![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Perjalanan hidup Kepala Desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Endi, menjadi cerminan tentang arti pengabdian yang sesungguhnya. Dari medan tugas sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), kini ia berdiri di garis depan pemerintahan desa, memimpin dan melayani masyarakat dengan semangat yang tak pernah surut.
Bagi Endi, perubahan peran dari seorang prajurit berseragam loreng menjadi kepala desa bukanlah lompatan yang asing. Ia justru melihatnya sebagai kelanjutan dari pengabdian kepada bangsa dan negara, hanya saja dalam bentuk dan medan perjuangan yang berbeda.
“Dulu saya mengabdi sebagai prajurit TNI, menjaga kedaulatan negara. Sekarang saya mengabdi di desa, menjaga amanah dan kesejahteraan masyarakat. Bagi saya, pengabdian itu tidak pernah berhenti,” ujar Endi saat ditemui di Kantor Desa Mancagahar. Jum’at, (27/02/2026).
Ditempa Disiplin Militer, Diterapkan di Pemerintahan Desa
Endi mengaku, pengalaman panjangnya sebagai prajurit telah membentuk karakter kepemimpinan yang tegas, disiplin, dan terukur. Ia terbiasa bekerja dengan sistem komando yang jelas, perencanaan matang, serta evaluasi berkala terhadap setiap tugas yang dijalankan.
Nilai-nilai itu kini ia terapkan dalam tata kelola pemerintahan Desa Mancagahar. Ia menekankan pentingnya ketepatan waktu, pelayanan cepat, serta tanggung jawab penuh terhadap setiap program desa.
“Disiplin adalah fondasi. Kalau aparatur desa disiplin, pelayanan kepada masyarakat juga akan maksimal. Saya ingin perangkat desa bekerja dengan hati, tetapi tetap profesional,” tegasnya.
Menurut Endi, pemerintahan desa adalah garda terdepan dalam pelayanan publik. Warga tidak boleh dipersulit dalam mengurus administrasi, baik itu surat keterangan, pengantar, maupun layanan lainnya.
“Saya tidak ingin ada warga yang mengeluh karena pelayanan lambat atau berbelit. Kita harus hadir sebagai solusi,” katanya.
Memetakan Masalah, Menyusun Prioritas
Sejak awal menjabat sebagai Kepala Desa Mancagahar, Endi mengaku langsung melakukan pemetaan persoalan di lapangan. Ia turun langsung melihat kondisi infrastruktur, berbincang dengan tokoh masyarakat, serta mendengar aspirasi warga dari berbagai dusun.
Beberapa persoalan yang menjadi perhatian di antaranya adalah peningkatan kualitas jalan lingkungan, perbaikan sarana umum, serta penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
“Pembangunan harus berbasis kebutuhan. Kita tidak boleh asal bangun tanpa melihat urgensinya. Dana desa itu amanah, harus tepat sasaran dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan anggaran. Menurutnya, keterbukaan informasi kepada masyarakat menjadi kunci menjaga kepercayaan publik terhadap pemerintah desa.
“Kita harus terbuka. Program apa saja yang dikerjakan, berapa anggarannya, dan bagaimana realisasinya, masyarakat berhak tahu,” kata Endi.
Membangun Partisipasi dan Gotong Royong
Endi percaya, kemajuan Desa Mancagahar tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah desa. Ia mendorong budaya gotong royong dan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap program pembangunan.
Menurutnya, desa akan kuat jika masyarakatnya kompak dan memiliki rasa memiliki terhadap setiap hasil pembangunan.
“Kalau masyarakat dilibatkan sejak perencanaan, mereka akan merasa memiliki. Itu yang saya dorong, musyawarah harus benar-benar hidup,” jelasnya.
Ia pun rutin menggelar pertemuan dengan tokoh agama, tokoh pemuda, serta unsur masyarakat lainnya untuk menyerap aspirasi dan menjaga komunikasi tetap terbuka.
Tantangan dan Harapan
Sebagai kepala desa, Endi menyadari tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Selain persoalan pembangunan fisik, ia juga harus mampu menjadi penengah dalam dinamika sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Namun, dengan latar belakang militer yang sarat pengalaman menghadapi berbagai situasi, ia mengaku siap menjalani tugas tersebut.
“Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, selama kita mau duduk bersama dan mencari solusi dengan kepala dingin,” ujarnya.
Ke depan, Endi berharap Desa Mancagahar bisa menjadi desa yang mandiri, tertib administrasi, serta memiliki daya saing ekonomi yang lebih baik. Ia ingin meninggalkan jejak kepemimpinan yang tidak hanya terlihat dari bangunan fisik, tetapi juga dari perubahan pola pikir dan semangat masyarakatnya.
“Saya tidak ingin sekadar menjabat. Saya ingin ada perubahan nyata yang dirasakan warga. Itu tujuan saya,” pungkasnya.
Perjalanan Endi dari prajurit TNI hingga memimpin Desa Mancagahar menjadi bukti bahwa semangat pengabdian dapat terus menyala dalam berbagai bentuk. Dari menjaga batas negara hingga menjaga amanah rakyat di tingkat desa, ia memilih tetap berdiri di garis depan: melayani dan mengabdi. (Wawan Sutiawan)
