Ironi di Balik Lagu Viral: Pencipta “Jawa Barat Istimewa” Berjuang di Tengah Keterbatasan Hidup

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Di tengah derasnya arus konten media sosial yang kerap mengangkat karya-karya inspiratif, terselip kisah pilu yang menyentuh hati. Sosok Mang Didin, musisi jalanan asal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat menjadi potret nyata ironi kehidupan: dikenal luas lewat karya-karya yang membanggakan daerah, namun harus berjibaku dengan kerasnya realita ekonomi.

Nama Mang Didin mungkin tidak setenar lagunya. Namun, karya-karyanya seperti “Jawa Barat Istimewa”, “Jabar Ngahiji”, hingga “Garut Hebat” telah menjangkau ribuan bahkan jutaan pasang telinga. Lagu-lagu tersebut kerap digunakan dalam berbagai unggahan media sosial, menjadi latar kebanggaan masyarakat terhadap tanah Pasundan.

Namun di balik popularitas itu, kehidupan sang pencipta justru jauh dari kata sejahtera.

Popularitas Tanpa Kesejahteraan

Fenomena ini menjadi refleksi tentang bagaimana dunia digital terkadang tidak memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan kreatornya. Meski lagunya viral dan diapresiasi publik, Mang Didin mengaku tidak memperoleh penghasilan yang memadai dari karya tersebut.

Tidak adanya perlindungan hak cipta yang kuat, minimnya akses terhadap industri musik formal, serta keterbatasan ekonomi menjadi faktor yang membuatnya tetap bertahan sebagai pengamen jalanan.

“Yang penting orang bisa menikmati lagu saya. Tapi kalau bicara kehidupan, ya begini-begini saja,” ujarnya dengan nada pasrah.

Terusir dari Kontrakan untuk Kedua Kalinya

Cobaan hidup Mang Didin kembali bertambah ketika ia harus meninggalkan kontrakan yang selama ini menjadi tempat berteduh. Keterlambatan pembayaran uang sewa selama satu minggu membuatnya harus angkat kaki.

Peristiwa ini bukan yang pertama. Sebelumnya, ia juga pernah mengalami hal serupa akibat kondisi ekonomi yang tidak stabil.

Penghasilan dari mengamen yang tidak menentu membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, termasuk biaya tempat tinggal.

“Kadang dapat, kadang tidak. Pernah juga seharian tidak makan karena sepi,” tuturnya.

Kini, ia kembali menjalani hari-hari tanpa tempat tinggal tetap, berpindah-pindah, dan menggantungkan hidup dari belas kasih orang-orang di jalanan.

Keluarga yang Terpisah oleh Keadaan

Dampak dari kemiskinan yang dialami Mang Didin tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga merambah ke kehidupan keluarga. Ia kini harus menerima kenyataan pahit berpisah dengan istrinya yang memilih pergi karena tidak tahan hidup dalam keterbatasan.

Yang lebih menyedihkan, ketiga anaknya kini tidak tinggal bersamanya. Karena tidak memiliki tempat tinggal yang layak, anak-anaknya dititipkan di rumah teman secara terpisah.

Situasi ini menjadi beban batin tersendiri bagi Mang Didin. Di satu sisi, ia ingin tetap berjuang demi masa depan anak-anaknya, namun di sisi lain, keterbatasan membuatnya sulit memberikan kehidupan yang layak.

“Yang penting anak-anak saya aman dan punya tempat tinggal. Saya tidak apa-apa hidup susah, asal mereka jangan sampai terlantar,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Harapan kepada Pemerintah dan Pemangku Kepentingan

Sebagai pencipta lagu-lagu yang mengangkat nama daerah, Mang Didin berharap ada perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait. Ia menginginkan adanya bentuk apresiasi nyata terhadap karya-karyanya, baik melalui pembinaan, perlindungan hak cipta, maupun kesempatan untuk tampil di panggung yang lebih layak.

Ia juga berharap pemerintah daerah dapat membuka ruang bagi seniman lokal seperti dirinya agar bisa berkembang dan mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

“Kalau ada yang mau membantu atau memberi kesempatan, saya siap. Saya hanya ingin hidup lebih baik dan bisa menghidupi anak-anak,” ujarnya penuh harap saat ditemui dan di wawancarai awak media, di Jalan Ahmad Yani,Kecamatan Garut Kota pada. Selasa, (05/05/2026).

Potret Ketimpangan Dunia Kreatif

Kisah Mang Didin menjadi gambaran nyata ketimpangan dalam dunia kreatif, khususnya bagi pelaku seni di daerah. Di satu sisi, karya mereka bisa viral dan diapresiasi luas, namun di sisi lain, kesejahteraan mereka masih jauh dari perhatian.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa apresiasi terhadap karya seni tidak cukup hanya dengan popularitas, tetapi juga perlu diiringi dengan dukungan nyata yang berdampak pada kehidupan penciptanya.

Menanti Kepedulian di Tengah Harapan

Hingga kini, Mang Didin masih setia memetik gitar di sudut-sudut Kota Garut. Dengan suara khas dan lirik penuh makna, ia terus bernyanyi, menyuarakan harapan di tengah keterbatasan.

Di balik setiap petikan gitar dan bait lagu yang ia ciptakan, tersimpan harapan sederhana: kehidupan yang lebih layak, kebersamaan kembali dengan anak-anaknya, serta pengakuan atas karya yang telah ia persembahkan untuk daerahnya.

Kisahnya bukan sekadar cerita pilu, melainkan panggilan bagi semua pihak untuk lebih peduli terhadap nasib para seniman lokal yang kerap luput dari perhatian. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *