Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

Di Bawah Kepemimpinan Rusdedy, Lapas Kelas IIA Garut Torehkan Sederet Prestasi, Dari Tata Kelola Berkelas hingga Produk Warga Binaan Tembus Pasar Eropa

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Kepemimpinan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIA Garut, Jawa Barat, Rusdedy,A.Md., S.H.,IP.M.Si dinilai berhasil membawa perubahan signifikan terhadap sistem pembinaan, tata kelola kelembagaan, serta peningkatan kualitas pelayanan di lingkungan Lapas Kelas IIA Garut. Berbagai capaian berhasil diraih dalam kurun waktu kepemimpinannya, mulai dari optimalisasi pengelolaan anggaran, penguatan program pembinaan kemandirian, hingga keberhasilan produk hasil karya Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menembus pasar internasional.

Transformasi yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada peningkatan administrasi dan pelayanan publik, tetapi juga menyentuh aspek pembinaan yang menjadi ruh utama lembaga pemasyarakatan. Di bawah kepemimpinan Rusdedy, Lapas Kelas IIA Garut terus mendorong terciptanya warga binaan yang produktif, memiliki keterampilan, serta siap kembali berperan di tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pidananya.

Salah satu pencapaian yang menjadi sorotan adalah keberhasilan Lapas Kelas IIA Garut mengekspor sebanyak 8.500 unit produk Coir Shade atau kerajinan berbahan baku sabut kelapa ke pasar Eropa. Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting dalam pengembangan program pembinaan kemandirian yang mengedepankan kualitas, produktivitas, dan daya saing hasil karya warga binaan.

Program tersebut melibatkan ratusan WBP yang diberikan pelatihan secara berkelanjutan mulai dari proses produksi, pengendalian mutu hingga penyelesaian produk sesuai standar yang dibutuhkan pasar internasional. Keberhasilan ekspor ini membuktikan bahwa pembinaan di dalam lapas mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu bersaing di pasar global.

Selain sektor industri kreatif, Lapas Kelas IIA Garut juga mengembangkan berbagai program pembinaan berbasis ketahanan pangan. Beragam kegiatan seperti pertanian, budidaya ikan, peternakan, produksi roti, pengolahan kopi, konveksi, hingga pelatihan pangkas rambut menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian warga binaan.

Melalui program-program tersebut, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh bekal keterampilan yang diharapkan dapat menjadi modal usaha maupun peluang kerja ketika kembali ke lingkungan masyarakat.

Di bidang tata kelola pemerintahan, Lapas Kelas IIA Garut juga mencatatkan kinerja yang membanggakan. Tingkat realisasi anggaran mencapai 99,55 persen menunjukkan pengelolaan keuangan yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Capaian tersebut menjadi indikator kuat bahwa pelaksanaan program dan penggunaan anggaran berjalan sesuai perencanaan serta mampu mendukung peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Komitmen terhadap pemberantasan penyalahgunaan barang terlarang juga terus diperkuat melalui implementasi program Zero Halinar, yakni Zero Handphone, Pungutan Liar, dan Narkoba. Program ini diwujudkan melalui razia rutin, inspeksi mendadak, serta penggeledahan blok hunian secara berkala untuk memastikan lingkungan lapas tetap aman dan kondusif.

Langkah preventif tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pemasyarakatan yang bersih dan bebas dari praktik-praktik yang bertentangan dengan ketentuan hukum.

Tidak hanya melakukan pengawasan internal, pihak Lapas Kelas IIA Garut juga mengambil langkah tegas terhadap warga binaan yang dinilai berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban. Sejumlah warga binaan dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan dengan tingkat pengamanan maksimum sebagai bentuk penegakan aturan sekaligus menjaga stabilitas keamanan di dalam lapas.

Di sisi lain, pendekatan humanis tetap menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan pembinaan. Pemberian hak-hak warga binaan seperti remisi, Cuti Bersyarat (CB), Pembebasan Bersyarat (PB), maupun program reintegrasi sosial dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan agar warga binaan dapat kembali diterima dan beradaptasi dengan masyarakat setelah menyelesaikan masa pidananya.

Berbagai capaian tersebut mencerminkan komitmen Kalapas Rusdedy dalam membangun Lapas Kelas IIA Garut menjadi lembaga pemasyarakatan yang profesional, modern, akuntabel, serta berorientasi pada pembinaan sumber daya manusia. Prestasi yang diraih juga mendapat perhatian positif dari berbagai kalangan karena dinilai mampu menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga pusat pembentukan karakter, peningkatan keterampilan, dan pemberdayaan masyarakat.

Ke depan, Lapas Kelas IIA Garut diharapkan terus mempertahankan berbagai prestasi yang telah diraih sekaligus mengembangkan inovasi-inovasi baru dalam bidang pembinaan, pelayanan publik, keamanan, serta pemberdayaan warga binaan. 

Dengan semangat perubahan yang terus dibangun di bawah kepemimpinan Rusdedy, Lapas Kelas IIA Garut diharapkan mampu menjadi contoh bagi lembaga pemasyarakatan lainnya dalam mewujudkan sistem pemasyarakatan yang semakin berkualitas, humanis, produktif, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional. (*)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *