Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

Kapolsek Sukawening AKP Budiman Suhardiana Dorong Sinergi Ketahanan Pangan: Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Demi memperkuat ketahanan pangan nasional terus membutuhkan keterlibatan berbagai unsur di tingkat daerah. Bukan hanya pemerintah dan petani, tetapi juga aparat keamanan, penyuluh pertanian, lembaga pangan, serta seluruh pemangku kepentingan yang memiliki peran sesuai tugas dan kewenangannya.

Semangat tersebut turut ditunjukkan jajaran Polsek Sukawening, Polres Garut, melalui sinergitas bersama kelompok tani, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), serta pihak Bulog dalam mendukung berbagai kegiatan yang berkaitan dengan sektor pertanian dan ketahanan pangan.

Kapolsek Sukawening, AKP Budiman Suhardiana, S.H.menegaskan bahwa kepedulian terhadap ketahanan pangan merupakan bagian dari semangat pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, persoalan pangan merupakan kepentingan bersama. Ketersediaan pangan yang cukup dan berkelanjutan tidak dapat hanya dibebankan kepada satu pihak. Diperlukan kerja sama dan komunikasi yang terus dibangun antara petani, pemerintah, penyuluh pertanian, aparat keamanan, serta lembaga terkait.

“Ini berkat kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas, sesuai dengan slogan Bapak Kapolres Garut. Kita bekerja bersama tanpa kenal lelah bersama pihak kelompok tani, BPP serta Bulog,” ujar AKP Budiman saa di wawancarai awak media melalui sambungan Whatsapp miliknya,Kamis (17/09/2026).

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana pendekatan kolaboratif menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung program ketahanan pangan di wilayah Kecamatan Sukawening.

Polisi Tidak Hanya Hadir dalam Persoalan Kamtibmas

Kehadiran polisi di tengah masyarakat selama ini identik dengan tugas menjaga keamanan dan ketertiban. Namun dalam pelaksanaan tugas kepolisian di tengah masyarakat, komunikasi lintas sektor juga menjadi bagian penting untuk membangun hubungan yang harmonis dan mendukung program yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Dalam konteks ketahanan pangan, kepolisian dapat mengambil peran sesuai kewenangannya, terutama dalam membangun komunikasi, menjaga situasi tetap kondusif, serta mendukung sinergi antarlembaga.

Bagi AKP Budiman, petani merupakan salah satu unsur penting dalam rantai ketahanan pangan. Mereka bekerja langsung di sektor produksi, mengolah lahan dan menghasilkan komoditas yang dibutuhkan masyarakat.

Karena itu, keberadaan kelompok tani di lapangan perlu mendapatkan perhatian dan dukungan melalui kerja sama dengan berbagai pihak.

“Tidak bisa kita bekerja sendiri. Semuanya harus bersama-sama,” kata AKP Budiman.

Semangat tersebut menjadi penting mengingat persoalan pertanian memiliki tantangan yang cukup kompleks, mulai dari ketersediaan sarana produksi, kondisi cuaca, pengelolaan lahan, produktivitas, hingga pemasaran dan penyerapan hasil panen.

Kelompok Tani Menjadi Bagian Penting

Kelompok tani memiliki posisi strategis karena menjadi wadah bagi para petani untuk berkoordinasi dan bekerja bersama dalam menjalankan aktivitas pertanian.

Melalui kelompok tani, komunikasi antara petani dengan penyuluh maupun unsur pemerintah dapat dilakukan secara lebih terorganisasi.

Di sisi lain, BPP memiliki peran dalam pendampingan teknis pertanian melalui penyuluh yang berinteraksi langsung dengan petani,sinergitas antara kelompok tani dan BPP menjadi penting agar berbagai program pertanian dapat berjalan berdasarkan kondisi dan kebutuhan di lapangan.

Dalam kerangka tersebut, keterlibatan kepolisian diharapkan dapat memperkuat komunikasi serta mendukung terciptanya situasi yang kondusif bagi masyarakat yang bekerja di sektor pertanian.Sementara itu, Bulog memiliki fungsi dalam ekosistem pangan nasional sesuai dengan tugas dan kebijakan yang berlaku. 

Hubungan antara produksi petani dan lembaga pangan menjadi salah satu mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya menjaga ketersediaan pangan.

Namun demikian, setiap bentuk program maupun kerja sama tetap perlu dilaksanakan sesuai aturan, transparan, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas

Bagi AKP Budiman, semboyan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas bukan sekadar slogan.

Kerja keras berarti kesungguhan dalam melaksanakan tugas. Kerja cerdas berkaitan dengan bagaimana setiap langkah dilakukan secara tepat, terukur, dan menyesuaikan kondisi di lapangan. Sedangkan kerja ikhlas menjadi landasan moral dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.Ketiga prinsip tersebut, menurutnya, penting dimiliki setiap anggota yang menjalankan tugas sebagai abdi masyarakat.

Apalagi ketika berhadapan langsung dengan masyarakat di lapangan, aparat dituntut mampu membangun komunikasi yang baik dan memahami kondisi masyarakat.Petani bukan hanya membutuhkan program, tetapi juga membutuhkan pendampingan, komunikasi dan kepastian bahwa berbagai pihak hadir ketika mereka menghadapi persoalan.Karena itu, semangat kebersamaan menjadi salah satu modal utama.

Ketahanan Pangan Bukan Pekerjaan Satu Instansi

Ketahanan pangan merupakan persoalan yang memiliki dimensi luas.Produksi pangan memang berada di sektor pertanian, tetapi keberhasilan menjaga ketahanan pangan juga berkaitan dengan distribusi, stabilitas pasokan, daya beli masyarakat, tata kelola, hingga keberlanjutan produksi.Karena itu, kerja sama antarlembaga menjadi bagian yang penting.

Polisi memiliki kewenangan dan tugas tersendiri. BPP memiliki fungsi teknis pertanian. Kelompok tani menjadi pelaku kegiatan pertanian. Bulog menjalankan fungsi sesuai kebijakan dan ketentuan yang berlaku.

Jika seluruh unsur tersebut mampu berkomunikasi dan menjalankan tugas masing-masing secara profesional, maka program ketahanan pangan memiliki fondasi kerja sama yang lebih kuat.Di sinilah pentingnya membangun koordinasi secara berkelanjutan dan tidak hanya dilakukan ketika ada kegiatan tertentu.

Dari Lapangan untuk Kepentingan Masyarakat

AKP Budiman juga menempatkan kegiatan bersama masyarakat sebagai bagian dari bentuk pengabdian.Menurutnya, aparat yang berada di wilayah harus mengetahui dinamika masyarakatnya. Dengan komunikasi langsung, berbagai persoalan yang muncul dapat diketahui lebih cepat dan dicarikan ruang penyelesaian sesuai kewenangan masing-masing.

Dalam konteks pertanian, komunikasi tersebut dapat membuka ruang bagi petani untuk menyampaikan berbagai kebutuhan maupun kendala yang mereka hadapi.

Hal itu penting karena kondisi setiap wilayah pertanian tidak selalu sama.Persoalan yang dihadapi petani dapat berbeda-beda, tergantung kondisi lahan, komoditas yang ditanam, musim, ketersediaan air, maupun akses terhadap pasar.Oleh karena itu, pendekatan di lapangan harus memperhatikan kondisi nyata masyarakat.

Jangan Berhenti pada Seremonial

Penguatan ketahanan pangan membutuhkan kesinambungan.

Kegiatan penanaman, misalnya, bukanlah akhir dari proses. Masih ada tahapan pemeliharaan, panen, hingga bagaimana hasil produksi dapat memberikan manfaat bagi petani dan masyarakat.Karena itu, sinergitas antara aparat, kelompok tani, BPP dan Bulog diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Semangat kerja bersama harus diteruskan dalam bentuk koordinasi dan pendampingan sesuai tugas masing-masing.Kepolisian dapat terus menjaga komunikasi dengan masyarakat dan memastikan situasi wilayah tetap kondusif. 

Sementara persoalan teknis pertanian menjadi ranah instansi terkait dan para penyuluh.Dengan pembagian peran yang jelas, setiap unsur dapat memberikan kontribusi secara optimal tanpa mengambil alih kewenangan pihak lainnya.

Petani Jangan Hanya Dijadikan Objek

Dalam pembangunan ketahanan pangan, petani seharusnya ditempatkan sebagai pelaku utama.Mereka bukan sekadar penerima program, melainkan pihak yang memiliki pengalaman langsung mengenai kondisi pertanian di lapangan.Karena itu, aspirasi petani menjadi penting dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.

Program yang baik adalah program yang dapat menjawab kebutuhan nyata masyarakat serta memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Dalam konteks inilah, komunikasi antara kelompok tani, BPP, pemerintah, kepolisian dan lembaga pangan memiliki arti penting.

Semakin terbuka komunikasi yang dibangun, semakin besar pula peluang berbagai persoalan di lapangan dapat diketahui dan ditangani sesuai kewenangan.

Pengawasan Tetap Diperlukan

Di tengah besarnya perhatian terhadap program ketahanan pangan, aspek pengawasan juga tidak boleh diabaikan.

Setiap program yang menggunakan sumber daya negara maupun fasilitas pemerintah harus dijalankan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Pengelolaan anggaran, bantuan, distribusi maupun kegiatan pertanian harus memiliki mekanisme yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Semangat kerja keras dan kerja ikhlas harus berjalan beriringan dengan profesionalitas, transparansi dan akuntabilitas.Dengan demikian, tujuan program tidak berhenti pada pencapaian administratif, tetapi benar-benar memberikan dampak kepada masyarakat.

Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan program ketahanan pangan pada akhirnya bukan hanya seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, tetapi seberapa besar manfaatnya bagi petani dan masyarakat luas.

Sinergitas Menjadi Kunci

Kapolsek Sukawening AKP Budiman Suhardiana menegaskan pentingnya membangun kebersamaan dalam menjalankan berbagai kegiatan yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Semangat tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara kepolisian dan masyarakat.

Polisi hadir bukan hanya ketika terjadi persoalan keamanan, tetapi juga melalui komunikasi sosial dan kerja sama dengan berbagai unsur masyarakat sesuai tugas dan kewenangannya.

Dalam mendukung ketahanan pangan, sinergi dengan kelompok tani, BPP dan Bulog menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang diharapkan dapat memberikan manfaat.

“Kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Kita bekerja bersama tanpa kenal lelah,” tegas AKP Budiman.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa ketahanan pangan membutuhkan kerja kolektif.

Tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendirian.

Petani membutuhkan pendampingan dan dukungan. Penyuluh membutuhkan sinergi. Pemerintah membutuhkan partisipasi masyarakat. Lembaga pangan membutuhkan produksi pertanian yang berkelanjutan. Sementara kepolisian dapat mengambil bagian dalam menjaga komunikasi dan situasi yang kondusif.

Dengan semangat kebersamaan tersebut, upaya memperkuat ketahanan pangan di tingkat daerah diharapkan dapat terus berjalan secara konsisten dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (*)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *