![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan semakin canggihnya teknologi, nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, serta kepedulian sosial semestinya tidak pernah kehilangan tempat. Kemajuan teknologi memang mampu mempermudah berbagai urusan, tetapi ketulusan dalam melayani sesama tetap menjadi nilai yang tidak dapat diukur hanya dengan kecanggihan fasilitas maupun teknologi.
Di tengah dinamika tersebut, Bale Khitan Paseban Garut yang beralamat di Jalan. Otto Iskandar Dinata (Otista) No.179B, Desa Tarogong, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat,kode pos 44151,hadir dengan pendekatan pelayanan yang mengedepankan sisi humanis, humoris, solidaritas, dan kasih sayang kepada anak-anak. Bagi lembaga pelayanan khitan ini, memberikan pelayanan bukan semata-mata menyelesaikan pekerjaan, melainkan juga menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Direktur Bale Khitan Paseban Garut, dr. H. Trisnha Rahhaddyasa, saat diwawancarai awak media melalui sambungan WhatsApp miliknya, Rabu malam (21/10/2026), menegaskan bahwa seluruh jajaran Bale Khitan Paseban Garut memiliki kecintaan yang besar terhadap anak-anak.
Menurutnya, pendekatan yang humoris dan humanis menjadi bagian penting dalam membangun suasana pelayanan yang nyaman, menyenangkan, dan bersahabat bagi anak-anak yang datang untuk menjalani proses khitan.
“Kami segenap jajaran Bale Khitan Paseban Garut sangat mencintai anak-anak. Cara kerja kami mengedepankan pendekatan yang humoris dan humanis agar anak-anak merasa betah, nyaman, dan senang,” ungkap dr. H. Trisnha Rahhaddyasa.
Pelayanan Humanis, Anak Merasa Nyaman
Bagi anak-anak, menjalani khitan bukan perkara sederhana. Tidak sedikit yang merasa takut, cemas, bahkan menangis ketika menghadapi proses tersebut. Karena itu, pendekatan yang ramah, penuh perhatian, dan disertai komunikasi yang menyenangkan menjadi hal penting dalam menciptakan pengalaman pelayanan yang lebih baik.
Bale Khitan Paseban Garut berupaya menghadirkan suasana yang tidak membuat anak merasa tertekan. Pendekatan humoris diharapkan mampu mencairkan ketegangan, sedangkan pendekatan humanis menjadi wujud perhatian terhadap kondisi psikologis anak.
“Kami di Bale Khitan Paseban Garut, selalu terus berupaya menghadirkan suasana yang membuat anak merasa betah. Pendekatan humoris diharapkan mampu mencarikan ketegangan, sedangkan pendekatan humanis menjadi wujud perhatian terhadap kondisi psikologis anak,” ujarnya.
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak cukup hanya berorientasi pada aspek teknis. Sikap ramah, kesabaran, empati, dan kemampuan membangun kepercayaan juga merupakan bagian penting dalam memberikan pelayanan yang berkualitas.
Anak-anak bukan sekadar pasien yang harus dilayani, melainkan individu yang membutuhkan perhatian, rasa aman, serta pendampingan yang sesuai dengan usia dan kondisi mereka.
Dengan demikian, pelayanan yang mengedepankan kasih sayang dapat menjadi pengalaman positif bagi anak maupun keluarga yang mempercayakan pelayanan khitan kepada Bale Khitan Paseban Garut.
Bukan Pencitraan, Melainkan Niat Pengabdian
Dalam keterangannya, dr. H. Trisnha Rahhadyasa juga menekankan bahwa pihaknya berupaya mengutamakan pelayanan yang optimal bukan demi membangun citra atau memperoleh pujian dari masyarakat.
Ia menyebut, niat yang mendasari pelayanan tersebut adalah pengabdian yang dilandasi keikhlasan karena Allah SWT.
“Kami mengutamakan pelayanan yang optimal bukan karena pencitraan. Namun, niat kami didasari karena lillah, karena Allah. Jiwa solidaritas dan sosial yang kami tanamkan semata-mata untuk sebuah pengabdian, bukan karena ingin mendapatkan pujian,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya membangun budaya pelayanan yang tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai moral dan kemanusiaan.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kepedulian sosial sering kali diuji ketika seseorang harus memberikan perhatian tanpa mengharapkan imbalan berupa pengakuan ataupun penghargaan. Di situlah ketulusan memperoleh maknanya, yakni ketika seseorang tetap berupaya memberikan yang terbaik karena menyadari bahwa membantu sesama merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
Semangat itulah yang ingin ditanamkan Bale Khitan Paseban Garut melalui pelayanan yang mengedepankan solidaritas, kepedulian, dan kasih sayang.
Solidaritas Sosial Harus Diwujudkan dalam Perbuatan
Kepedulian terhadap sesama tidak cukup berhenti pada slogan, ungkapan manis, atau kata-kata yang terdengar menyentuh. Nilai solidaritas justru harus tercermin dalam tindakan nyata, terutama ketika berhadapan langsung dengan masyarakat yang membutuhkan pelayanan.
Dalam konteks pelayanan khitan, sikap peduli dapat diwujudkan melalui komunikasi yang baik, perhatian terhadap kebutuhan anak, penghormatan kepada keluarga, serta pelayanan yang mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pasien.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena pelayanan kesehatan dan tindakan medis berkaitan langsung dengan kepercayaan masyarakat. Profesionalisme harus berjalan beriringan dengan empati, sedangkan keramahan perlu didukung oleh kompetensi dan kepatuhan terhadap standar pelayanan yang berlaku.
Karena itu, semangat humanis yang disampaikan Direktur Bale Khitan Paseban Garut merupakan pengingat bahwa kemajuan sebuah lembaga pelayanan tidak semestinya hanya dinilai dari popularitas atau fasilitas yang dimiliki, tetapi juga dari bagaimana lembaga tersebut memperlakukan setiap orang yang datang meminta pelayanan.
Masyarakat tentu berharap nilai-nilai tersebut terus dipertahankan dan diwujudkan secara konsisten dalam praktik pelayanan sehari-hari.
Ketulusan Menjadi Nilai yang Tak Lekang oleh Zaman
Pesatnya perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan. Namun, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, sentuhan kemanusiaan tetap memiliki peran penting dalam membangun hubungan antara pemberi pelayanan dan masyarakat.
Teknologi dapat membantu meningkatkan efektivitas kerja, tetapi empati, kesabaran, dan ketulusan lahir dari sikap serta komitmen manusia itu sendiri.
Bale Khitan Paseban Garut, melalui pernyataan direkturnya, menempatkan pendekatan humoris dan humanis sebagai bagian dari upaya memberikan pelayanan yang lebih bersahabat kepada anak-anak.
Pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: pelayanan yang baik bukan hanya tentang apa yang diberikan, tetapi juga bagaimana pelayanan itu diberikan.
“Mungkin pesan yang ini saya sampaikan cukup jelas, pelayanan yang baik bukan hanya tentang apa yang telah diberikan. Tetapi juga bagaimana pelayanan itu di berikan kepada mereka,” tutur dr.Trisnha.
Ketika anak merasa nyaman, keluarga merasa dihargai, dan masyarakat memperoleh pelayanan secara profesional, kepercayaan dapat tumbuh secara alami. Kepercayaan semacam itu tidak perlu dibangun melalui pencitraan berlebihan, melainkan melalui konsistensi tindakan dan tanggung jawab.
Pengabdian yang Harus Dibuktikan Secara Konsisten
Komitmen terhadap pelayanan yang humanis tentu menjadi langkah positif. Namun, nilai pengabdian dan solidaritas akan semakin bermakna apabila terus diwujudkan dalam tindakan nyata, terukur, dan berkelanjutan.
“Ya komitmen kami terhadap pelayanan yang humanis tentu menjadi langkah positif. Namun,nilai pengabdian dan solidaritas akan semakin bermakna apabila terus kita wujudkan dalam tindakan nyata,terukur, dan berkelanjutan,” terangnya.
Pelayanan yang optimal harus senantiasa mengutamakan keselamatan pasien, profesionalisme tenaga medis, keterbukaan informasi, serta penghormatan terhadap hak anak dan keluarganya. Dengan prinsip tersebut, semangat kemanusiaan tidak hanya menjadi pesan moral, tetapi juga menjadi bagian dari budaya pelayanan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pada akhirnya, di tengah dunia yang terus bergerak cepat dan teknologi yang semakin maju, kepedulian terhadap sesama tetap menjadi salah satu ukuran penting dari nilai kemanusiaan.
Sebagaimana ditegaskan dr. H. Trisnha Rahhadyasa, pelayanan yang dilandasi niat karena Allah dan semangat pengabdian seharusnya tidak berorientasi pada pujian, melainkan pada manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
“Sebab, ketulusan tidak cukup diucapkan, solidaritas tidak cukup dijanjikan, dan kasih sayang tidak cukup dijadikan slogan. Semuanya harus dibuktikan melalui tindakan nyata, pelayanan profesional, serta kepedulian yang terus hidup dalam setiap langkah pengabdian kepada masyarakat,” pungkas dr.Trisnha. (DIX)












Leave a Reply