![]()
(Oleh: Diki Kusdian Pemimpin Redaksi Media Tribunpribumi.com)
Opini,TRIBUNPRIBUMI.com – Mari berhenti berpura-pura seolah-olah kehidupan sosial kita masih baik-baik saja. Mari berhenti membungkus kenyataan dengan kalimat-kalimat manis tentang persaudaraan, kebersamaan, solidaritas, dan gotong royong, sementara dalam praktiknya, semua itu terkadang justru terasa semakin jauh dari kehidupan sehari-hari.
Kita terlalu sering mendengar kata kebersamaan, tetapi terlalu jarang melihat bukti nyata ketika kebersamaan itu benar-benar dibutuhkan.
Kita begitu mudah berbicara tentang solidaritas, tetapi tidak semua orang bersedia berdiri di samping saudaranya ketika kesulitan datang. Kita lantang menyerukan persaudaraan, tetapi hubungan bisa mendadak renggang ketika kepentingan tidak lagi sejalan.
Lantas, untuk apa semua slogan itu?
Apakah kebersamaan hanya diperlukan ketika ada acara, pertemuan, kepentingan, atau sesuatu yang bisa diperoleh? Apakah solidaritas hanya berlaku ketika seseorang masih memiliki jabatan, uang, pengaruh, atau manfaat bagi orang lain?
Jika kenyataannya demikian, kita perlu berani mengakui satu hal: yang sedang kita pertontonkan bukan selalu kebersamaan, melainkan hubungan yang terkadang dibangun di atas kepentingan. Bukan selalu solidaritas, melainkan kedekatan yang bisa berubah ketika keuntungan tidak lagi tersedia.
Inilah kenyataan sosial yang patut kita kritik dan renungkan bersama.
Datang Saat Butuh, Menghilang Saat Dibutuhkan
Ada pola hubungan yang semakin sering menjadi bahan keluhan dalam kehidupan masyarakat: seseorang begitu mudah menghubungi kita ketika membutuhkan pertolongan, tetapi sulit ditemukan ketika kita sendiri sedang menghadapi persoalan.
Ketika memiliki keperluan, pesan datang bertubi-tubi. Sapaan terasa hangat. Kata-kata persaudaraan terdengar begitu meyakinkan. Bahkan, hubungan yang sebelumnya dingin mendadak terasa akrab.
Namun, setelah kepentingannya terpenuhi, semuanya berubah. Komunikasi merenggang. Sapaan menghilang. Kedekatan yang dahulu terlihat istimewa seolah tidak pernah ada.
Ketika kita membutuhkan bantuan, alasan mulai bermunculan. Ada yang mendadak sibuk, ada yang tidak merespons, ada pula yang memilih diam seolah tidak mengetahui persoalan yang sedang kita hadapi.
Tentu tidak semua orang seperti itu. Ada orang yang memang memiliki keterbatasan dan tidak sanggup membantu. Itu harus dihormati. Tidak ada seorang pun yang wajib memenuhi semua permintaan orang lain.
Namun, persoalannya berbeda ketika seseorang terus-menerus menuntut perhatian, tetapi tidak pernah menunjukkan kepedulian yang sepadan. Ketika bantuan dianggap sebagai kewajiban orang lain, sementara dirinya sendiri tidak pernah merasa perlu hadir untuk siapa pun.
Di situlah hubungan sosial kehilangan keseimbangannya.
Persaudaraan akhirnya hanya menjadi istilah untuk mempermudah kepentingan. Kebersamaan berubah menjadi alat untuk mendekati orang yang dianggap berguna. Sementara orang yang tidak memiliki sesuatu untuk ditawarkan perlahan-lahan dilupakan.
Pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar menghargai seseorang sebagai manusia, atau hanya menghargainya selama ia masih bisa memberikan keuntungan kepada kita?
Pertanyaan ini mungkin terasa menyakitkan. Namun, terkadang kenyataan memang harus disampaikan tanpa pemanis.
Solidaritas: Ramai dalam Ucapan, Sepi dalam Kenyataan
Kita sering menyaksikan betapa mudahnya orang berbicara tentang solidaritas. Dalam percakapan, semua orang bisa menjadi saudara. Dalam forum, semua orang bisa mengaku satu perjuangan. Dalam pertemuan, semua orang bisa menyatakan siap saling membantu.
Tetapi, ujian sebenarnya bukan ketika semua orang sedang duduk bersama dalam suasana nyaman.
Ujian sesungguhnya datang ketika seseorang mengalami kesulitan, ketika bantuan tidak mendatangkan keuntungan, ketika membela kebenaran berisiko menimbulkan ketidaknyamanan, atau ketika memberikan pertolongan tidak menghasilkan pujian.
Pada saat itulah ucapan harus dibuktikan.
Sayangnya, dalam sejumlah hubungan sosial, ada orang yang lebih bersemangat membicarakan solidaritas daripada menjalankannya. Mereka ingin selalu diperhatikan, tetapi belum tentu mau memperhatikan. Mereka ingin dibantu, tetapi tidak terbiasa membantu. Mereka ingin dianggap saudara, tetapi terkadang memperlakukan orang lain sekadar sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Solidaritas macam apa yang hanya berjalan satu arah?
Jika seseorang selalu hadir ketika membutuhkan, tetapi terus menghilang ketika orang lain membutuhkan kehadirannya, apakah hubungan tersebut masih layak disebut hubungan yang dilandasi kepedulian?
Jangan sampai kata solidaritas kehilangan makna karena terlalu sering digunakan tanpa tanggung jawab.
Sebab, solidaritas bukan soal siapa yang paling lantang berteriak bahwa kita bersaudara. Solidaritas adalah soal siapa yang tetap menunjukkan kepedulian ketika tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh.
Persaudaraan Jangan Dijadikan Topeng Kepentingan
Ada hal yang lebih menyedihkan daripada kehilangan seorang teman, yaitu menyadari bahwa kedekatan yang selama ini kita percaya mungkin tidak memiliki ketulusan seperti yang kita bayangkan.
Kita mengira hubungan dibangun atas dasar saling menghormati. Kita menganggap komunikasi yang terjalin merupakan tanda persaudaraan. Kita percaya bahwa ketika suatu hari menghadapi kesulitan, setidaknya akan ada orang yang bersedia mendengarkan.
Namun, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Dalam beberapa hubungan, istilah saudara digunakan dengan begitu mudah, tetapi tanggung jawab moral yang menyertainya justru diabaikan. Seseorang ingin memperoleh kepercayaan, tetapi tidak menjaga amanah. Ingin mendapatkan bantuan, tetapi tidak menghargai pengorbanan. Ingin selalu dipahami, tetapi enggan memahami keadaan orang lain.
Persaudaraan pun akhirnya menjadi sekadar bahasa pergaulan.
Padahal, menjadi saudara tidak berarti harus selalu memberikan bantuan materi. Menjadi sahabat bukan berarti wajib menyelesaikan semua persoalan orang lain. Dan menjadi bagian dari suatu kelompok tidak berarti harus selalu mengikuti kehendak kelompok tersebut.
Yang dibutuhkan adalah kejujuran, rasa hormat, dan kesediaan untuk tidak memperlakukan orang lain secara semena-mena.
Jika tidak mampu membantu, katakan dengan jujur. Jika tidak bisa memenuhi janji, jelaskan dengan baik. Jika memiliki perbedaan pandangan, sampaikan tanpa merendahkan.
Jauh lebih terhormat seseorang yang terus terang mengakui keterbatasannya daripada orang yang menebarkan janji manis hanya untuk mendapatkan kepercayaan.
Jangan menggunakan kata persaudaraan untuk membuka pintu kepentingan, kemudian meninggalkan tanggung jawab setelah tujuan tercapai.
Jangan Bangga dengan Banyaknya Kenalan
Dalam kehidupan sosial, memiliki banyak kenalan sering dianggap sebagai kekuatan. Seseorang yang mengenal banyak orang mungkin dipandang memiliki jaringan luas, mudah bergaul, dan memiliki hubungan di berbagai kalangan.
Namun, banyaknya kenalan tidak otomatis menunjukkan kuatnya persaudaraan.
Kita bisa mengenal ratusan orang, tetapi belum tentu memiliki hubungan yang dilandasi kepercayaan. Kita bisa berada dalam banyak kelompok, tetapi belum tentu mempunyai seorang pun yang bersedia berbicara jujur ketika kita melakukan kesalahan.
Kita bisa terlihat dikelilingi banyak orang ketika keadaan sedang baik-baik saja. Namun, ketika menghadapi persoalan, barulah terlihat siapa yang benar-benar peduli, siapa yang sekadar menjaga hubungan formal, dan siapa yang selama ini hanya mendekat karena kepentingan.
Karena itu, jangan terlalu bangga dengan banyaknya orang yang menyapa. Jangan langsung menganggap setiap senyuman sebagai ketulusan. Jangan pula menilai kualitas hubungan hanya dari seberapa sering seseorang menghubungi kita.
Hubungan yang sehat tidak harus selalu ramai. Persaudaraan yang tulus tidak selalu membutuhkan pengumuman. Bahkan, orang yang jarang berbicara bisa saja menunjukkan kepedulian lebih besar daripada mereka yang setiap hari mengumbar kata-kata manis.
Yang perlu kita nilai bukan sekadar kedekatan yang terlihat, melainkan perilaku yang konsisten.
Siapa yang menjaga kepercayaan? Siapa yang menghormati batas kemampuan orang lain? Siapa yang tidak memanfaatkan kebaikan? Siapa yang tetap bersikap baik meskipun tidak memperoleh apa-apa?
Itulah pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah kenalan.
Gotong Royong Jangan Hanya Menjadi Cerita Masa Lalu
Kita sering membanggakan gotong royong sebagai warisan luhur bangsa Indonesia. Kita menceritakan bagaimana masyarakat dahulu hidup saling membantu, menyelesaikan pekerjaan bersama, dan hadir ketika tetangga mengalami kesulitan.
Kebanggaan itu memang memiliki dasar. Gotong royong merupakan nilai sosial yang penting dan masih dijalankan oleh banyak masyarakat hingga sekarang.Namun, kebanggaan terhadap masa lalu tidak cukup untuk menjawab persoalan hari ini.
Apa artinya membanggakan gotong royong jika kita tidak bersedia meluangkan waktu untuk kepentingan lingkungan? Apa artinya berbicara tentang kepedulian jika persoalan tetangga selalu dianggap urusan orang lain? Apa artinya menyerukan persatuan jika perbedaan kecil saja bisa membuat hubungan menjadi renggang?
Kita tidak boleh menjadikan tradisi sebagai pajangan kebudayaan yang hanya dikeluarkan ketika dibutuhkan dalam pidato.
Gotong royong harus dibuktikan dalam tindakan, tetapi pelaksanaannya tetap perlu mempertimbangkan kemampuan, waktu, dan keadaan setiap orang. Tidak adil memaksa semua orang memberikan bantuan yang sama. Yang diperlukan adalah kemauan berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing.
Ada yang mampu memberikan tenaga. Ada yang bisa menyumbangkan gagasan. Ada yang memiliki kemampuan materi. Ada pula yang cukup membantu dengan memberikan informasi yang benar dan dukungan moral.
Tidak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk peduli. Tidak perlu menunggu mempunyai jabatan untuk bermanfaat. Tidak perlu menunggu diperintah untuk melakukan kebaikan yang memang dapat kita lakukan.
Jika kebersamaan hanya menjadi nostalgia, maka yang kita wariskan kepada generasi berikutnya hanyalah cerita, bukan pengalaman hidup.
Ketika Kepentingan Berbeda, Hubungan Ikut Berubah
Salah satu ujian terbesar dalam hubungan sosial adalah perbedaan kepentingan.
Selama memiliki tujuan yang sama, orang dapat terlihat begitu kompak. Mereka bisa saling mendukung, berbagi informasi, dan menjaga komunikasi. Namun, ketika arah perjuangan berbeda atau kepentingan tidak lagi sejalan, hubungan yang semula dekat bisa berubah.
Perbedaan pendapat sebenarnya bukan persoalan besar. Setiap orang berhak memiliki pandangan sendiri. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan digunakan sebagai alasan untuk memutus komunikasi, menyebarkan prasangka, atau merendahkan pihak lain.
Apakah persaudaraan hanya berlaku selama kita sepemikiran?
Apakah seseorang langsung menjadi musuh ketika tidak lagi mendukung keputusan kita?
Jika jawabannya demikian, maka hubungan tersebut perlu dievaluasi. Sebab, kebersamaan yang sehat tidak menuntut keseragaman. Ia membutuhkan rasa hormat, keterbukaan, dan kesediaan menerima kenyataan bahwa orang lain memiliki hak untuk berbeda.
Namun, menjaga persaudaraan juga tidak berarti harus diam menghadapi kesalahan. Kritik tetap diperlukan. Kejujuran harus dipertahankan. Kesalahan perlu diperbaiki.
Kita dapat menolak pendapat seseorang tanpa merendahkan martabatnya. Kita dapat mengkritik tindakan seseorang tanpa harus menghapus seluruh nilai baik yang pernah dilakukannya.
Yang tidak boleh terjadi adalah menggunakan persaudaraan sebagai alat untuk membungkam kritik, atau menggunakan perbedaan sebagai alasan untuk menghilangkan rasa kemanusiaan.
Jangan Mengukur Manusia dari Jabatan dan Kekayaannya
Dalam kehidupan sosial, jabatan, kekayaan, dan pengaruh sering kali memengaruhi cara seseorang diperlakukan. Orang yang dianggap memiliki kedudukan penting terkadang memperoleh perhatian lebih besar. Sebaliknya, mereka yang sedang mengalami kesulitan bisa kehilangan perhatian yang dahulu diterimanya.
Gejala semacam ini patut dikritisi karena berpotensi menciptakan hubungan yang tidak setara.
Menghormati seseorang karena tanggung jawab atau jabatannya tidak salah. Mengapresiasi keberhasilan orang lain juga merupakan hal yang wajar. Namun, penghormatan tidak seharusnya hanya diberikan kepada mereka yang dianggap memiliki kekuatan.
Orang yang tidak memiliki jabatan tetap memiliki martabat. Orang yang sedang mengalami kesulitan tetap berhak dihormati. Orang yang tidak mampu memberikan keuntungan kepada kita tetap layak diperlakukan secara manusiawi.
Jangan sampai kita begitu ramah kepada orang yang berada di atas, tetapi meremehkan mereka yang sedang berada di bawah.
Jangan sampai kita rajin menjaga hubungan dengan orang yang berpengaruh, tetapi melupakan mereka yang dahulu membantu ketika kita belum memiliki apa-apa.
Kehidupan tidak selalu berjalan lurus. Keadaan dapat berubah, kedudukan dapat berganti, dan kemampuan manusia tidak selalu tetap.
Karena itu, ukuran persaudaraan seharusnya bukan seberapa tinggi posisi seseorang, melainkan bagaimana kita memperlakukan sesama tanpa kehilangan prinsip dan harga diri.
Cukup Berhenti Berpura-pura, Mulailah Bersikap Jujur
Opini ini bukan ajakan untuk mencurigai semua orang. Bukan pula alasan untuk menutup diri dan menganggap setiap hubungan pasti memiliki kepentingan tersembunyi.
Kita tetap membutuhkan kepercayaan. Kita tetap membutuhkan sahabat, tetangga, rekan kerja, dan lingkungan sosial yang sehat. Kehidupan manusia tidak mungkin dibangun hanya dengan kecurigaan.
Namun, kepercayaan harus berjalan bersama kesadaran. Kebaikan perlu disertai kebijaksanaan. Persaudaraan harus dibangun dengan kejujuran, bukan dengan janji yang tidak pernah ditepati.
Jika tidak mampu membantu, jangan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa dipenuhi. Jika hanya dapat membantu sedikit, jangan malu mengakuinya. Jika sedang memiliki masalah sendiri, sampaikan dengan baik.
Tidak ada kewajiban bagi setiap orang untuk selalu tersedia bagi orang lain. Tetapi, setiap orang tetap bertanggung jawab atas cara ia memperlakukan sesamanya.
Kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang paling peduli. Kita tidak harus selalu berbicara tentang solidaritas. Kita juga tidak perlu membangun citra sebagai orang yang selalu siap membantu.
Lebih baik melakukan satu kebaikan nyata daripada mengucapkan seratus janji yang tidak pernah diwujudkan.
Lebih baik jujur tentang keterbatasan daripada menjadikan orang lain bergantung pada harapan palsu.
Dan lebih baik memiliki sedikit hubungan yang sehat daripada banyak hubungan yang hanya hidup ketika kepentingan sedang berjalan searah.
JANGAN SAMPAI KITA KEHILANGAN KEMANUSIAAN
Pada akhirnya, persoalan kebersamaan dan solidaritas bukan sekadar tentang perubahan zaman. Persoalannya juga terletak pada pilihan kita dalam memperlakukan orang lain.
Zaman memang berubah. Kehidupan semakin kompleks. Beban ekonomi, tuntutan pekerjaan, dan perkembangan teknologi turut memengaruhi hubungan sosial. Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan satu generasi atau menganggap masa lalu selalu lebih baik.
Namun, perubahan zaman tidak boleh dijadikan pembenaran untuk bersikap egois, mengingkari janji, atau memperlakukan orang lain hanya berdasarkan keuntungan.
Jika hari ini kebersamaan terasa semakin jauh, mari kita berani mengevaluasi diri. Jangan hanya sibuk menunjuk kesalahan orang lain. Jangan hanya mengeluh bahwa masyarakat sudah berubah. Periksa pula bagaimana kita menjaga hubungan, memenuhi janji, dan merespons orang yang membutuhkan kehadiran kita.
Sebab, kritik paling tajam sekalipun akan kehilangan makna jika kita sendiri tidak bersedia bercermin.
Kita boleh kecewa kepada orang yang pernah mengabaikan kita. Kita boleh menjaga jarak dari hubungan yang tidak sehat. Kita boleh berhenti memberikan bantuan jika kebaikan terus-menerus dimanfaatkan dan batas kemampuan kita tidak dihormati.
Menjaga solidaritas bukan berarti membiarkan diri dieksploitasi. Menjaga persaudaraan bukan berarti mengorbankan harga diri. Menjadi orang baik bukan berarti harus memenuhi semua keinginan orang lain.
Kebaikan tetap membutuhkan batas. Persaudaraan tetap membutuhkan tanggung jawab. Kepercayaan tetap membutuhkan bukti.
Jangan sampai kita menjadi masyarakat yang pandai berbicara tentang persaudaraan, tetapi gagal memperlakukan sesama dengan jujur. Jangan sampai kita mengaku menjunjung solidaritas, tetapi hanya hadir ketika membutuhkan sesuatu. Jangan sampai kita terus membanggakan gotong royong, sementara kepedulian terhadap persoalan nyata di sekitar kita semakin melemah.
Jika kebersamaan hanya hadir ketika ada keuntungan, itu bukan kebersamaan yang kokoh. Jika solidaritas hanya berlaku ketika kepentingan sejalan, itu bukan solidaritas yang dapat diandalkan. Dan jika persaudaraan hanya bertahan selama seseorang berguna bagi kita, maka hubungan tersebut perlu dipertanyakan kembali.
Pada titik inilah kita perlu berhenti bersembunyi di balik kata-kata manis.
Sebab, manusia tidak dinilai dari seberapa indah ia berbicara tentang kebaikan, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika tidak ada keuntungan yang menantinya.
Jangan biarkan kebersamaan hanya tinggal kenangan. Jangan biarkan solidaritas menjadi slogan kosong. Dan jangan biarkan perubahan zaman menjadi alasan untuk kehilangan kejujuran, kepedulian, serta rasa hormat terhadap sesama.
Kalau memang masih menganggap satu sama lain sebagai saudara, buktikan melalui tindakan. Kalau memang mengaku memiliki solidaritas, tunjukkan ketika pertolongan dibutuhkan. Kalau memang menjunjung kebersamaan, berhentilah menjadikan orang lain sekadar alat untuk memenuhi kepentingan pribadi.
Tidak perlu banyak janji. Tidak perlu banyak slogan. Tidak perlu berpura-pura.
Cukup jujur, cukup bertanggung jawab, dan cukup manusiawi.
Karena pada akhirnya, yang membuat hubungan bertahan bukanlah kata-kata manis, melainkan ketulusan yang dibuktikan secara konsisten.















Leave a Reply