![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Peringatan 21 April 2026 kembali menjadi sorotan publik, tidak hanya sebagai Hari Kartini, tetapi juga sebagai momentum berbagai peringatan penting di tingkat dunia. Hal tersebut disampaikan Direktur Perumda Air Minum Tirta Intan Garut, Dr. H. Dadan Hidayatulloh,S.Ag.,M.I.Poll yang mengajak masyarakat untuk memaknai tanggal tersebut secara lebih luas dan mendalam.
Menurutnya, selama ini masyarakat Indonesia cenderung memusatkan perhatian pada sosok Raden Ajeng Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan. Kartini memang menjadi tonggak penting dalam sejarah emansipasi wanita, khususnya dalam memperjuangkan hak pendidikan dan kesetaraan di masa penjajahan.
Namun, di era modern saat ini, nilai-nilai perjuangan tersebut perlu diperluas dan dikontekstualisasikan dengan tantangan global yang semakin kompleks.
“21 April bukan hanya tentang mengenang Kartini, tetapi juga menjadi momentum refleksi terhadap berbagai isu global. Ada pesan besar yang harus kita tangkap bersama, mulai dari pentingnya inovasi hingga kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Dadan, Selasa (21/04/2026).
Ia menjelaskan, secara internasional, tanggal 21 April juga diperingati sebagai Hari Kreativitas dan Inovasi Sedunia (World Creativity and Innovation Day). Peringatan ini didorong oleh Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) sebagai upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya kreativitas dalam menjawab berbagai tantangan, baik di sektor ekonomi, pendidikan, maupun teknologi.
Dalam pandangan Dadan, kreativitas dan inovasi menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika zaman yang terus berubah. Ia menilai, lembaga pelayanan publik seperti Perumda Air Minum Tirta Intan Garut juga dituntut untuk terus beradaptasi dan berinovasi demi memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Di sektor pelayanan air minum, inovasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Kita harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dengan solusi yang efektif, efisien, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Selain itu, 21 April juga diperingati sebagai Hari Burung Curlew Sedunia (World Curlew Day), yang bertujuan meningkatkan kesadaran terhadap kelestarian burung curlew yang kini populasinya terus menurun. Burung ini dikenal sebagai indikator penting kesehatan ekosistem, khususnya di wilayah pesisir dan lahan basah.
Tak hanya itu, terdapat pula Hari Hak Tuna (Tuna Rights Day), yang menyoroti ancaman terhadap populasi ikan tuna akibat praktik penangkapan berlebihan. Isu ini menjadi perhatian global karena berkaitan erat dengan keseimbangan ekosistem laut dan keberlanjutan sumber daya alam.
Dadan menilai, berbagai peringatan tersebut memiliki keterkaitan yang erat dengan tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan alam. Ia menekankan bahwa keberlanjutan lingkungan harus menjadi perhatian bersama, termasuk di tingkat daerah.
“Air, lingkungan, dan ekosistem adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jika kita abai, maka dampaknya akan kembali kepada manusia itu sendiri. Oleh karena itu, kesadaran menjaga lingkungan harus terus kita bangun,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Garut untuk tidak hanya menjadikan 21 April sebagai peringatan seremonial, tetapi sebagai momentum untuk melakukan perubahan nyata.
Menurutnya, semangat Raden Ajeng Kartini harus diterjemahkan dalam konteks kekinian, yakni dengan memperkuat peran perempuan, mendorong inovasi, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Perjuangan Kartini adalah tentang membuka jalan. Hari ini, tugas kita adalah melanjutkan jalan tersebut dengan kontribusi nyata di berbagai bidang,” katanya.
Dadan juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan global. Ia percaya bahwa sinergi yang kuat akan mampu menciptakan solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
“Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Semua pihak harus terlibat. Baik dalam menjaga lingkungan, meningkatkan kualitas pelayanan, maupun dalam menciptakan inovasi yang berdampak luas,” jelasnya.
Di akhir pernyataannya, Dadan kembali menegaskan bahwa 21 April adalah momentum yang sarat makna, tidak hanya bagi perempuan Indonesia, tetapi juga bagi seluruh masyarakat dunia.
“Ini adalah hari refleksi sekaligus aksi. Kita diingatkan bahwa perjuangan belum selesai. Baik dalam hal kesetaraan, inovasi, maupun menjaga bumi. Semua itu adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya. (*)
