Jejak Sanitasi Masa Lalu Diubah Bak Singgasana, Bukti Peradaban Bersih Sejak Dulu

Loading

Jejak Sanitasi Masalalu Diubah Bak Singgasana, Bukti Peradaban Bersih Sejak Dulu

Solo,TRIBUNPRIBUMI.com – Di tengah arus modernisasi yang kian pesat, sebuah bangunan tua yang berdiri kokoh di kawasan Ngebrusan, Kestalan, Banjarsari, menyimpan pesan penting tentang peradaban yang kerap terlupakan. Bangunan yang dikenal dengan sebutan “ponten” ini sekilas tampak seperti singgasana kerajaan atau tempat sakral. Namun siapa sangka, di balik arsitekturnya yang megah dan artistik, ponten justru merupakan fasilitas sanitasi umum yang telah ada sejak puluhan tahun lalu.

Ponten ini dibangun pada tahun 1936 pada masa pemerintahan Sri Mangkunegara VII di lingkungan Pura Mangkunegaran. Keberadaannya menjadi bukti nyata bahwa kesadaran akan pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan telah menjadi perhatian serius sejak zaman dahulu, bahkan jauh sebelum konsep sanitasi modern berkembang seperti sekarang.

Dari luar, bangunan ini memang tidak menunjukkan fungsi utamanya. Bentuknya yang menyerupai bangunan monumental dengan sentuhan arsitektur khas kolonial membuatnya lebih mirip simbol kejayaan daripada fasilitas umum. Namun ketika ditelusuri lebih dalam, ponten ini dilengkapi dengan pancuran air serta bilik-bilik kecil yang difungsikan sebagai tempat mandi dan buang air.

Menariknya, meski dibangun tanpa pintu, desain ponten tetap memperhatikan aspek privasi. Setiap bilik dibuat berkelok sehingga tidak terbuka langsung ke arah luar. Selain itu, fasilitas untuk pria dan wanita dipisahkan, mencerminkan adanya pemahaman tentang etika, kenyamanan, dan norma sosial dalam penggunaan ruang publik.

Nama “ponten” sendiri berasal dari bahasa Belanda, fontein, yang berarti air mancur. Istilah ini merujuk pada sistem aliran air yang menjadi bagian utama dari fasilitas tersebut. Tak hanya sebagai tempat membersihkan diri, ponten juga menjadi simbol perubahan pola hidup masyarakat menuju lingkungan yang lebih sehat.

Bangunan ini dirancang oleh arsitek Belanda ternama, Thomas Karsten, yang dikenal banyak menghasilkan karya penting di Indonesia pada masa kolonial. Perancangan ponten bukan tanpa alasan. Pada masa itu, wilayah sekitar kerap dilanda wabah penyakit seperti kolera, yang salah satu penyebab utamanya adalah buruknya sanitasi lingkungan.

Kebiasaan masyarakat yang masih membuang hajat di sungai, termasuk di aliran Kali Pepe yang berada tak jauh dari lokasi, memperparah kondisi kesehatan. Menyadari hal tersebut, pemerintah kerajaan di bawah Mangkunegaran mengambil langkah konkret dengan membangun fasilitas sanitasi umum yang layak dan terorganisir.

Ponten menjadi solusi nyata untuk mengubah perilaku masyarakat. Dengan menyediakan tempat MCK yang mudah diakses, diharapkan masyarakat beralih dari kebiasaan lama menuju pola hidup yang lebih bersih dan sehat. Meski teknologi yang digunakan saat itu masih sederhana diduga menggunakan sistem septic tank namun keberadaannya sudah menjadi langkah maju dalam upaya pengelolaan limbah.

Kini, ponten Mangkunegaran telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Fungsinya mungkin telah bergeser seiring perkembangan zaman, namun nilai historis dan pesan yang dikandungnya tetap relevan hingga hari ini. Di era modern, sistem sanitasi telah berkembang pesat dengan adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal yang lebih canggih dan ramah lingkungan.

Namun ironisnya, di tengah kemajuan tersebut, masih ditemukan sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya sadar akan pentingnya sanitasi. Praktik buang air sembarangan di sungai masih terjadi di beberapa daerah, menjadi ironi yang mencerminkan kemunduran dalam perilaku, meski teknologi telah maju.

Ponten Mangkunegaran seolah menjadi cermin bagi generasi masa kini. Bahwa peradaban bersih bukanlah hal baru, melainkan warisan yang telah dirintis sejak lama. Bahkan, dalam beberapa aspek, pendekatan masa lalu menunjukkan keseriusan yang patut diapresiasi.

Lebih dari sekadar bangunan, ponten adalah simbol komitmen terhadap kesehatan publik dan lingkungan. Ia mengajarkan bahwa peradaban tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi, tetapi juga dari kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan dan kualitas hidup.

Dengan memahami sejarah ini, diharapkan masyarakat tidak hanya melihat ponten sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga sanitasi. Sebab pada akhirnya, lingkungan yang bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama sebagai bagian dari peradaban yang berkelanjutan. (YON)

TRIBUNPRIBUMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *