Harapan di Tengah Keterbatasan, Perjuangan Kang Deni Penjual Basreng Menanti Rumah Layak Huni

Loading

Harapan di Tengah Keterbatasan, Perjuangan Kang Deni Penjual Basreng Menanti Rumah Layak Huni

Bekasi,TRIBUNPRIBUMI.comDi tengah pesatnya pembangunan kawasan industri di wilayah Cikarang Timur, masih terselip kisah pilu yang dialami oleh warga kurang mampu. Salah satunya adalah Kang Deni, seorang penjual baso goreng (basreng) yang tinggal di Kampung Rawagebang, RT 001/010, Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Kehidupan Kang Deni bersama istri dan satu anaknya berlangsung dalam kondisi serba kekurangan. Mereka menempati sebuah rumah tua warisan keluarga yang kini kondisinya sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak huni. Rumah tersebut menjadi saksi bisu perjalanan hidup keluarga kecil ini yang penuh perjuangan.

Saat awak media mengunjungi kediamannya pada Kamis (30/04/2026), suasana haru begitu terasa. Bangunan yang berdiri di atas tanah sederhana itu tampak sudah rapuh dimakan usia. Dinding rumah yang seharusnya menjadi pelindung justru dipenuhi retakan dan sebagian sudah mengelupas, memperlihatkan struktur yang semakin melemah.

Bagian atap rumah pun tidak kalah mengkhawatirkan. Banyak kayu penyangga yang sudah lapuk dan lepas dari posisinya, membuat genteng terlihat tidak lagi kokoh. Kondisi ini sangat berbahaya, terlebih saat hujan deras disertai angin kencang melanda.

Ironisnya, rumah tersebut masih berlantai tanah. Ketika hujan turun, air dengan mudah masuk melalui celah-celah atap yang bocor, menjadikan lantai rumah becek dan berlumpur. Kelembapan tinggi yang terjadi setiap hari menjadi ancaman serius bagi kesehatan keluarga tersebut, terutama bagi sang anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Dengan wajah penuh kelelahan, Kang Deni mengungkapkan kondisi hidup yang ia jalani selama ini. Ia mengaku hanya bisa pasrah dengan keadaan karena keterbatasan ekonomi yang membelenggu.

“Untuk makan sehari-hari saja kadang tidak cukup. Saya hanya bisa berharap ada bantuan dari pemerintah atau para dermawan. Keinginan memperbaiki rumah pasti ada, tapi kemampuan belum ada,” ujar Kang Deni dengan suara lirih.

Setiap hari, Kang Deni berkeliling menjajakan basreng sebagai sumber penghasilan utama keluarga. Namun, pendapatan yang ia peroleh sangat tidak menentu, tergantung dari jumlah dagangan yang laku terjual. Dalam kondisi tertentu, ia bahkan harus pulang dengan penghasilan yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

Sementara itu, sang istri, Siti Julaeha, hanya berperan sebagai ibu rumah tangga yang mengurus anak dan membantu sebisanya. Tidak adanya penghasilan tambahan membuat kondisi ekonomi keluarga ini semakin tertekan.

Mimpi untuk memiliki rumah yang layak huni seolah menjadi sesuatu yang sulit digapai. Di tengah perjuangan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, memperbaiki rumah menjadi prioritas yang terpaksa harus dikesampingkan.

Kondisi memprihatinkan ini pun mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak. Pemerintah Desa Tanjungbaru merespons cepat setelah menerima laporan terkait kondisi rumah Kang Deni.

Kepala Desa Tanjungbaru, H. Dudu Hambali, SH, menyampaikan rasa prihatin sekaligus apresiasi terhadap kepedulian relawan dan awak media yang telah membantu mengangkat kondisi warganya ke publik.

“Kami sangat mengapresiasi langkah relawan dan media yang telah peduli terhadap warga kami. Ini menjadi perhatian bersama. Kami akan berupaya mengajukan bantuan agar rumah Kang Deni bisa segera diperbaiki dan menjadi layak huni,” ungkapnya.

Ia juga berharap adanya sinergi antara pemerintah, pihak swasta, dan para dermawan untuk membantu meringankan beban keluarga tersebut. Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan sosial seperti ini.

Kisah Kang Deni menjadi potret nyata bahwa masih banyak masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Di balik geliat modernisasi dan kemajuan daerah, masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan dan kondisi yang jauh dari kesejahteraan.

Kini, Kang Deni dan keluarganya hanya bisa berharap. Harapan sederhana untuk memiliki tempat tinggal yang aman, tidak bocor saat hujan, dan cukup layak untuk ditinggali bersama keluarga tercinta.

Uluran tangan dari para dermawan dan perhatian dari pemerintah diharapkan dapat menjadi titik awal perubahan bagi kehidupan mereka. Sebab bagi Kang Deni, rumah bukan sekadar tempat berteduh, tetapi juga simbol harapan akan masa depan yang lebih baik. (Mardani Lubis)

TRIBUNPRIBUMI.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *