Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

​Harmoni di Pesisir Selatan: Hajat Laut 2026 dan Asa Nelayan Rancabuaya Menantang Samudera

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Di bawah langit cerah Pantai Rancabuaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, Jawa Barat, suara gemuruh ombak Samudera Hindia beradu dengan dentuman doa yang dipanjatkan ratusan nelayan. Hari ini, Senin (13/07/2026), tradisi “Hajat Laut” kembali digelar dengan khidmat. Bukan sekadar ritual rutin, acara ini adalah napas budaya yang menjaga kewarasan dan keselamatan para pencari nafkah di garis depan pesisir selatan Garut.

​Tradisi sebagai Kompas Kehidupan

​Hajat Laut di Rancabuaya bukan sekadar seremonial tahunan. Bagi nelayan setempat, ritual ini adalah jembatan spiritual antara manusia dan penguasa laut. Prosesi diawali dengan iring-iringan perahu nelayan yang telah dihias dengan janur kuning dan umbul-umbul, melaju perlahan menuju titik tengah perairan untuk melarung sesaji.

​”Ini adalah bentuk syukur kami atas rezeki yang diberikan selama setahun. Sekaligus permohonan agar kami selalu diberikan perlindungan saat berhadapan dengan keganasan ombak selatan,” ujar salah satu tokoh nelayan saat di wawancarai awak media, di sela-sela persiapan sesaji.

​Sinergi dalam Pengamanan dan Edukasi

​Kehadiran jajaran Forkopimcam Caringin menambah bobot penting dari perayaan ini. Camat Caringin,Ujang Kuswara, S.Tr., M.Si.

Kapolsek Caringin IPTU Indra Koncara, Kapolsek Pameungpeuk IPTU Bangbang Sudarsono, serta Kasatpolairud Polres Garut IPTU Aep Saprudin hadir di tengah – tengah masyarakat, membaur tanpa sekat.

​IPTU Indra Koncara menegaskan bahwa kehadiran kepolisian bukan semata untuk pengamanan, melainkan sebagai bentuk pendampingan. 

“Hajat Laut adalah manifestasi harmoni. Namun, kami selalu mengingatkan bahwa keselamatan adalah hukum tertinggi. Mengingat karakter perairan selatan yang sangat dinamis, nelayan harus selalu memantau prakiraan cuaca sebelum melaut,” ujarnya.

​Senada dengan hal tersebut, Kasatpolairud Polres Garut, IPTU Aep Saprudin, menekankan peran nelayan sebagai mitra strategis. “Nelayan adalah mata dan telinga kami di tengah laut. Komunikasi yang cair saat kegiatan seperti ini mempermudah koordinasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, baik itu kecelakaan laut maupun gangguan keamanan,” ungkap Aep.

​Wajah Ekonomi dan Wisata Pantai Rancabuaya

​Transformasi Rancabuaya sebagai destinasi wisata unggulan di Garut juga tercermin dalam perayaan ini. Kehadiran ribuan wisatawan domestik yang ingin menyaksikan prosesi sakral ini menjadi magnet ekonomi baru. Para pedagang kaki lima, pengusaha penginapan lokal, hingga penyedia jasa wisata turut menikmati “berkah” dari rangkaian Hajat Laut.

​Tingginya antusiasme pengunjung menunjukkan bahwa tradisi lokal memiliki potensi pariwisata yang sangat kuat jika dikelola dengan serius. Hal ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kebersihan pesisir, sebuah isu yang terus digaungkan oleh pemerintah kecamatan demi kenyamanan wisatawan dan keberlanjutan ekosistem laut.

​Tantangan dan Harapan di Tahun 2026

​Tahun 2026 menjadi tahun yang menantang bagi nelayan Rancabuaya, mulai dari fluktuasi harga bahan bakar hingga tantangan cuaca ekstrem yang sering tidak menentu. Namun, doa bersama dalam Hajat Laut ini seolah menjadi “bensin” moral bagi mereka.

​Harapan besar digantungkan pada setiap sesaji yang dilarung ke samudra. Harapan akan hasil tangkapan yang melimpah, keselamatan anggota keluarga yang melaut, hingga keberlanjutan tradisi yang akan diwariskan kepada generasi nelayan berikutnya.

​Kegiatan ditutup dengan makan bersama di sepanjang garis pantai sebuah simbol kesetaraan dan persaudaraan. Saat matahari mulai bergeser ke ufuk barat, para nelayan kembali ke perahu masing-masing, menyimpan sisa-sisa semangat doa dalam dada, siap untuk kembali menantang gelombang besok pagi. (Wawan Sutiawan)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *