![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis, tuntutan terhadap aparatur pemerintah untuk menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas semakin tinggi. Masyarakat tidak lagi hanya menilai keberhasilan seorang pemimpin dari kemampuan menyampaikan pidato atau menyusun konsep yang baik, melainkan dari sejauh mana gagasan tersebut diwujudkan menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat langsung.
Pandangan tersebut disampaikan Kepala UPT Objek Pariwisata Situ Bagendit, Wawan Kulnaedin, S.E., yang menegaskan bahwa perubahan tidak akan pernah hadir tanpa adanya keberanian untuk bergerak, bekerja, dan terus melakukan pembenahan secara berkelanjutan.
Menurut Wawan, di era digital saat ini masyarakat disuguhi beragam konten motivasi, kutipan inspiratif, hingga teori kepemimpinan yang beredar luas di berbagai platform media sosial. Namun, ia menilai bahwa seluruh motivasi tersebut tidak akan memiliki arti apabila tidak diiringi dengan tindakan nyata.
“Jika ingin ada perubahan harus ada pergerakan. Hidup tidak seindah kata-kata motivasi dan teori. Kenyataan menuntut kita untuk bekerja, berjuang, dan terus berbenah,” ujar Wawan saat di wawancarai awak media melalui sambungan Whatsapp miliknya,Senin (27/07/2027) malam.
Pernyataan tersebut bukan sekadar slogan, melainkan menjadi filosofi hidup sekaligus prinsip kepemimpinan yang selama ini ia pegang dalam mengelola kawasan wisata Situ Bagendit, salah satu destinasi unggulan Kabupaten Garut yang terus dikembangkan sebagai ikon pariwisata daerah.
Motivasi Harus Berujung pada Aksi
Bagi Wawan, motivasi memang memiliki peranan penting dalam membangun semangat seseorang. Namun, motivasi hanyalah titik awal. Perubahan yang sesungguhnya, menurutnya, lahir ketika seseorang berani mengambil langkah pertama, menghadapi tantangan, dan tetap konsisten menjalankan tanggung jawabnya.
Ia melihat masih banyak orang yang mampu berbicara tentang perubahan, memberikan teori yang baik, bahkan menginspirasi orang lain melalui kata-kata. Akan tetapi, ketika dihadapkan pada tantangan nyata, tidak sedikit yang berhenti hanya pada tataran wacana.
“Berbicara memang mudah. Menulis konsep juga tidak sulit. Tetapi melaksanakan dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan itulah yang membutuhkan komitmen,” katanya.
Wawan menilai budaya kerja harus dibangun dengan orientasi pada hasil, bukan sekadar aktivitas administratif.menurutnya, keberhasilan organisasi bukan ditentukan oleh banyaknya rapat atau dokumen yang dihasilkan, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Mengelola Situ Bagendit Penuh Tantangan
Sebagai Kepala UPT Objek Pariwisata Situ Bagendit, Wawan mengaku menghadapi tantangan yang tidak ringan. Destinasi wisata yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Garut tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan agar tetap menjadi kawasan wisata yang bersih, nyaman, aman, dan mampu memberikan pengalaman terbaik bagi para wisatawan.
Tugas yang diemban tidak hanya sebatas mengawasi kawasan wisata.
Ia bersama seluruh jajaran juga harus memastikan kebersihan lingkungan tetap terjaga, fasilitas umum dapat dimanfaatkan dengan baik, pelayanan kepada pengunjung berjalan maksimal, keamanan kawasan wisata tetap kondusif, hingga membangun koordinasi dengan berbagai instansi dalam rangka pengembangan kawasan wisata.
Menurutnya, seluruh pekerjaan tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, bukan hanya pimpinan.
“Tidak ada pekerjaan besar yang bisa diselesaikan sendirian. Dibutuhkan kerja sama, komunikasi, dan rasa memiliki dari seluruh anggota tim,” ujarnya.
Pemimpin Harus Menjadi Contoh
Dalam pandangan Wawan, seorang pemimpin memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan. Ia percaya kepemimpinan bukan semata-mata soal jabatan struktural atau kewenangan memberikan instruksi.
Lebih dari itu, pemimpin harus mampu menunjukkan sikap disiplin, tanggung jawab, kejujuran, integritas, serta kemauan untuk turun langsung menyelesaikan persoalan di lapangan.
Menurutnya, bawahan akan lebih mudah mengikuti arahan apabila melihat pemimpinnya ikut bekerja bersama mereka.
“Kepemimpinan bukan soal siapa yang paling banyak memerintah, tetapi siapa yang paling siap memberi contoh,” katanya.
Budaya keteladanan, lanjutnya, merupakan fondasi penting dalam membangun organisasi yang sehat dan produktif.
Pelayanan Publik Menjadi Prioritas
Sebagai pengelola kawasan wisata, Wawan menempatkan pelayanan kepada masyarakat sebagai prioritas utama.
Ia berharap setiap wisatawan yang datang ke Situ Bagendit tidak hanya menikmati panorama alam yang indah, tetapi juga memperoleh pelayanan yang ramah, cepat, profesional, dan memberikan rasa nyaman.
Menurutnya, kualitas pelayanan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan tingkat kepuasan pengunjung.
Wisatawan yang merasa puas akan kembali berkunjung dan secara tidak langsung ikut mempromosikan destinasi wisata kepada masyarakat luas.
“Pelayanan yang baik merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan sektor pariwisata,” jelasnya.
Pariwisata sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
Wawan menilai sektor pariwisata memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Garut.
Keberadaan objek wisata bukan hanya memberikan manfaat bagi pemerintah daerah melalui peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Mulai dari pelaku UMKM, pedagang kecil, penyedia jasa transportasi, pelaku ekonomi kreatif, hingga sektor perhotelan dan kuliner dapat memperoleh manfaat dari berkembangnya sektor pariwisata.
Karena itu, ia menegaskan bahwa pengelolaan kawasan wisata harus dilakukan secara profesional, transparan, inovatif, dan berorientasi pada pelayanan.
“Situ Bagendit bukan hanya milik pemerintah, tetapi menjadi aset bersama yang harus dijaga dan dikembangkan,” ungkapnya.
Inovasi Tidak Selalu Mahal
Wawan juga menekankan pentingnya inovasi dalam menghadapi perubahan zaman.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa inovasi tidak harus selalu diwujudkan melalui program besar yang membutuhkan anggaran tinggi.
Menurutnya, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali menghasilkan dampak yang jauh lebih besar.
Mulai dari peningkatan kebersihan lingkungan, perbaikan tata kelola pelayanan, penataan fasilitas, hingga peningkatan disiplin pegawai merupakan bentuk inovasi sederhana yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik.
“Jangan menunggu sesuatu yang besar. Mulailah dari hal kecil yang dapat kita lakukan hari ini,” katanya.
Jangan Cepat Puas
Dalam kesempatan tersebut, Wawan juga mengingatkan seluruh aparatur pemerintah agar tidak cepat merasa puas terhadap berbagai capaian yang telah diraih.
Menurutnya, setiap keberhasilan harus menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri.
Sebab, tantangan pelayanan publik akan terus berkembang seiring meningkatnya harapan masyarakat.
Ia mengatakan setiap hambatan justru menjadi ruang pembelajaran untuk meningkatkan kualitas diri dan organisasi.
“Tidak ada keberhasilan tanpa tantangan. Justru melalui tantangan kita belajar menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bijaksana,” tuturnya.
Membangun Garut Melalui Kolaborasi
Wawan meyakini pembangunan daerah tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah.
Diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, akademisi, media, dan seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, sinergi menjadi modal utama dalam mempercepat kemajuan sektor pariwisata Kabupaten Garut. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan, keamanan, kelestarian lingkungan, sekaligus ikut mempromosikan potensi wisata daerah.
“Kita semua mempunyai tanggung jawab terhadap kemajuan daerah. Jika seluruh elemen bergerak bersama, hasilnya akan jauh lebih besar,” katanya.
Menjadi Inspirasi Bagi Generasi Muda
Di akhir penyampaiannya, Wawan berharap filosofi yang selama ini ia pegang dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda.
Ia mengajak kaum muda agar tidak hanya menjadi penonton atau penikmat berbagai motivasi yang beredar di media sosial, tetapi benar-benar menjadi pelaku perubahan yang mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan, masyarakat, maupun bangsa.
Menurutnya, masa depan tidak dibangun oleh mereka yang hanya pandai berbicara, melainkan oleh orang-orang yang berani mengambil langkah, bekerja keras, menjaga integritas, dan tidak mudah menyerah menghadapi tantangan.
“Jangan hanya berhenti pada kata-kata. Jadikan motivasi sebagai bahan bakar untuk bergerak. Karena masa depan yang lebih baik hanya akan diraih oleh mereka yang berani melangkah, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan tidak pernah menyerah menghadapi setiap tantangan,” pungkas Wawan Kulnaedin.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari banyaknya retorika atau teori yang disampaikan, melainkan dari kemampuan menghadirkan perubahan melalui kerja nyata, disiplin, integritas, dan keteladanan. Filosofi itulah yang terus menjadi pegangan Wawan Kulnaedin dalam memimpin UPT Objek Pariwisata Situ Bagendit, dengan harapan mampu menghadirkan pelayanan publik yang semakin prima sekaligus mendorong kemajuan pariwisata Kabupaten Garut sebagai salah satu sektor strategis pembangunan daerah. (*)













Leave a Reply