Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

Bangunan Tua SDN Sukasenang 1 Mulai Lapuk, Guru Soroti Kebutuhan Revitalisasi Demi Keselamatan dan Kenyamanan Siswa

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Kondisi bangunan SDN Sukasenang 1, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang telah berdiri dan digunakan dalam waktu cukup lama, kini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah. Meski dari luar sebagian bangunan masih tampak berdiri kokoh, kondisi sejumlah bagian bangunan ternyata mulai mengalami penurunan akibat usia.

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan tampilan fisik bangunan sekolah, tetapi juga menyangkut kenyamanan dan aspek keselamatan para peserta didik serta tenaga pendidik yang setiap hari beraktivitas di lingkungan sekolah.

Guru SDN Sukasenang 1, Lukman, S.Pd., mengungkapkan bahwa kondisi bangunan apabila dilihat sekilas dari luar memang masih terlihat cukup baik. Namun, kondisi berbeda dapat terlihat ketika bangunan diperiksa secara lebih dekat.

Menurut Lukman, terdapat bagian-bagian tertentu, terutama pada dinding, yang mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Lapisan dinding disebut telah mengalami pengelupasan dan kondisi bangunan secara keseluruhan membutuhkan pemeliharaan.

“Kalau dari luar memang kelihatannya masih bagus. Tetapi kalau diperhatikan lebih dekat, dindingnya sudah ada yang melepuh dan mulai lapuk,” ujar Lukman saat di wawancarai awak media di ruang kerja Kepala Sekolah, Kamis (17/09/2026).

Bangunan Lama Membutuhkan Pemeliharaan

Lukman menjelaskan, bangunan sekolah tersebut merupakan bangunan lama yang telah digunakan dalam waktu panjang. Usia bangunan tentu menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam pemeliharaan sarana pendidikan. Menurutnya, bangunan lama pada prinsipnya masih dapat dipertahankan apabila memiliki nilai sejarah maupun nilai penting lainnya. 

Namun, keberadaan bangunan lama harus dibarengi dengan pemeliharaan secara berkala.Sebab, tanpa pemeliharaan yang memadai, kerusakan kecil berpotensi berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar dan pada akhirnya dapat meningkatkan kebutuhan biaya perbaikan.

“Bangunan yang lama tetap perlu diperhatikan dan dipelihara. Kalau memang ada bagian yang rusak, jangan sampai menunggu kerusakannya menjadi berat,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sekolah merupakan fasilitas publik yang setiap harinya digunakan oleh anak-anak dalam menjalankan proses pendidikan.

Kenyamanan Ruang Kelas Menjadi Kebutuhan

Lukman mengatakan salah satu kebutuhan yang dirasakan sekolah adalah tersedianya ruang kelas yang layak, aman dan nyaman.

Ruang kelas menjadi tempat utama siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar. Karena itu, kondisi fisik ruangan harus mendapat perhatian, mulai dari dinding, plafon, lantai, atap, pintu, jendela hingga berbagai sarana pendukung lainnya.

Apabila terdapat kerusakan pada bagian bangunan, pihak sekolah tentunya harus mempertimbangkan langkah penanganan dengan tetap memperhatikan ketentuan penggunaan anggaran yang berlaku.

Selain ruang kelas, kebutuhan sarana pembelajaran seperti meja dan bangku siswa juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.

Sebagian fasilitas sekolah yang telah lama digunakan tentu membutuhkan pemeliharaan maupun penggantian apabila kondisinya sudah tidak layak.

Dana Operasional Sekolah Memiliki Ketentuan

Dalam melakukan pemeliharaan, sekolah tidak bisa serta-merta menggunakan seluruh anggaran yang tersedia untuk semua jenis pekerjaan.Lukman menjelaskan, bahwa terdapat ketentuan dalam penggunaan dana operasional sekolah. Perbaikan ringan yang sesuai dengan ketentuan dapat diupayakan, sementara kerusakan berat membutuhkan penanganan melalui mekanisme dan sumber pembiayaan yang sesuai.

“Kalau yang masih bisa diusahakan melalui dana BOS tentu ada aturannya. Tetapi kalau kerusakannya terlalu berat, tentu tidak bisa sembarangan karena ada ketentuan yang harus dipatuhi,” jelasnya.

Kondisi ini membuat pihak sekolah berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah maupun dinas pendidikan untuk melihat secara langsung kebutuhan sekolah. Menurutnya, penanganan terhadap bangunan sekolah semestinya didasarkan pada kondisi faktual dan hasil pemeriksaan teknis sehingga kebutuhan perbaikan dapat ditentukan secara tepat.

Keselamatan Siswa Tetap Menjadi Perhatian

Di tengah kondisi bangunan yang sudah berusia lama, pihak sekolah mengaku tetap melakukan pengawasan terhadap kondisi sarana dan prasarana.

Di sisi lain,pemantauan dilakukan untuk mengetahui apabila terdapat bagian bangunan yang mulai mengalami kerusakan dan berpotensi menimbulkan risiko.

Langkah tersebut menjadi penting karena lingkungan sekolah setiap hari dipenuhi aktivitas peserta didik. Anak-anak menggunakan ruang kelas, halaman dan fasilitas sekolah lainnya selama proses pembelajaran berlangsung.

Lukman mengatakan pihak sekolah berupaya memperhatikan kondisi bangunan secara terus-menerus sebagai bentuk antisipasi.

“Setiap saat tetap diperhatikan keadaan bangunan ini untuk menjaga supaya tidak terjadi kecelakaan,” katanya.

Meski demikian, pengawasan internal sekolah tetap memiliki keterbatasan. Jika ditemukan kerusakan yang membutuhkan pekerjaan konstruksi atau anggaran besar, diperlukan dukungan dan penanganan melalui pihak yang memiliki kewenangan.

Ratusan Peserta Didik Membutuhkan Ruang Belajar Layak

SDN Sukasenang 1 juga memiliki jumlah peserta didik yang cukup banyak. Berdasarkan keterangan pihak sekolah, jumlah siswa mencapai sekitar 376 orang.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan di sekolah tersebut memiliki peran penting dalam menunjang kegiatan belajar mengajar masyarakat di wilayah sekitar.

Dengan jumlah siswa sebanyak itu, ketersediaan ruang belajar yang layak menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.

Pihak sekolah menyebutkan terdapat sekitar 10 ruang kelas yang digunakan, sementara keseluruhan bangunan dan ruangan yang ada memiliki jumlah lebih banyak.Kondisi tersebut, membuat pemeliharaan bangunan menjadi kebutuhan berkelanjutan.

Kepala Sekolah Diharapkan Sampaikan Kondisi Sekolah

Sementara itu, Kepala SDN Sukasenang 1, Azis Lesmana, S.Pd., diharapkan dapat menyampaikan kondisi sarana dan prasarana sekolah secara lebih lengkap kepada pemerintah dan dinas terkait.

Harapan tersebut terutama berkaitan dengan kebutuhan pemeliharaan maupun kemungkinan memperoleh bantuan revitalisasi terhadap bagian bangunan yang sudah membutuhkan penanganan.

Revitalisasi diharapkan tidak hanya berorientasi pada pembaruan tampilan fisik, tetapi juga memperhatikan kelayakan konstruksi dan kebutuhan utama sekolah.

Jika hasil pemeriksaan teknis menyatakan terdapat bagian bangunan yang harus diperbaiki, maka penanganannya diharapkan dapat dilakukan berdasarkan skala prioritas.

Pihak sekolah juga berharap program pemerintah di bidang pendidikan dapat menyentuh sekolah-sekolah yang memiliki bangunan lama dan membutuhkan perhatian.

Antara Pelestarian dan Keselamatan

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah bagaimana mempertahankan bangunan lama apabila memang memiliki nilai sejarah, tetapi pada saat yang sama memastikan bangunan tersebut tetap aman digunakan.Menurut pihak sekolah, kedua kepentingan tersebut seharusnya dapat berjalan beriringan.

Bangunan lama yang memiliki nilai sejarah tidak harus langsung dihilangkan. Namun, bagian bangunan yang mengalami kerusakan tetap harus mendapatkan pemeliharaan sesuai hasil kajian teknis.

Dengan demikian, nilai sejarah bangunan dapat tetap dipertahankan tanpa mengesampingkan keselamatan warga sekolah.

“Kalau memang bangunan lama dan harus diabadikan karena merupakan warisan, tetap harus ada pemeliharaan,” kata Lukman.

Sekolah Berharap Ada Perhatian Pemerintah

Pihak sekolah berharap pemerintah melalui dinas terkait dapat memberikan perhatian terhadap kondisi SDN Sukasenang 1.

Harapan tersebut bukan hanya berupa bantuan fisik, tetapi juga pemeriksaan dan pemetaan kondisi bangunan secara menyeluruh.

Dengan pemeriksaan tersebut, pemerintah dapat mengetahui bagian bangunan mana yang masih layak dipertahankan, bagian mana yang membutuhkan rehabilitasi, serta bagian mana yang membutuhkan penanganan lebih serius.

“Alangkah baiknya ada revitalisasi atau pemeliharaan, sehingga bangunan ini tetap bisa dipertahankan,” harapnya.

Bagi sekolah, dukungan pemerintah menjadi penting karena kemampuan sekolah untuk menangani kerusakan bangunan secara mandiri memiliki keterbatasan.

Sekolah harus menjalankan kegiatan pendidikan sekaligus memenuhi berbagai kebutuhan operasional lainnya. Sementara itu, pekerjaan konstruksi yang bersifat berat membutuhkan perencanaan, anggaran, serta mekanisme pelaksanaan yang sesuai dengan ketentuan.

Jangan Menunggu Kerusakan Menjadi Berat

Persoalan bangunan sekolah yang mulai mengalami kerusakan pada akhirnya membutuhkan perhatian sebelum kondisinya semakin parah.Pemeliharaan secara berkala merupakan salah satu langkah penting untuk memperpanjang usia bangunan sekaligus mengurangi risiko kerusakan yang lebih besar.

Bagi SDN Sukasenang 1, perhatian terhadap bangunan sekolah bukan semata-mata persoalan memperindah lingkungan pendidikan.Lebih dari itu, kondisi ruang belajar memiliki hubungan langsung dengan kenyamanan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran.

Sekolah berharap pemerintah dapat melakukan peninjauan dan pemeriksaan terhadap kondisi bangunan secara objektif. Apabila memang berdasarkan hasil pemeriksaan terdapat kebutuhan revitalisasi atau rehabilitasi, maka diharapkan dapat dipertimbangkan sesuai skala prioritas dan kemampuan anggaran pemerintah.

Dengan jumlah peserta didik sekitar 376 orang, keberadaan fasilitas pendidikan yang aman dan layak menjadi kebutuhan bersama.

Kini perhatian diarahkan kepada pemerintah dan dinas terkait agar kondisi bangunan SDN Sukasenang 1 dapat ditindaklanjuti melalui langkah yang tepat, terukur dan sesuai ketentuan. (DIX)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *