Banyak yang Ahli Ibadah Tapi Tak Pandai Menjaga Lidah: Ingat, Mulutmu Itu Harimaumu

Loading

(Oleh: Ust. Apid Sumarsana,.ZA)

Artikel,TRIBUNPRIBUMI.com – Di zaman ketika simbol-simbol keagamaan semakin mudah terlihat di ruang publik, kita menyaksikan fenomena yang menarik sekaligus memprihatinkan. Banyak orang tampak begitu tekun dalam menjalankan ibadah salat tepat waktu, rajin mengikuti pengajian, bahkan aktif dalam berbagai kegiatan sosial keagamaan. Namun di sisi lain, tidak sedikit dari mereka yang masih lalai dalam menjaga lisan. Kata-kata yang keluar terkadang tajam, menyakitkan, bahkan merusak hubungan antar sesama.

Fenomena ini seolah menjadi paradoks dalam kehidupan beragama. Ibadah yang semestinya membentuk akhlak mulia, justru belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku sehari-hari, khususnya dalam hal bertutur kata. Padahal, menjaga lisan bukan perkara sepele. Ia adalah salah satu indikator utama kualitas keimanan dan kedewasaan seseorang.

Lisan adalah anugerah sekaligus ujian. Dengan lisan, manusia bisa menyampaikan kebenaran, menenangkan hati yang gelisah, dan mempererat tali persaudaraan. Namun dengan lisan pula, seseorang bisa melukai, memfitnah, mencaci, bahkan menghancurkan keharmonisan yang telah lama dibangun. Itulah sebabnya muncul ungkapan bijak yang begitu dalam maknanya: “Mulutmu adalah harimaumu.”

Ternyata adanya sebuah kata atau kata lain, unggkapan ini mengingatkan bahwa apa yang keluar dari mulut kita bisa menjadi kekuatan yang menerkam diri sendiri jika tidak dikendalikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menyaksikan bagaimana sebuah ucapan yang tidak dipikirkan matang dapat memicu konflik besar. Perselisihan antar tetangga, pertengkaran dalam keluarga, hingga perpecahan di tengah masyarakat, sering kali berawal dari kata-kata yang tidak dijaga. Ucapan yang bernada merendahkan, sindiran tajam, atau bahkan sekadar candaan yang berlebihan, bisa meninggalkan luka yang tidak mudah sembuh.

Lebih mengkhawatirkan lagi, di era digital saat ini, lisan tidak lagi terbatas pada apa yang diucapkan secara langsung. Jari-jari kita di atas layar ponsel telah menjadi perpanjangan dari lisan itu sendiri. Setiap tulisan di media sosial, setiap komentar, setiap pesan yang dikirim, semuanya mencerminkan siapa kita sebenarnya. 

Sementara tanpa disadari, banyak orang dengan mudah menyebarkan informasi yang belum tentu benar, mengomentari sesuatu tanpa dasar yang jelas, bahkan melontarkan ujaran kebencian di ruang publik digital.

Ironisnya, perilaku seperti ini kadang justru datang dari mereka yang secara lahiriah tampak religius. Hal ini menjadi cermin bahwa ibadah ritual saja belum cukup jika tidak diiringi dengan pengendalian diri dan pembinaan akhlak. Ibadah seharusnya tidak hanya membangun hubungan dengan Tuhan, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Menjaga lisan sejatinya adalah bentuk jihad yang tidak ringan. Dibutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan kesadaran yang tinggi. Tidak mudah menahan diri untuk tidak berbicara ketika emosi memuncak. Tidak gampang untuk memilih diam ketika ada dorongan untuk ikut berkomentar. Namun di situlah letak nilai kemuliaannya.

Orang yang mampu menjaga lisannya adalah orang yang telah berhasil mengendalikan dirinya. Ia tidak mudah terpancing oleh provokasi, tidak tergoda untuk menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, dan tidak terbiasa mengumbar aib orang lain. Ia memahami bahwa setiap kata yang diucapkan akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat.

Lebih jauh lagi, menjaga lisan juga berarti memilih kata-kata yang baik dan bermanfaat. Tidak cukup hanya menahan diri dari ucapan buruk, tetapi juga berusaha menghadirkan ucapan yang membawa kebaikan. Kata-kata yang menenangkan, memberi semangat, dan menguatkan orang lain adalah bentuk ibadah yang sering kali dianggap sederhana, padahal dampaknya luar biasa.

Dalam kehidupan sosial, orang yang santun dalam berbicara akan lebih mudah diterima dan dihormati. Ia menjadi penyejuk di tengah panasnya perdebatan, menjadi penengah di tengah konflik, dan menjadi teladan dalam menjaga etika komunikasi. Sebaliknya, orang yang tidak mampu menjaga lisannya, meskipun ahli dalam ibadah, akan sulit mendapatkan kepercayaan dan penghargaan dari orang lain.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita melakukan evaluasi diri. Jangan sampai kita sibuk memperbaiki amalan lahiriah, tetapi melupakan aspek batiniah yang tidak kalah penting. Jangan sampai kita merasa sudah cukup baik hanya karena rajin beribadah, sementara lisan kita masih sering menyakiti orang lain.

Mari kita jadikan lisan sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan. Berbicaralah jika itu membawa manfaat, dan diamlah jika itu lebih menyelamatkan. Biasakan untuk berpikir sebelum berbicara, menimbang sebelum berkomentar, dan memastikan sebelum menyebarkan informasi.

Pada akhirnya, kualitas seseorang tidak hanya diukur dari seberapa sering ia beribadah, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga sikap dan ucapannya. Karena dari lisanlah, seseorang bisa dimuliakan atau justru direndahkan.

Ingatlah selalu, mulutmu adalah harimaumu. Ia bisa menjadi penjaga yang setia, atau justru menjadi pemangsa yang berbahaya. Kendalikan ia, arahkan ia, dan gunakan ia untuk kebaikan. Karena setiap kata yang keluar, akan kembali kepada diri kita sendiri, membawa konsekuensi yang tidak bisa dihindari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *