![]()
(Oleh: Pimpinan Umum Media Tribunpribumi.com)
BOGOR || TRIBUNPRIBUMI.com – Dalam setiap lingkaran kekuasaan baik di pemerintahan, organisasi, maupun komunitas sosial selalu ada dinamika yang tidak seluruhnya tampak di permukaan. Konflik terbuka memang mudah dikenali, tetapi justru yang paling berbahaya sering hadir dalam bentuk yang sunyi: mereka yang memilih mundur tanpa suara, dan mereka yang terlihat setia namun diam-diam menyusun langkah untuk menjatuhkan.
Dua wajah inilah yang patut diwaspadai: pembangkang yang mundur dalam diam, dan penjilat yang lihai “menaikkan diri” dengan cara menikam dari belakang.
Pembangkang tidak selalu hadir dengan suara lantang. Ada kalanya seseorang memilih mundur dari arena bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa tidak lagi memiliki ruang untuk bersuara. Ketika kritik diabaikan, aspirasi tidak didengar, dan keadilan terasa timpang, sebagian orang memilih diam. Mereka menarik diri, berhenti terlibat, dan tampak seolah-olah tidak lagi peduli.
Namun, diam bukan berarti selesai. Dalam banyak kasus, diam justru menjadi ruang bagi akumulasi kekecewaan. Pembangkang yang mundur seringkali menyimpan catatan panjang tentang perlakuan yang dianggap tidak adil, tentang keputusan yang dinilai keliru, dan tentang harga diri yang merasa dilukai. Mereka tidak lagi melawan secara langsung, tetapi mulai mengamati dari kejauhan.
Di titik inilah potensi bahaya muncul. Ketika seseorang yang pernah berada di dalam sistem memilih mundur dengan membawa beban emosi dan pengalaman, ia memiliki dua hal: pengetahuan dan motif. Pengetahuan tentang bagaimana sistem bekerja, serta motif untuk membuktikan sesuatu entah itu membela harga diri atau sekadar “membalas” keadaan.
Jika tidak dikelola dengan baik, pembangkang diam ini bisa berubah menjadi kekuatan laten. Mereka tidak lagi terikat oleh aturan internal, tidak memiliki kewajiban loyalitas, dan memiliki kebebasan untuk bergerak dari luar. Ketika momentum datang, mereka bisa kembali bukan sebagai bagian dari solusi, tetapi sebagai faktor yang memperkeruh situasi.
Di sisi lain, ada penjilat kekuasaan figur yang tampak selalu hadir di lingkaran dalam, terlihat setia, dan seringkali mendapatkan tempat strategis. Namun, kesetiaan mereka perlu dipertanyakan.
Apakah benar didasarkan pada komitmen terhadap nilai dan tujuan bersama, atau sekadar strategi untuk bertahan dan naik?
Penjilat kekuasaan tidak hanya sekadar memuji. Mereka adalah aktor yang memahami bagaimana sistem bekerja, bagaimana memanfaatkan celah, dan bagaimana memposisikan diri agar selalu berada di sisi yang “menguntungkan”. Mereka bisa tampil ramah, loyal, dan membantu. Namun di balik itu, mereka menyusun langkah yang sangat kalkulatif.
Salah satu ciri paling berbahaya dari penjilat adalah kemampuannya untuk “menikam dari belakang”. Mereka tidak akan menyerang secara terbuka, karena itu berisiko. Sebaliknya, mereka memilih jalur yang lebih halus membangun opini di belakang layar, memengaruhi keputusan secara diam-diam, atau bahkan menjatuhkan orang lain tanpa terlihat sebagai pelaku.
Dalam banyak kasus, penjilat juga pandai memanfaatkan situasi. Ketika ada celah konflik, mereka akan masuk. Ketika ada figur yang melemah, mereka akan mengambil alih. Ketika ada peluang untuk naik, mereka tidak ragu mengorbankan pihak lain. Loyalitas mereka bersifat sementara selama menguntungkan, mereka akan bertahan; ketika tidak, mereka akan berpindah.
Yang membuat situasi semakin kompleks adalah kemungkinan bertemunya dua tipe ini. Pembangkang yang mundur dalam diam, dengan segala kekecewaan dan pengetahuannya, bisa saja menjadi “sekutu tak langsung” bagi penjilat yang oportunis. Yang satu membawa motif emosional, yang lain membawa strategi dan akses. Jika keduanya bertemu dalam satu momentum, dampaknya bisa sangat merusak.
Sistem bisa terguncang dari dua arah sekaligus: dari luar oleh mereka yang pernah menjadi bagian di dalam, dan dari dalam oleh mereka yang berpura-pura setia. Inilah kondisi yang seringkali sulit diantisipasi, karena ancaman tidak datang secara frontal, melainkan melalui proses yang perlahan namun pasti.
Lalu, bagaimana cara menghadapinya?
Pertama, penting untuk membangun budaya komunikasi yang terbuka dan jujur. Banyak pembangkang diam lahir dari ruang yang tertutup di mana kritik tidak dihargai dan perbedaan dianggap ancaman. Ketika orang merasa didengar, bahkan jika tidak selalu disetujui, kecenderungan untuk mundur dengan membawa kekecewaan dapat diminimalisir.
Kedua, sistem harus dibangun di atas prinsip transparansi dan meritokrasi. Penjilat kekuasaan tumbuh subur di lingkungan yang tidak jelas ukurannya di mana kedekatan lebih dihargai daripada kinerja, dan loyalitas semu lebih penting daripada integritas. Dengan sistem yang transparan, ruang gerak mereka akan semakin sempit.
Ketiga, penting untuk membaca pola, bukan sekadar kata-kata. Orang yang terlalu sering berubah sikap, terlalu cepat mendekat ketika ada keuntungan, atau terlalu lihai memainkan dua sisi, patut untuk dicermati. Demikian pula dengan mereka yang tiba-tiba diam dan menjauh perlu dipahami, bukan diabaikan.
Pada akhirnya, menjaga stabilitas sebuah sistem bukan hanya soal kebijakan atau struktur, tetapi juga soal memahami manusia di dalamnya. Ada ego, ada ambisi, ada luka, dan ada kepentingan yang saling berkelindan. Mengabaikan hal ini sama saja membuka ruang bagi potensi konflik yang lebih besar.
Kewaspadaan bukan berarti menumbuhkan kecurigaan berlebihan, tetapi kesadaran bahwa tidak semua yang diam itu netral, dan tidak semua yang tampak setia itu tulus. Dalam dunia yang penuh dinamika, keseimbangan antara kepercayaan dan kehati-hatian menjadi kunci.
Sebab ancaman terbesar seringkali bukan datang dari mereka yang berteriak di depan, melainkan dari mereka yang memilih mundur sambil menyimpan perhitungan, dan dari mereka yang tersenyum sambil diam-diam menyiapkan langkah untuk menjatuhkan.(*)
