PCNU Garut Jadi Pelopor Digitalisasi Organisasi NU di Jawa Barat, Gelar Bimtek DIGDAYA untuk MWCNU dan Lembaga

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun tata kelola organisasi modern berbasis teknologi. Melalui pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Implementasi DIGDAYA tingkat Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan lembaga, PCNU Garut resmi menjadi cabang pertama di Jawa Barat yang melaksanakan program tersebut secara menyeluruh.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 1 PCNU Kabupaten Garut, Jawa Barat, kemarin Sabtu (09/05/2026), diikuti para sekretaris dan administrator MWCNU se-Kabupaten Garut serta administrator lembaga di lingkungan PCNU Garut. Suasana kegiatan berlangsung penuh antusiasme karena para peserta menyadari pentingnya transformasi digital dalam menunjang efektivitas organisasi di era modern.

Pelaksanaan Bimtek DIGDAYA ini menjadi langkah strategis PCNU Garut dalam memperkuat sistem administrasi, koordinasi, serta tata kelola organisasi agar lebih tertib, terintegrasi, dan akuntabel. Kehadiran sistem digital tersebut juga dinilai mampu menjawab tantangan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi dan khidmat Nahdlatul Ulama.

Sementara saat di wawancarai awak media pada. Minggu, (10/05/2026). Sekretaris PCNU Kabupaten Garut, Dr. H. Aceng Hilman Umar Basori dalam pemaparannya menegaskan bahwa implementasi DIGDAYA bukan sekadar digitalisasi administrasi biasa, melainkan bagian dari penguatan sistem organisasi secara menyeluruh.

Menurutnya, saat ini organisasi keagamaan dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar pelayanan organisasi kepada jamaah dapat berjalan lebih efektif dan profesional.

“DIGDAYA ini bukan hanya aplikasi, tetapi sistem penguatan organisasi. Seluruh MWCNU dan lembaga harus mulai membangun budaya organisasi yang tertib administrasi, aktif bergerak, serta memiliki data kepengurusan yang jelas dan sesuai dengan SK,” ujarnya di hadapan peserta Bimtek.

Ia menjelaskan, selama ini masih terdapat pola kerja organisasi yang berjalan secara parsial dan kurang terkoordinasi. Karena itu, melalui DIGDAYA diharapkan seluruh unsur kepengurusan NU mulai dari tingkat cabang, MWCNU, hingga lembaga dapat saling terkoneksi dalam satu sistem yang terintegrasi.

“Ke depan tidak boleh lagi ada pengurus yang berjalan sendiri-sendiri atau tidak bergerak secara organisatoris. Semua harus terkoneksi dalam satu sistem jam’iyyah, mulai dari cabang, MWCNU, hingga lembaga,” katanya.

Lebih lanjut, ia menilai digitalisasi organisasi merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Dengan sistem yang sudah terintegrasi, proses administrasi seperti pendataan pengurus, surat-menyurat, pengarsipan, hingga koordinasi organisasi akan menjadi lebih cepat dan efisien.

Selain mempermudah administrasi, sistem tersebut juga diyakini mampu meningkatkan disiplin organisasi karena seluruh aktivitas kepengurusan dapat terpantau dengan baik. Hal ini penting untuk menjaga profesionalisme dan keberlangsungan roda organisasi di tengah dinamika zaman yang terus berkembang.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta juga mendapatkan pemahaman teknis mengenai penggunaan sistem DIGDAYA. Tidak hanya teori, kegiatan Bimtek turut dilengkapi dengan sesi praktik langsung agar seluruh peserta benar-benar memahami cara pengoperasian sistem digital tersebut.

Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak peserta mengaku optimistis sistem DIGDAYA akan membawa perubahan besar dalam tata kelola organisasi NU di tingkat kecamatan maupun lembaga.

Salah satunya disampaikan Deni, Sekretaris MWCNU Kecamatan Pameungpeuk. Ia menyebut kehadiran DIGDAYA menjadi solusi nyata bagi MWCNU yang memiliki jarak cukup jauh dari pusat kabupaten.

Menurutnya, selama ini proses administrasi sering kali terkendala pengiriman dokumen fisik maupun koordinasi manual melalui aplikasi pesan singkat. Dengan sistem baru tersebut, berbagai kebutuhan administrasi kini dapat dilakukan lebih praktis dan cepat.

“Pameungpeuk termasuk salah satu MWCNU yang cukup jauh dari pusat cabang.

Dengan adanya DIGDAYA, jarak seolah dipangkas. Kami tidak perlu lagi mengirimkan berkas fisik ataupun sekadar mengirim melalui WhatsApp kepada pengurus cabang, karena semuanya sudah terintegrasi dalam sistem,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa sistem tersebut akan sangat membantu efektivitas kerja organisasi di tingkat kecamatan, terutama dalam mempercepat komunikasi dan pelaporan kepada pengurus cabang.

Pelaksanaan Bimtek DIGDAYA ini sekaligus menjadi bukti keseriusan PCNU Garut dalam melakukan pembenahan organisasi berbasis teknologi. Di tengah pesatnya perkembangan digital, organisasi keagamaan dinilai perlu melakukan inovasi agar tetap relevan dan mampu memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.

Dengan menjadi cabang pertama di Jawa Barat yang melaksanakan Bimtek Implementasi DIGDAYA tingkat MWCNU dan lembaga secara menyeluruh, PCNU Garut diharapkan mampu menjadi contoh dan pelopor transformasi digital organisasi Nahdlatul Ulama di berbagai daerah lainnya.

Kegiatan ditutup dengan sesi evaluasi dan praktik implementasi sistem DIGDAYA sebagai langkah awal menuju tata kelola organisasi NU yang lebih modern, tertib, profesional, dan terintegrasi di Kabupaten Garut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *