Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

21 Tahun Mengabdi di Lapas Garut, Asep Saksikan Wajah Pemasyarakatan Berubah Setelah Kepemimpinan Kalapas Rusdedy

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Dua puluh satu tahun mengabdi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut membuat Asep Supriatna menjadi salah satu pegawai yang menyaksikan secara langsung perjalanan dan perubahan dunia pemasyarakatan dari masa ke masa.

Memulai pengabdian pada 2005 dengan latar belakang pendidikan keperawatan, Asep pada awalnya bertugas memberikan pelayanan kesehatan kepada warga binaan pemasyarakatan.

Kini, setelah melewati perjalanan panjang selama lebih dari dua dekade, Asep dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Garut, Jawa Barat.

Dari pengalaman panjang tersebut, Asep melihat adanya perubahan yang cukup signifikan dalam pola pembinaan warga binaan, khususnya dalam beberapa waktu terakhir setelah kepemimpinan Kalapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, A.Md.IP., S.H., M.Si.

Perubahan tersebut, menurut Asep, tidak hanya terlihat dari semakin banyaknya kegiatan kerja dan pemberdayaan warga binaan, tetapi juga dari pola pendekatan petugas dalam melihat warga binaan sebagai manusia yang harus dibina dan dipersiapkan untuk kembali ke tengah masyarakat.

Dari Orientasi Pengamanan Menuju Pembinaan Kemandirian

Asep mengenang ketika pertama kali dirinya menjadi bagian dari Lapas Garut pada 2005.

Pada masa itu, menurutnya, orientasi pemasyarakatan lebih dominan pada aspek pengamanan.Pembinaan kepribadian memang telah berjalan, tetapi kegiatan kemandirian belum menjadi bagian yang begitu menonjol seperti sekarang.

“Yang saya tahu Pemasyarakatan saat itu hanya berfokusnya pada pengamanan warga binaan saja. Meskipun sisi pembinaannya ada, tapi lebih menonjol itu di bidang pembinaan kepribadiannya. Kalau untuk kemandiriannya seperti sekarang tidak terlalu menonjol,” kata Asep saat ditemui di wawancarai awak media melalui sambungan Whatsapp miliknya,Selasa (01/09/2026).

Lebih dari dua dekade kemudian, Asep melihat paradigma tersebut semakin berkembang.Lapas tidak hanya menjadi tempat menjalankan proses pidana, tetapi juga diarahkan sebagai tempat untuk membentuk kemampuan dan kemandirian warga binaan.

Perubahan itu menurutnya semakin terasa dengan penguatan program kegiatan kerja di bawah kepemimpinan Kalapas Rusdedy.

Rusdedy Dorong Penguatan Kegiatan Kerja

Sebagai Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Asep menjadi salah satu pihak yang bersentuhan langsung dengan program pemberdayaan warga binaan.

Ia menyebut kepemimpinan Rusdedy memberikan perhatian terhadap pengembangan kegiatan kerja, ketahanan pangan, UMKM dan berbagai kegiatan produktif lainnya.

“Kalau ada peralihan Kemenkumham ke Imipas yang saya sangat rasakan itu peningkatan pembinaan kegiatan kerja. Karena apa yang diprogramkan saat ini sangat berpengaruh sekali,” ujar Asep.

Menurutnya, perubahan tersebut membuat kegiatan kerja di Lapas Garut tidak lagi sekadar berbentuk pelatihan.

Kegiatan diarahkan agar mempunyai hasil yang dapat dirasakan warga binaan, termasuk dari sisi ekonomi.

“Sebelumnya kegiatan kerja di lapas itu hanya terfokus ke pelatihan. Adapun yang sifatnya kegiatan lainnya itu tidak terlalu signifikan seperti sekarang,” ungkapnya.

Dari Peternakan Ayam hingga 24 Kegiatan Kemandirian

Asep membandingkan kondisi kegiatan kerja pada masa lalu dengan perkembangan saat ini.Pada 2019, Lapas Garut telah memiliki kerja sama dengan pihak swasta dalam bidang peternakan ayam pedaging dengan kapasitas sekitar 14.000 ekor.

Namun, jumlah warga binaan yang terserap dalam kegiatan tersebut masih sangat terbatas.

“Dulu kandang ayam hanya menyerap tenaga kerja napi nol koma sekian persen karena tenaga kerja kita hanya tiga orang, paling banyak pun lima orang. Sedangkan jumlah napi sekitar 500 orang,” jelasnya.

Kegiatan kerajinan tangan juga masih menghadapi kendala pemasaran karena produksinya banyak bergantung pada pesanan.Menurut Asep, kondisi tersebut berbeda dengan perkembangan saat ini.

Lapas Garut kini memiliki sekitar 24 kegiatan kemandirian, sementara lebih dari 30 persen warga binaan disebut telah terserap dalam berbagai kegiatan kerja.

Warga binaan lainnya mengikuti kegiatan kebersihan, pembinaan kepribadian, kepramukaan, pesantren dan kegiatan lainnya.Hampir seluruh kegiatan kemandirian tersebut diarahkan agar memiliki nilai ekonomi.

Dengan demikian, warga binaan bukan hanya mendapatkan pengalaman dan keterampilan, tetapi juga dapat memperoleh premi dari pekerjaan yang dilakukan.

Pemetaan Minat dan Bakat Sejak Hari Pertama

Salah satu strategi yang diterapkan Asep bersama Kalapas Rusdedy adalah melakukan pemetaan minat dan bakat warga binaan sejak awal mereka masuk ke lapas.Menurut Asep, strategi tersebut diperlukan agar warga binaan dapat diarahkan kepada kegiatan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“Strategi saya bersama Pak Kalapas untuk membuat napi tertarik di bimbingan kerja dengan cara hari pertama dia masuk, kita sudah screening minat dan bakat,” katanya.

Bagi warga binaan yang telah mempunyai keterampilan tertentu, mereka dapat diarahkan ke bidang yang sesuai.

Sementara bagi warga binaan yang belum mempunyai keahlian, diberikan kesempatan mempelajari pekerjaan yang relatif mudah dikuasai dan mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Salah satunya adalah pembuatan coir sheet berbahan serat sabut kelapa.Bahkan, kegiatan tersebut mulai diperkenalkan sejak warga binaan menjalani masa pengenalan lingkungan atau mapenaling.

“Mereka bahkan pada saat mapenaling pun diwajibkan untuk belajar itu, sehingga harapannya ketika dia turun ke blok sudah siap bekerja dan sudah bisa,” tutur Asep.

Bukan Sekadar Mengisi Waktu

Bagi Asep, kegiatan kerja tidak boleh dipandang hanya sebagai aktivitas untuk mengisi waktu selama warga binaan menjalani masa pidana.Kegiatan tersebut harus mempunyai tujuan jangka panjang.

Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali kepada keluarga dan lingkungan masyarakat.Apalagi, setiap kegiatan kemandirian memberikan premi kepada warga binaan.Asep bahkan pernah menemukan warga binaan yang menggunakan penghasilannya untuk membantu mengganti biaya perjalanan keluarganya ketika datang berkunjung.

Hal tersebut menunjukkan bahwa program pemberdayaan tidak hanya memberikan manfaat kepada warga binaan, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap keluarganya.

Perubahan Tidak Hanya pada Program, tetapi Juga Cara Pandang Petugas

Selama 21 tahun bekerja, Asep mengatakan bahwa perubahan pemasyarakatan juga terjadi pada cara petugas memandang warga binaan.

Pada masa awal dirinya bertugas, petugas lebih menempatkan diri sebagai aparat yang menjalankan fungsi pengamanan.

Namun, kini pendekatan tersebut berkembang menjadi lebih humanis.

“Kalau dulu awal-awal saya menjadi pegawai lapas itu memposisikan petugas lapas ya sebagai petugas,” ungkapnya.

“Kalau sekarang yang saya rasakan kita sebagai orang tua warga binaan, kadang menempatkan diri sebagai saudara mereka dan bahkan sebagai teman mereka,” sambung Asep.

Pendekatan tersebut menurutnya bukan berarti mengabaikan aturan.Sebaliknya, kedekatan dan komunikasi diperlukan untuk memahami persoalan yang sebenarnya dihadapi warga binaan.

Kisah Jefri yang Membekas bagi Asep

Asep memiliki satu pengalaman ketika masih bertugas sebagai perawat yang hingga kini masih diingat.

Saat itu terdapat warga binaan bernama Jefri asal Aceh yang hampir setiap hari datang ke klinik.Keluhan yang disampaikan beragam, mulai dari demam hingga gatal.

Namun, setelah Asep mencoba mengajaknya berbicara secara lebih personal, terungkap bahwa Jefri tidak selalu datang karena sakit.

“Ternyata setelah saya ajak ngobrol tentang keluhan, jawabannya dia ke klinik hanya cari refreshing saja,” kata Asep.

Asep kemudian mengarahkannya untuk mengikuti kegiatan keagamaan di masjid.

Saat itu Jefri belum mampu membaca Al-Qur’an.

Asep pun secara perlahan mendorongnya belajar agama.Hasilnya, frekuensi Jefri datang ke klinik semakin berkurang.

Dari yang sebelumnya hampir setiap hari, menjadi dua minggu sekali, hingga akhirnya datang hanya ketika benar-benar sakit.

“Karena dia mendapatkan ketenangan di masjid ternyata. Sebetulnya keluhannya di psikisnya dia,” ujarnya.

Ketika akhirnya bebas, Jefri disebut telah beberapa kali khatam Al-Qur’an.

Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan tidak selalu berbentuk kegiatan fisik atau pekerjaan.Pendekatan psikologis, komunikasi dan pembinaan keagamaan juga dapat memberikan pengaruh besar terhadap perubahan seseorang.

Tantangan Besar Ada Setelah Warga Binaan Bebas

Di tengah berbagai perkembangan positif di dalam lapas, Asep menyebut masih ada persoalan besar yang membutuhkan perhatian bersama.Persoalan tersebut adalah stigma masyarakat terhadap mantan warga binaan.

“Kalau boleh saya bilang cara berpikir masyarakat itu masih menganggap warga binaan itu orang jahat, dan menstigma mereka masih jelek,” ujarnya.

Asep menceritakan, ada mantan warga binaan yang baru kembali ke kampung halaman namun langsung dicurigai ketika terjadi kasus pencurian di lingkungan sekitar.

Padahal, orang tersebut tidak terlibat.

Menurutnya, stigma semacam itu dapat membuat mantan warga binaan merasa tidak diterima. Bahkan, ia pernah bertanya kepada seorang residivis mengapa kembali melakukan tindak pidana.

Salah satu jawabannya, menurut Asep, karena lingkungan lapas justru dianggap lebih menerima mereka dibandingkan lingkungan di luar.Karena itu, Asep berharap tersedia wadah pekerjaan maupun komunitas yang dapat menerima dan memberdayakan mantan warga binaan.

“Harapan saya itu ada wadah kerja untuk mereka setelah pulang dari sini,” katanya.

Ia meyakini bahwa mantan warga binaan tetap mempunyai potensi yang dapat dikembangkan.

“Saya yakin mereka punya hati yang bersih dan pasti punya sisi yang buruk juga. Mungkin jika ada wadah di luar yang bisa menyalurkan bakat mereka, seolah masuk ke komunitasnya, mungkin mereka akan merasa nyaman kembali,” ungkapnya.

Pendidikan dan Keterampilan Perlu Dukungan Banyak Pihak

Asep juga menyoroti persoalan pendidikan.

Menurutnya, masih banyak warga binaan yang memiliki tingkat pendidikan rendah.

Karena itu, pembinaan tidak mungkin hanya menjadi tanggung jawab petugas pemasyarakatan.Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi sosial dan berbagai pihak lainnya diharapkan dapat ikut masuk memberikan dukungan.

“Karena kita juga memerlukan dukungan dari pihak eksternal, juga pihak internal. Karena warga binaan semuanya punya hak yang sama dengan yang tidak dipenjara: hak pendidikan, kesehatan dan keterampilannya,” tegas Asep.

Baginya, pembinaan harus dilakukan secara menyeluruh.Tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan kerja, tetapi juga membangun kepribadian, pendidikan, kesehatan, kehidupan keagamaan serta kesiapan sosial.

Rusdedy dan Semangat Membangun Pemasyarakatan yang Lebih Humanis

Kepemimpinan Kalapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, A.Md.IP., S.H., M.Si., dalam konteks tersebut menjadi bagian dari dinamika perubahan yang dirasakan Asep.

Program kegiatan kerja yang semakin diperluas, pemetaan minat dan bakat, pemberdayaan ekonomi serta penguatan pembinaan menjadi bagian dari upaya menjadikan warga binaan lebih siap menghadapi kehidupan setelah bebas.

Asep yang telah bekerja selama 21 tahun tentu memiliki pembanding antara masa lalu dan kondisi sekarang.

Baginya, perubahan tersebut bukan sekadar pergantian program, tetapi menyangkut perubahan cara pandang. Warga binaan tidak lagi hanya dipandang sebagai orang yang harus diawasi.Mereka juga harus dibimbing agar mampu memahami kesalahan, memperbaiki diri, mendapatkan keterampilan dan membangun kembali kehidupannya.

Memahami Akar Masalah

Setelah puluhan tahun berinteraksi dengan warga binaan, Asep memiliki pandangan tersendiri mengenai faktor yang membuat seseorang akhirnya berhadapan dengan hukum. Ia menilai persoalan tersebut tidak dapat dilihat hanya dari tindak pidananya.

Ada persoalan pendidikan, lingkungan sosial, kondisi ekonomi dan pembinaan keagamaan yang menurutnya turut berpengaruh.

“Saya selalu mengatakan bukan narkoba atau pencurian yang membuat mereka masuk ke sini, tapi karena pondasi agamanya kurang. Selain agama, yang mengantarkan mereka ke sini adalah faktor sosialnya tidak bagus dan ekonominya kurang,” tutup Asep.

Pernyataan tersebut menjadi refleksi dari pengalaman panjangnya selama 21 tahun.

Pemasyarakatan Bukan Sekadar Tembok dan Jeruji

Perjalanan Asep menunjukkan bahwa perubahan pemasyarakatan dapat dilihat dari banyak sisi.Dari pelayanan kesehatan yang semakin berkembang, kegiatan kerja yang semakin beragam, keterampilan yang mulai diarahkan pada nilai ekonomi, hingga perubahan pendekatan petugas terhadap warga binaan.

Di bawah kepemimpinan Kalapas Rusdedy, penguatan kegiatan kerja menjadi salah satu bagian penting dalam upaya membangun kemandirian warga binaan. Namun, proses tersebut tidak berhenti di dalam lapas.

Masyarakat juga mempunyai peran penting dalam menentukan apakah seseorang yang telah menjalani hukuman mampu benar-benar memulai kehidupan baru.

Karena ketika pintu lapas terbuka dan seorang warga binaan kembali kepada keluarganya, tantangan baru justru dimulai.

Ia harus mendapatkan pekerjaan, membangun kembali kepercayaan keluarga, menghadapi lingkungan sosial dan membuktikan bahwa dirinya telah berubah.

Di titik itulah pemasyarakatan membutuhkan dukungan semua pihak.

Bagi Asep, 21 tahun pengabdian telah memberikan satu pelajaran penting bahwa manusia yang pernah melakukan kesalahan tetap memiliki kesempatan untuk berubah.

Dan tugas pemasyarakatan bukan hanya memastikan seseorang menjalani hukuman, tetapi juga membantu mempersiapkan mereka agar ketika kembali ke masyarakat, mereka memiliki bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

“Dari menjaga menuju membina, dari membina menuju memberdayakan, dan dari memberdayakan menuju kemandirian.”

Semangat itulah yang kini menjadi bagian dari wajah baru pemasyarakatan yang dirasakan Asep setelah lebih dari dua dekade mengabdi di Lapas Garut. (DIX)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *