Garut,TRIBUNPRIBUMI.com- Dalam upaya mempererat hubungan dengan masyarakat sekaligus menjaga situasi kamtibmas yang kondusif, Sat Binmas Polres Garut melaksanakan kegiatan Pengajian Rutin Sasihan pada Senin malam (04/05/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Al Hikmah, Kampung Cikubang RT 03 RW 05, Desa Lebak Jaya, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut.
Kegiatan ini dipimpin oleh Kanit Bintibmas Sat Binmas Polres Garut Aiptu Umar Taufik, S.Sos.I yang juga dikenal sebagai Da’i Kamtibmas Polri, didampingi Banit Tibmas Briptu Ivan Caputra. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DKM Masjid Al Hikmah Ade Omas, perangkat Desa Lebak Jaya, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta sekitar 100 jemaah.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lantunan sholawat, dan ceramah keagamaan yang disampaikan oleh Aiptu Umar Taufik, S.Sos.I. Dalam ceramahnya, beliau tidak hanya menyampaikan pesan-pesan keagamaan, tetapi juga memberikan imbauan kamtibmas kepada masyarakat.
Adapun pesan yang disampaikan meliputi pentingnya meningkatkan keimanan dan ketakwaan, menjauhi praktik judi online (judol), bahaya penyalahgunaan narkoba, serta pencegahan kenakalan remaja. Selain itu, masyarakat juga diajak untuk memperkuat peran orang tua dalam mengawasi anak-anak serta meningkatkan sinergitas antara masyarakat dan pihak kepolisian dalam menjaga keamanan lingkungan.
Kegiatan pengajian rutin ini menjadi salah satu bentuk pendekatan humanis Polri kepada masyarakat melalui jalur keagamaan, guna menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan harmonis. (*)
Gebyar Budaya Berujung Keluhan, Tokoh Masyarakat Garut: Saat Warga Kesulitan, Anggaran Justru Dihamburkan untuk Kemewahan Sesaat
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Gelaran Gebyar Pesona Budaya Garut (GPBG) 2026 yang digadang-gadang sebagai panggung kebanggaan daerah, justru berubah menjadi sumber keluhan publik. Alih-alih menghadirkan kebanggaan kolektif, acara ini dinilai sarat persoalan, mulai dari dugaan pemborosan anggaran, kemacetan parah, hingga minimnya pelibatan pelaku lokal yang seharusnya menjadi ruh utama kegiatan budaya.
Sorotan tajam datang dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat Garut yang secara terbuka mempertanyakan sensitivitas pemerintah daerah dalam menyusun prioritas kebijakan. Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, pelaksanaan acara dengan nuansa megah dinilai tidak tepat sasaran.
“Ini ironi yang menyakitkan. Di saat masyarakat masih berjibaku dengan kebutuhan hidup, anggaran justru dihambur-hamburkan untuk kemewahan sesaat. Ini bukan hanya soal acara, tapi soal keberpihakan,” tegasnya saat di wawancarai awak media, Sabtu (25/04/2026).
Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Sejumlah warga mengaku tidak merasakan dampak langsung dari kegiatan tersebut, selain justru mengalami gangguan aktivitas harian. Kemacetan menjadi keluhan paling dominan yang muncul selama perhelatan berlangsung. Ruas-ruas jalan utama di pusat Kota Garut lumpuh, arus kendaraan tersendat berjam-jam, dan mobilitas warga terganggu secara signifikan.
Kondisi ini memperlihatkan lemahnya perencanaan teknis, khususnya dalam pengaturan lalu lintas. Tidak adanya koordinasi yang matang dengan pihak terkait, termasuk pelaku transportasi, memperparah situasi di lapangan. Perubahan rute angkutan umum yang dilakukan secara mendadak tanpa sosialisasi memicu kebingungan massal.
Sejumlah sopir angkutan kota mengeluhkan kerugian yang mereka alami. Selain kehilangan waktu akibat terjebak macet, mereka juga harus menanggung pembengkakan biaya operasional, terutama bahan bakar. Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, jumlah penumpang justru menurun karena masyarakat enggan beraktivitas di tengah situasi yang tidak kondusif.
“Biasanya kami bisa dapat beberapa rit dalam sehari, sekarang satu saja sudah syukur. Macet di mana-mana, rute berubah tanpa pemberitahuan. Ini jelas merugikan,” ungkap salah satu sopir dengan nada kecewa.
Fenomena “megat angkot” pun tak terhindarkan. Penumpang dipaksa turun di tengah perjalanan dan berganti kendaraan karena rute yang tidak jelas. Situasi ini tidak hanya menyulitkan, tetapi juga menambah beban biaya bagi masyarakat kecil.
Tak berhenti di situ, kritik juga mengarah pada substansi acara yang dinilai kehilangan esensi. Sebagai event yang mengusung nama budaya Garut, GPBG 2026 justru dianggap gagal memberi ruang yang layak bagi seniman dan pelaku budaya lokal. Banyak pihak menilai bahwa panggung utama lebih didominasi pihak luar, sementara talenta daerah hanya menjadi penonton di rumah sendiri.
Seorang perwakilan komunitas seni di Garut menyebut kondisi ini sebagai bentuk pengabaian terhadap potensi lokal yang selama ini berjuang mengangkat identitas budaya daerah.
“Kalau bukan kita yang menghidupkan budaya Garut, lalu siapa? Tapi kenyataannya, kami justru tidak dilibatkan secara maksimal. Ini bukan sekadar soal tampil atau tidak, tapi soal penghargaan terhadap pelaku budaya lokal,” ujarnya.
Kritik ini membuka pertanyaan besar: untuk siapa sebenarnya acara ini digelar? Jika tujuan utamanya adalah mempromosikan budaya daerah, maka pelibatan pelaku lokal seharusnya menjadi prioritas, bukan sekadar pelengkap.
Di sisi lain, transparansi anggaran juga mulai dipertanyakan. Publik menilai perlu adanya keterbukaan terkait besaran dana yang digunakan, termasuk rincian alokasinya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat luas, bukan sekadar menciptakan euforia sesaat.
Pengamat kebijakan publik di Garut menilai bahwa persoalan ini mencerminkan lemahnya perencanaan strategis dan kurangnya pendekatan partisipatif dalam penyelenggaraan kegiatan berskala besar.
“Event sebesar ini seharusnya dirancang dengan matang, melibatkan berbagai pihak, dan memiliki dampak nyata. Jika yang muncul justru keluhan, maka ada yang keliru sejak awal,” ungkapnya.
Gelombang kritik yang terus menguat menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. Ke depan, masyarakat berharap agar setiap kegiatan tidak hanya berorientasi pada kemegahan, tetapi juga pada kebermanfaatan, keberpihakan, dan keberlanjutan.
GPBG 2026 seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya Garut. Namun jika tidak dikelola dengan bijak, justru berpotensi menjadi contoh bagaimana sebuah agenda besar kehilangan makna di tengah gemerlapnya seremoni.
Kini, publik menunggu langkah konkret dari pemerintah: apakah kritik ini akan dijadikan bahan introspeksi, atau justru berlalu tanpa perubahan berarti. Yang jelas, masyarakat Garut tidak membutuhkan kemewahan sesaat, melainkan kebijakan yang berpihak dan berdampak nyata. (DIX)
Polisi Tindak Miras di Kerkof Saat Patroli, Miras Dimusnahkan di Tempat.
Garut, TRIBUNPRIBUMI.com – Polres Garut beserta Sat Samapta pada saat melakukan Patroli Malam mendapati adanya penjualan minuman keras (miras) di kawasan Kerkof, Kabupaten Garut.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat malam. (24/4/2026)
Kasat Samapta Polres Garut, AKP Ardiayanto, S.H., M.P., menyampaikan bahwa dalam kegiatan Patroli tersebut, petugas mendapati sekelompok anak muda yang tengah melakukan transaksi penjualan miras di lokasi.
“Petugas langsung melakukan penindakan dan berhasil mengamankan sebanyak 9 botol minuman keras dari lokasi kejadian,” ujarnya saat ditemui awak media.
Selain mengamankan barang bukti, petugas juga memberikan pembinaan kepada para pihak yang terlibat dalam aktivitas tersebut. Sebagai langkah penegakan dan efek jera, barang bukti miras turut dimusnahkan di tempat.
Polisi juga memberikan imbauan kepada masyarakat sekitar agar selalu waspada serta segera melaporkan apabila menemukan aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban umum, baik melalui layanan call center 110 atau Hotline Taros Kapolres Garut maupun ke kantor polisi terdekat.(*)
Polsek Cikarang Timur Sambangi Sekolah, Tekan Kenakalan Remaja dan Antisipasi Provokasi May Day
TRIBUNPRIBUMI.com || Kabupaten Bekasi – Dalam upaya menekan kenakalan remaja serta mengantisipasi potensi provokasi menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), jajaran Polsek Cikarang Timur menggelar kegiatan Police Goes to School secara serentak di dua sekolah menengah pada Kamis (30/4/2026).
Kegiatan tersebut dilaksanakan di SMK Bina Mitra dan SMAN 1 Cikarang Timur dengan melibatkan ratusan pelajar. Di SMK Bina Mitra, Kanit Binmas Polsek Cikarang Timur, AKP Odo Supaendi, memberikan penyuluhan kepada sekitar 180 siswa. Materi yang disampaikan mencakup bahaya perundungan (bullying), tawuran pelajar, hingga penyalahgunaan narkoba yang kerap menjadi ancaman serius bagi generasi muda.
Sementara itu, di SMAN 1 Cikarang Timur, Wakapolsek Cikarang Timur AKP M. Jamaludin bersama personel Sat Samapta Polres Metro Bekasi memimpin kegiatan sosialisasi serupa. Kegiatan ini bertujuan memperkuat sinergi antara kepolisian dan institusi pendidikan dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya di wilayah Desa Jatireja dan Desa Jatibaru.
Dalam kesempatan tersebut, pihak kepolisian menekankan pentingnya edukasi preventif kepada pelajar agar tidak mudah terpengaruh oleh ajakan negatif, terutama menjelang momentum May Day pada 1 Mei. Para siswa diimbau untuk tidak terlibat dalam aksi unjuk rasa atau turun ke jalan mengikuti ajakan pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Pelajar harus fokus pada pendidikan dan tidak ikut-ikutan dalam kegiatan yang berpotensi mengganggu keamanan. Masa depan kalian jauh lebih penting,” tegas salah satu perwira dalam penyuluhan tersebut.
Selain itu, para siswa juga diingatkan untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Penyebaran informasi yang tidak benar atau hoaks dinilai dapat memicu provokasi serta berpotensi menimbulkan tindakan anarkis yang merugikan banyak pihak.
Melalui kegiatan pembinaan ini, kepolisian berharap para pelajar mampu menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, serta memiliki kesadaran hukum yang baik. Nilai-nilai integritas, rasa hormat kepada guru, serta ketaatan beragama juga ditekankan sebagai fondasi penting dalam membentuk kepribadian yang positif.
Polsek Cikarang Timur juga mengajak para pelajar untuk mengisi waktu libur dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti berkumpul bersama keluarga, sehingga dapat terhindar dari aktivitas berisiko yang dapat berdampak pada masa depan mereka.
Dengan adanya kegiatan Police Goes to School ini, diharapkan situasi kamtibmas di wilayah Cikarang Timur tetap aman dan kondusif, khususnya dalam menghadapi peringatan May Day 2026. ( Mardani Lubis / Red )