Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

Ketika Jurnalisme Hanya Menjadi Ajang Copy Paste dan Panggung Kesombongan

Loading

(Oleh: Diki Kusdian Pimpinan Umum Media Tribunpribunmi.com)

Opini,TRIBUNPRIBUMI.com – Dunia jurnalistik hari ini sedang menghadapi persoalan serius. Bukan hanya soal derasnya arus informasi, bukan pula sekadar tantangan teknologi digital, tetapi krisis yang paling berbahaya justru datang dari dalam tubuh profesi itu sendiri: hilangnya rasa malu dalam menjalankan kerja jurnalistik secara asal-asalan.

Fenomena berita copy paste kini bukan lagi rahasia umum. Rilisan yang seharusnya hanya menjadi bahan dasar informasi, malah dijadikan produk akhir tanpa proses pendalaman, tanpa konfirmasi, tanpa wawancara, bahkan tanpa sedikit pun sentuhan intelektual. Ironisnya, sebagian oknum justru tampil seolah-olah mereka turun langsung ke lapangan, merasa paling hebat, paling tahu, dan paling profesional.

Padahal publik sekarang tidak sebodoh yang mereka kira.

Masyarakat hari ini sudah bisa menilai mana berita hasil kerja jurnalistik sungguhan dan mana berita hasil salin-tempel yang dipoles sedikit lalu dipublikasikan demi mengejar tayang dan kepentingan tertentu. Gaya boleh meyakinkan, bahasa boleh dibuat seolah eksklusif, tetapi aroma copy paste tetap saja terasa.

Yang lebih memprihatinkan, ada sebagian oknum yang ketika dikritik malah sibuk membangun pencitraan dan merasa paling senior. Kritik dianggap serangan pribadi, bukan bahan introspeksi. Seolah dunia jurnalistik adalah panggung ego, bukan ruang pengabdian terhadap informasi publik.

Padahal inti dari profesi wartawan bukan sekadar menulis berita. Wartawan itu bekerja mencari fakta, melakukan verifikasi, menggali data, mendengar dari berbagai sudut pandang, lalu menyajikannya secara utuh kepada masyarakat. Itu sebabnya profesi jurnalis disebut profesi intelektual, karena kerja utamanya adalah berpikir, menganalisis, dan menguji informasi, bukan sekadar menekan tombol copy dan paste.

Kalau kerja jurnalistik hanya berhenti di salin-tempel rilisan, lalu apa bedanya wartawan dengan admin penyebar pesan berantai?

Lebih lucu lagi ketika kemampuan pas-pasan dibungkus dengan kesombongan setinggi langit. Sedikit-sedikit merasa paling paham kode etik, paling mengerti dunia pers, paling senior, bahkan gemar meremehkan karya orang lain. Padahal kualitas tulisan sendiri miskin kedalaman, miskin data, dan miskin perspektif.

Fenomena seperti ini sebenarnya sangat berbahaya bagi citra pers secara keseluruhan. Sebab ulah segelintir oknum dapat membuat kepercayaan masyarakat terhadap media perlahan runtuh. Publik menjadi ragu, mana media yang benar-benar bekerja dan mana yang hanya sekadar memburu klik, relasi, dan amplop.

Tidak sedikit pula yang menjadikan profesi wartawan sebagai alat kedekatan dengan kekuasaan. Kritik hilang ketika berhadapan dengan kepentingan. Ketajaman tulisan mendadak tumpul saat berdekatan dengan pejabat atau pihak tertentu. Sebaliknya, suara lantang baru muncul ketika tidak kebagian akses atau keuntungan.

Inilah ironi besar dunia jurnalistik hari ini.

Profesi yang seharusnya menjadi pilar demokrasi justru diisi oleh sebagian orang yang sibuk membangun citra diri. Lapangan tidak lagi dijadikan tempat mencari fakta, melainkan tempat berburu dokumentasi agar terlihat bekerja. Sementara isi berita cukup mengambil dari grup WhatsApp, rilisan instansi, atau portal lain, lalu dipoles seperlunya.

Padahal masyarakat sekarang semakin kritis. Mereka membaca, membandingkan, bahkan mampu melacak sumber asli sebuah berita. Era digital membuat publik tidak mudah dibohongi. Sekali ketahuan hanya menjadi “wartawan copy paste”, maka kredibilitas akan runtuh dengan sendirinya.

Menjadi jurnalis profesional bukan soal seberapa keras bicara di media sosial, bukan pula soal seberapa banyak kartu pers yang dimiliki. Profesionalisme lahir dari kualitas kerja, keberanian turun ke lapangan, kemampuan menggali fakta, dan integritas dalam menyampaikan informasi.

Karena pada akhirnya, wartawan sejati tidak membutuhkan pengakuan berlebihan. Karyanya yang akan berbicara.

Dan publik akan selalu bisa membedakan mana jurnalis yang bekerja dengan otak dan nurani, serta mana yang hanya sibuk menjerit sok tahu di tengah minimnya kemampuan sendiri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *