yang ikut dipertimbangkan.

Hal tersebut disampaikan Hj. Dede Susilawati (50), warga Kampung Cibangban, Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, setelah mendampingi cucunya menjalani khitan di Bale Khitan Paseban Garut.

Dede mengungkapkan pengalaman pribadinya selama berada di tempat pelayanan tersebut. Ia mengaku merasa puas dengan pelayanan yang diterima keluarganya, khususnya dari sisi keramahan dan suasana pelayanan yang menurutnya lebih nyaman bagi anak.

“Kami sekeluarga sangat puas dengan layanan di Bale Khitan Paseban. Selain ramah, di sini juga mengusung konsep khitan yang serba modern,” ujar Dede saat di wawancarai awak media di rumahnya, Sabtu (19/09/2026).

Menurut Dede, pengalaman tersebut menjadi salah satu hal yang berkesan karena keluarga tidak hanya berhadapan dengan proses tindakan, tetapi juga harus mendampingi anak yang mungkin memiliki rasa takut atau cemas.

Pendekatan Ramah Dinilai Penting bagi Pasien Anak

Dede menilai, pasien anak membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan pasien dewasa. Sebagian anak dapat menjalani proses dengan tenang, sementara sebagian lainnya bisa merasa takut ketika mengetahui dirinya akan menjalani tindakan medis.Dalam kondisi seperti itu, suasana pelayanan yang bersahabat menurutnya dapat membantu keluarga dalam mendampingi anak.

Sebagai nenek, Dede mengaku turut merasakan kekhawatiran sebelum cucunya menjalani proses khitan. Namun, setelah berada di lokasi, ia menilai suasana pelayanan yang diterima cukup membantu dirinya dan keluarga merasa lebih nyaman.

Ia juga melihat bahwa perkembangan konsep pelayanan khitan membuat keluarga saat ini memiliki pertimbangan yang lebih luas ketika menentukan tempat untuk anak.

Menurutnya, aspek kenyamanan menjadi salah satu pertimbangan, selain tentunya memastikan tindakan dilakukan oleh tenaga yang memiliki kompetensi dan mengikuti prosedur medis.

Dede berharap pelayanan yang menurutnya ramah tersebut dapat dipertahankan dan fasilitas yang tersedia terus dikembangkan.

“Semoga Bale Khitan Paseban semakin maju, semakin baik pelayanannya, dan tetap memberikan pelayanan yang ramah kepada masyarakat,” pungkasnya.

dr. Trisna: Karakter Setiap Anak Berbeda

Sementara itu, dr. H. Trisna Rahhadyasa, dalam konteks pelayanan di Bale Khitan Paseban, menjelaskan bahwa pasien anak memiliki karakter dan tingkat keberanian yang berbeda-beda.Karena itu, menurutnya, proses pelayanan tidak cukup hanya memperhatikan tindakan medis. Komunikasi dengan anak dan keluarga juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan sebelum tindakan dilakukan.

“Anak-anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang berani, ada juga yang merasa takut. Karena itu, pendekatan kepada anak serta komunikasi dengan keluarga menjadi bagian penting dalam pelayanan,” ujar dr. H. Trisna Rahhadyasa.

Pernyataan tersebut menempatkan aspek kenyamanan sebagai bagian dari proses pelayanan, bukan sebagai pengganti aspek medis.Menurut dr. Trisna, konsep pelayanan yang ramah terhadap anak dapat membantu menciptakan suasana yang lebih kondusif ketika pasien datang untuk menjalani khitan. Namun, ia menegaskan bahwa kenyamanan tetap harus berjalan bersama perhatian terhadap aspek medis dan keselamatan pasien.

“Kami ingin memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Kenyamanan anak dan keluarga menjadi perhatian, namun aspek medis dan keselamatan pasien tetap harus menjadi prioritas,” tegasnya.

Komunikasi dengan Keluarga Menjadi Bagian Penting

Selain pendekatan kepada anak, komunikasi dengan keluarga juga dinilai penting.

Keluarga pasien perlu memahami informasi yang berkaitan dengan proses pelayanan, termasuk persiapan sebelum tindakan, prosedur yang akan dijalani, serta perawatan setelah tindakan.

Informasi yang jelas dapat membantu keluarga mengetahui apa yang harus dilakukan selama masa pemulihan. Dalam pelayanan kepada pasien anak, peran keluarga juga tidak berhenti ketika tindakan selesai. 

Pendampingan di rumah menjadi bagian penting agar petunjuk perawatan yang diberikan dapat dipahami dan dijalankan dengan baik.Karena itu, komunikasi antara tenaga medis dan keluarga menjadi salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan secara keseluruhan.

Pengalaman Keluarga dan Standar Medis Perlu Dibedakan

Pengalaman Hj. Dede Susilawati merupakan pengalaman pribadi sebagai keluarga pasien. Kesannya terhadap keramahan dan kenyamanan pelayanan menjadi penilaian subjektif yang dirasakan langsung selama mendampingi cucunya.

Sementara itu, pernyataan dr. H. Trisna Rahhadyasa merupakan penjelasan dari sisi pelayanan yang menekankan pendekatan kepada pasien anak, komunikasi dengan keluarga, serta pentingnya keselamatan pasien.

Dengan demikian, pengalaman positif seorang keluarga pasien tidak secara otomatis menjadi ukuran menyeluruh terhadap kualitas pelayanan medis sebuah fasilitas.

Penilaian kualitas pelayanan medis tetap berkaitan dengan berbagai aspek, antara lain kompetensi tenaga kesehatan, prosedur yang diterapkan, keselamatan pasien, fasilitas pendukung, serta kepatuhan terhadap ketentuan dan standar pelayanan kesehatan yang berlaku.

Adapun istilah seperti “modern”, sebagaimana disampaikan dalam testimoni maupun materi pengenalan layanan, merupakan bagian dari gambaran atau klaim mengenai konsep pelayanan yang ditawarkan. Untuk menilai kualitas medis secara objektif, diperlukan indikator dan evaluasi yang lebih luas.

Pelayanan Khitan Anak Mengedepankan Kenyamanan dan Keselamatan

Khitan merupakan tindakan yang membutuhkan perhatian terhadap kondisi pasien, terlebih ketika pasien yang dilayani masih anak-anak.Rasa takut, kecemasan, maupun keengganan menghadapi tindakan merupakan hal yang dapat muncul pada setiap anak dengan tingkat yang berbeda.

Dalam situasi tersebut, komunikasi yang baik antara petugas, anak, dan keluarga dapat membantu menciptakan suasana pelayanan yang lebih tenang.

Di sisi lain, aspek kenyamanan tidak boleh mengesampingkan keselamatan pasien. Prosedur medis, penilaian kondisi pasien, tindakan yang dilakukan, serta instruksi perawatan setelah tindakan tetap menjadi bagian penting dalam pelayanan.

Bagi keluarga, informasi yang lengkap sebelum dan sesudah tindakan juga dapat membantu mereka mengambil keputusan dan melakukan pendampingan secara lebih tepat.

Pengalaman Hj. Dede Susilawati menunjukkan bagaimana aspek keramahan dan suasana pelayanan menjadi perhatian keluarga ketika membawa cucunya menjalani khitan.

Sementara penjelasan dr. H. Trisna Rahhadyasa menegaskan bahwa pendekatan kepada anak dan komunikasi dengan keluarga merupakan bagian dari pelayanan, dengan keselamatan pasien tetap menjadi prioritas.

Pada akhirnya, masyarakat yang akan memilih layanan khitan dapat mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh, mulai dari informasi mengenai tenaga medis, prosedur pelayanan, fasilitas, biaya, persiapan pasien, hingga perawatan pascatindakan.

Bagi Hj. Dede, pengalaman yang ia rasakan bersama cucunya di Bale Khitan Paseban meninggalkan kesan positif. Sedangkan dari sisi pelayanan, dr. Trisna menekankan bahwa kenyamanan anak perlu diperhatikan bersamaan dengan komunikasi yang baik dan penerapan aspek keselamatan dalam tindakan medis. (*)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *