![]()
Cimahi,TRIBUNPRIBUMI.com – Dugaan keracunan makanan program gizi menimpa puluhan pelajar di Kota Cimahi, Jawa Barat. Insiden tersebut menyeret nama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang selama ini mendistribusikan makanan bagi siswa PAUD, SD, hingga SMP, bahkan layanan Posyandu.
Sejumlah siswa dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, pusing, dan diare setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan. Mereka kemudian dilarikan ke berbagai fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Mulyati, membenarkan adanya laporan siswa yang masuk Unit Gawat Darurat (UGD) di beberapa rumah sakit.
“Berdasarkan informasi dan hasil pengecekan langsung di lokasi, memang benar ada beberapa orang yang masuk UGD di sejumlah rumah sakit. Dan semuanya saat ini sedang tertangani,” ujar Mulyati saat dikonfirmasi awak media. Kamis, (26/02/2026).
Dirawat di Tiga Rumah Sakit
Berdasarkan data sementara yang dihimpun Dinas Kesehatan, jumlah pasien yang sempat dirujuk ke rumah sakit antara lain:
11 orang dirawat di Rumah Sakit Cibabat
1 orang dirawat di Rumah Sakit Dustira
2 orang dirawat di Rumah Sakit Mitra Kasih
Selain itu, beberapa siswa lainnya sempat mendapatkan penanganan di klinik dan sebagian telah diperbolehkan pulang setelah kondisi membaik.
Mulyati menjelaskan, laporan awal diterima sekitar pukul 17.30 WIB. Setelah menerima informasi tersebut, pihaknya langsung berkoordinasi dengan jajaran kewilayahan dan fasilitas kesehatan agar siswa yang mengalami gejala segera mendapatkan penanganan.
“Saya menerima laporan sekitar setengah enam sore dan langsung menyampaikan kepada jajaran terkait agar pasien yang bergejala segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” katanya.
Diduga Berkaitan dengan Konsumsi Makanan SPPG
Informasi awal menyebutkan para pelajar mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan SPPG. Sebagian makanan dikonsumsi pada siang hari sekitar pukul 11.00–12.00 WIB, sementara ada juga yang mengonsumsinya saat berbuka puasa.
Karena SPPG melayani berbagai jenjang pendidikan, korban yang terdampak pun berasal dari kelompok usia berbeda, mulai dari anak usia dini hingga remaja SMP.
Namun demikian, Dinas Kesehatan menegaskan penyebab pasti kejadian tersebut masih dalam proses investigasi. Pendataan terus dilakukan karena ada siswa yang langsung dibawa orang tua ke klinik dan tidak seluruhnya tercatat dalam laporan awal.
“Kami masih mengumpulkan data lengkap. Termasuk pasien yang dibawa ke klinik dan sudah dinyatakan pulang. Semua masih dalam proses pendataan dan pemantauan,” tegas Mulyati.
Distribusi dan Pengawasan Disorot
Insiden ini memunculkan sorotan tajam terhadap sistem distribusi dan pengawasan makanan program gizi. Publik mempertanyakan standar higienitas produksi, penyimpanan, serta proses distribusi hingga makanan sampai ke tangan siswa.
Program pemenuhan gizi sejatinya bertujuan meningkatkan kesehatan dan kualitas tumbuh kembang anak. Namun ketika muncul dugaan keracunan massal, aspek keamanan pangan menjadi perhatian utama.
Dinas Kesehatan memastikan akan melakukan evaluasi terhadap distribusi dan keamanan makanan guna mencegah kejadian serupa terulang. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan segera melapor apabila mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan tertentu.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi para siswa dilaporkan stabil dan terus dalam pemantauan tim medis. Sementara itu, hasil investigasi resmi masih ditunggu untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut. (**)
