Garut,TRIBUNPRIBUMI.com- Dalam upaya mempererat hubungan dengan masyarakat sekaligus menjaga situasi kamtibmas yang kondusif, Sat Binmas Polres Garut melaksanakan kegiatan Pengajian Rutin Sasihan pada Senin malam (04/05/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Al Hikmah, Kampung Cikubang RT 03 RW 05, Desa Lebak Jaya, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut.
Kegiatan ini dipimpin oleh Kanit Bintibmas Sat Binmas Polres Garut Aiptu Umar Taufik, S.Sos.I yang juga dikenal sebagai Da’i Kamtibmas Polri, didampingi Banit Tibmas Briptu Ivan Caputra. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DKM Masjid Al Hikmah Ade Omas, perangkat Desa Lebak Jaya, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta sekitar 100 jemaah.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lantunan sholawat, dan ceramah keagamaan yang disampaikan oleh Aiptu Umar Taufik, S.Sos.I. Dalam ceramahnya, beliau tidak hanya menyampaikan pesan-pesan keagamaan, tetapi juga memberikan imbauan kamtibmas kepada masyarakat.
Adapun pesan yang disampaikan meliputi pentingnya meningkatkan keimanan dan ketakwaan, menjauhi praktik judi online (judol), bahaya penyalahgunaan narkoba, serta pencegahan kenakalan remaja. Selain itu, masyarakat juga diajak untuk memperkuat peran orang tua dalam mengawasi anak-anak serta meningkatkan sinergitas antara masyarakat dan pihak kepolisian dalam menjaga keamanan lingkungan.
Kegiatan pengajian rutin ini menjadi salah satu bentuk pendekatan humanis Polri kepada masyarakat melalui jalur keagamaan, guna menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan harmonis. (*)
Polres Garut Gelar Doa Bersama Jelang May Day 2026, Perkuat Sinergi dan Kesiapsiagaan Pengamanan
Garut, TRIBUNPRIBUMI.com || Dalam rangka mengantisipasi pengamanan Hari Buruh Internasional (May Day) Tahun 2026, Polres Garut menggelar kegiatan doa bersama yang berlangsung khidmat di Masjid Nurul Hakim Mapolres Garut, Kamis (30/4/2026).
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kapolres Garut AKBP Yugi Bayu Hendarto sebagai bentuk dukungan moral dan spiritual dalam menghadapi momentum May Day. Selain itu, doa bersama juga diikuti oleh para Pejabat Utama (PJU), perwira, bintara, serta ASN Polres Garut, dengan jumlah peserta mencapai puluhan personel. Sementara itu, jajaran Kapolsek turut mengikuti kegiatan secara virtual dari masing-masing Mako.
Doa bersama ini dipimpin oleh Ketua Dai Kamtibmas Polres Garut, KH. Yayan Ahmad Muzaki, yang memanjatkan doa agar seluruh rangkaian pengamanan May Day berjalan lancar, aman, dan kondusif.
Kapolres Garut mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Polres Garut dalam memperkuat kesiapan personel, tidak hanya dari sisi operasional, tetapi juga dari sisi mental dan spiritual. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh rangkaian pengamanan Hari Buruh Internasional dapat berjalan dengan tertib serta memberikan rasa aman bagi masyarakat.
“Selain memohon kelancaran dalam pelaksanaan tugas, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan soliditas dan sinergitas antar personel, sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat dilakukan secara optimal.” Ujar Kapolres.
Polres Garut berkomitmen untuk terus menjaga situasi kamtibmas yang aman dan kondusif, khususnya dalam menghadapi momen penting seperti peringatan May Day, dengan mengedepankan pendekatan humanis serta profesionalisme dalam bertugas.(*)
Gebyar Budaya Berujung Keluhan, Tokoh Masyarakat Garut: Saat Warga Kesulitan, Anggaran Justru Dihamburkan untuk Kemewahan Sesaat
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Gelaran Gebyar Pesona Budaya Garut (GPBG) 2026 yang digadang-gadang sebagai panggung kebanggaan daerah, justru berubah menjadi sumber keluhan publik. Alih-alih menghadirkan kebanggaan kolektif, acara ini dinilai sarat persoalan, mulai dari dugaan pemborosan anggaran, kemacetan parah, hingga minimnya pelibatan pelaku lokal yang seharusnya menjadi ruh utama kegiatan budaya.
Sorotan tajam datang dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat Garut yang secara terbuka mempertanyakan sensitivitas pemerintah daerah dalam menyusun prioritas kebijakan. Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, pelaksanaan acara dengan nuansa megah dinilai tidak tepat sasaran.
“Ini ironi yang menyakitkan. Di saat masyarakat masih berjibaku dengan kebutuhan hidup, anggaran justru dihambur-hamburkan untuk kemewahan sesaat. Ini bukan hanya soal acara, tapi soal keberpihakan,” tegasnya saat di wawancarai awak media, Sabtu (25/04/2026).
Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Sejumlah warga mengaku tidak merasakan dampak langsung dari kegiatan tersebut, selain justru mengalami gangguan aktivitas harian. Kemacetan menjadi keluhan paling dominan yang muncul selama perhelatan berlangsung. Ruas-ruas jalan utama di pusat Kota Garut lumpuh, arus kendaraan tersendat berjam-jam, dan mobilitas warga terganggu secara signifikan.
Kondisi ini memperlihatkan lemahnya perencanaan teknis, khususnya dalam pengaturan lalu lintas. Tidak adanya koordinasi yang matang dengan pihak terkait, termasuk pelaku transportasi, memperparah situasi di lapangan. Perubahan rute angkutan umum yang dilakukan secara mendadak tanpa sosialisasi memicu kebingungan massal.
Sejumlah sopir angkutan kota mengeluhkan kerugian yang mereka alami. Selain kehilangan waktu akibat terjebak macet, mereka juga harus menanggung pembengkakan biaya operasional, terutama bahan bakar. Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, jumlah penumpang justru menurun karena masyarakat enggan beraktivitas di tengah situasi yang tidak kondusif.
“Biasanya kami bisa dapat beberapa rit dalam sehari, sekarang satu saja sudah syukur. Macet di mana-mana, rute berubah tanpa pemberitahuan. Ini jelas merugikan,” ungkap salah satu sopir dengan nada kecewa.
Fenomena “megat angkot” pun tak terhindarkan. Penumpang dipaksa turun di tengah perjalanan dan berganti kendaraan karena rute yang tidak jelas. Situasi ini tidak hanya menyulitkan, tetapi juga menambah beban biaya bagi masyarakat kecil.
Tak berhenti di situ, kritik juga mengarah pada substansi acara yang dinilai kehilangan esensi. Sebagai event yang mengusung nama budaya Garut, GPBG 2026 justru dianggap gagal memberi ruang yang layak bagi seniman dan pelaku budaya lokal. Banyak pihak menilai bahwa panggung utama lebih didominasi pihak luar, sementara talenta daerah hanya menjadi penonton di rumah sendiri.
Seorang perwakilan komunitas seni di Garut menyebut kondisi ini sebagai bentuk pengabaian terhadap potensi lokal yang selama ini berjuang mengangkat identitas budaya daerah.
“Kalau bukan kita yang menghidupkan budaya Garut, lalu siapa? Tapi kenyataannya, kami justru tidak dilibatkan secara maksimal. Ini bukan sekadar soal tampil atau tidak, tapi soal penghargaan terhadap pelaku budaya lokal,” ujarnya.
Kritik ini membuka pertanyaan besar: untuk siapa sebenarnya acara ini digelar? Jika tujuan utamanya adalah mempromosikan budaya daerah, maka pelibatan pelaku lokal seharusnya menjadi prioritas, bukan sekadar pelengkap.
Di sisi lain, transparansi anggaran juga mulai dipertanyakan. Publik menilai perlu adanya keterbukaan terkait besaran dana yang digunakan, termasuk rincian alokasinya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat luas, bukan sekadar menciptakan euforia sesaat.
Pengamat kebijakan publik di Garut menilai bahwa persoalan ini mencerminkan lemahnya perencanaan strategis dan kurangnya pendekatan partisipatif dalam penyelenggaraan kegiatan berskala besar.
“Event sebesar ini seharusnya dirancang dengan matang, melibatkan berbagai pihak, dan memiliki dampak nyata. Jika yang muncul justru keluhan, maka ada yang keliru sejak awal,” ungkapnya.
Gelombang kritik yang terus menguat menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. Ke depan, masyarakat berharap agar setiap kegiatan tidak hanya berorientasi pada kemegahan, tetapi juga pada kebermanfaatan, keberpihakan, dan keberlanjutan.
GPBG 2026 seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya Garut. Namun jika tidak dikelola dengan bijak, justru berpotensi menjadi contoh bagaimana sebuah agenda besar kehilangan makna di tengah gemerlapnya seremoni.
Kini, publik menunggu langkah konkret dari pemerintah: apakah kritik ini akan dijadikan bahan introspeksi, atau justru berlalu tanpa perubahan berarti. Yang jelas, masyarakat Garut tidak membutuhkan kemewahan sesaat, melainkan kebijakan yang berpihak dan berdampak nyata. (DIX)
Sering meresahkan, Polisi tertibkan Knalpot Tidak Sesuai Spesifikasi di Samarang Garut
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Jajaran Polres Garut bersama Polsek Samarang menggelar operasi gabungan penertiban knalpot yang tidak sesuai spesifikasi teknis, serta antisipasi kejahatan C3 di wilayah Kecamatan Samarang.
Bertempat di Jalan Raya Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat yang tepatnya di depan Mapolsek Samarang.
Kapolsek Samarang, AKP Hilman Nugraha, S.H., menyampaikan bahwa operasi ini menyasar berbagai pelanggaran kasat mata, khususnya pengendara sepeda motor yang menggunakan knalpot tidak sesuai spesifikasi teknis.
“Dalam kegiatan tersebut, petugas berhasil mengamankan sebanyak 15 knalpot yang tidak sesuai standar teknis.” ujarnya saat di temui dilokasi Sabtu, (25/04/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kepolisian dalam menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif, sekaligus memberikan kenyamanan bagi masyarakat pengguna jalan dari gangguan kebisingan knalpot brong/tidak sesuai spesifikasi teknis serta potensi tindak kriminalitas.
Polisi mengimbau kepada masyarakat untuk selalu mematuhi peraturan lalu lintas dan tidak menggunakan knalpot yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis demi kenyamanan bersama. (Dens)