![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Momentum kenaikan pangkat di lingkungan Kepolisian Republik Indonesia bukan sekadar prosesi seremonial yang berlangsung khidmat di lapangan upacara. Di balik perubahan tanda pangkat yang tersemat di pundak seorang perwira, terdapat tanggung jawab moral, profesional, dan sosial yang semakin besar.
Hal itu tercermin dalam prosesi kenaikan pangkat yang digelar di Lapangan Mapolres Garut, Selasa (03/03/2026), saat IPDA Tata Setiawan resmi naik satu tingkat lebih tinggi. Upacara yang berlangsung penuh khidmat di lingkungan Polres Garut tersebut dihadiri jajaran perwira, anggota, serta keluarga yang turut menyaksikan momen penting dalam perjalanan kariernya.
Suasana haru dan bangga menyelimuti prosesi tersebut. Namun, alih-alih larut dalam euforia, IPDA Tata Setiawan justru menyampaikan refleksi mendalam tentang makna pangkat dan jabatan dalam institusi kepolisian.
“Pangkat adalah kehormatan, jabatan adalah amanah. Dan saya yakin juga, kita semua berasal dari masyarakat dan pada akhirnya akan kembali menjadi masyarakat,” ujarnya dengan nada tegas namun penuh kerendahan hati.
Pangkat Bukan Kekuasaan, Melainkan Kepercayaan
Dalam keterangannya kepada awak media, IPDA Tata menegaskan bahwa kenaikan pangkat bukanlah simbol kekuasaan atau privilese. Ia menyebut, pangkat adalah bentuk kepercayaan yang diberikan institusi atas dedikasi, integritas, serta konsistensi dalam menjalankan tugas.
Menurutnya, setiap jenjang yang dilalui bukan sekadar proses administratif, melainkan evaluasi panjang atas sikap, kinerja, dan komitmen terhadap nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya.
“Semakin tinggi pangkat, semakin besar tanggung jawabnya. Ini bukan soal kebanggaan pribadi, tapi tentang kesiapan memikul amanah yang lebih berat,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa seragam kepolisian tidak boleh menjadi sekat antara aparat dan masyarakat. Justru sebaliknya, seragam harus menjadi jembatan pengabdian, simbol kehadiran negara dalam memberikan rasa aman dan keadilan.
Dikenal Humanis dan Responsif
Di internal kesatuan, IPDA Tata Setiawan dikenal sebagai sosok yang disiplin dan responsif dalam menjalankan tugas. Dalam berbagai penanganan persoalan di lapangan, ia disebut kerap mengedepankan pendekatan persuasif dan komunikasi yang konstruktif.
Rekan sejawat menilai, gaya kepemimpinannya yang tenang namun tegas menjadi salah satu faktor yang membuatnya mampu menjaga stabilitas situasi di tengah dinamika sosial yang kerap berubah cepat.
Di era digital dan keterbukaan informasi seperti saat ini, tantangan tugas kepolisian semakin kompleks. Mulai dari persoalan keamanan konvensional hingga potensi gangguan berbasis teknologi, aparat dituntut untuk adaptif dan profesional.
IPDA Tata menyadari betul bahwa kepercayaan publik adalah modal utama dalam menjalankan tugas tersebut.
“Tanpa dukungan masyarakat, tugas kepolisian tidak akan maksimal. Karena itu, menjaga kepercayaan publik adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar,” katanya.
Jabatan Adalah Amanah, Bukan Kebanggaan Berlebihan
Dalam refleksinya, ia menekankan bahwa jabatan bukanlah sesuatu yang layak dibanggakan secara berlebihan. Baginya, jabatan adalah amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban—baik secara institusional maupun moral.
Ia meyakini, integritas menjadi fondasi utama dalam menjaga kehormatan pangkat. Tanpa integritas, pangkat hanya menjadi simbol kosong tanpa makna.
“Kehormatan harus dijaga dengan sikap dan tindakan. Amanah harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab,” tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap anggota Polri pada hakikatnya berasal dari masyarakat. Mereka tumbuh, dibesarkan, dan suatu saat akan kembali menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri.
Karena itu, menurutnya, pelayanan kepada warga harus dilakukan dengan hati, bukan sekadar formalitas tugas.
“Kita berasal dari masyarakat. Maka sudah seharusnya kita melayani dengan hati, bukan hanya menjalankan kewajiban,” tambahnya.
Awal Tantangan Baru
Kenaikan pangkat IPDA Tata Setiawan pun mendapat ucapan selamat dari berbagai pihak, baik dari internal kepolisian maupun masyarakat yang mengenalnya. Harapan pun mengalir agar dengan pangkat barunya, ia semakin bijaksana, profesional, serta mampu menjadi teladan bagi anggota lainnya.
Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan karier dalam institusi bukanlah tujuan akhir. Setiap kenaikan pangkat adalah awal dari tantangan baru yang menuntut kesiapan mental, keteguhan moral, dan komitmen pengabdian yang lebih besar.
Di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, figur-figur aparat yang humanis, berintegritas, dan rendah hati menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat.
Bagi IPDA Tata Setiawan, kenaikan pangkat bukanlah garis akhir, melainkan langkah baru dalam perjalanan panjang pengabdian.
“Pangkat adalah kehormatan, jabatan amanah, dan kita berasal dari masyarakat,” pungkasnya menutup pernyataan. (DIX)
