Suara Pribumi, Suara Kebenaran

Independen, Kritis, Berpihak pada Rakyat

Tuti Nurhayati Apresiasi Bale Khitan Paseban Garut: Bukan Hanya Pelayanan Prima, Kekompakan, Keramahan, dan Kesantunan Pegawai Jadi Nilai Lebih

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Kualitas pelayanan yang baik tidak hanya ditentukan oleh fasilitas dan proses pelayanan yang diberikan, tetapi juga tercermin dari sikap, keramahan, kesantunan, serta kekompakan para petugas dalam melayani masyarakat. Prinsip tersebut menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian dari Tuti Nurhayati (45), warga Kelurahan Sukamenteri, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, saat memberikan apresiasi terhadap pelayanan Bale Khitan Paseban Garut.

Menurut Tuti, pelayanan yang prima harus dibarengi dengan sikap para pegawai yang mampu memberikan rasa nyaman, membangun komunikasi yang baik, serta menunjukkan kepedulian terhadap kebutuhan pasien dan keluarganya. Terlebih, pelayanan khitan berkaitan dengan anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus, pendekatan persuasif, dan suasana yang dapat membantu mengurangi rasa takut ketika menjalani tindakan.

Tuti menilai Bale Khitan Paseban Garut tidak hanya perlu dilihat dari sisi pelayanan utamanya, tetapi juga dari bagaimana para pegawai berinteraksi dengan masyarakat.

“Ya dengan pelayanan yang terbaik,sikap ramah, santun, dan kekompakan dalam bekerja merupakan nilai tambah yang dapat memberikan kesan positif bagi keluarga yang mempercayakan pelayanan khitan anaknya, ujar Tuti saat di wawancarai awak media selepas Mengkhitan anaknya di Bale Khitan Paseban Garut, Minggu (11/10/2026).

Apresiasi tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa masyarakat semakin memperhatikan kualitas pelayanan secara menyeluruh. Bukan hanya hasil pelayanan yang menjadi pertimbangan, melainkan juga pengalaman yang dirasakan sejak pasien datang, memperoleh penjelasan, menjalani proses pelayanan, hingga mendapatkan arahan setelah tindakan.

Keramahan Pegawai Menjadi Nilai Tambah Pelayanan

Bagi masyarakat, keramahan petugas merupakan bagian penting dari pelayanan yang berkualitas. Cara menyambut pasien, menyampaikan informasi, menjawab pertanyaan, dan memberikan arahan kepada keluarga dapat memengaruhi tingkat kenyamanan serta kepercayaan masyarakat.

Dalam konteks pelayanan khitan, aspek tersebut menjadi semakin penting karena pasien yang dilayani sebagian besar merupakan anak-anak. Tidak sedikit anak yang merasa cemas, malu, atau takut ketika menghadapi proses khitan. Kondisi ini menuntut petugas untuk tidak hanya memahami aspek teknis pelayanan, tetapi juga mampu membangun pendekatan komunikasi yang sesuai dengan usia dan kondisi psikologis anak.

Tuti Nurhayati menyoroti bahwa sikap ramah dan santun para pegawai merupakan hal yang patut diapresiasi. Menurutnya, pelayanan yang mengedepankan penghormatan terhadap pasien dan keluarga akan menciptakan suasana yang lebih nyaman.

Pelayanan yang baik juga dapat terlihat dari kesabaran petugas ketika menghadapi beragam karakter pasien. Anak-anak memiliki tingkat keberanian dan respons yang berbeda-beda. Karena itu, diperlukan pendekatan yang tenang, komunikasi yang mudah dipahami, serta kesediaan memberikan penjelasan tanpa menimbulkan tekanan berlebihan.

“Dengan pendekatan seperti itu, keluarga pasien dapat merasa lebih tenang dalam mendampingi anaknya. Sementara bagi anak, suasana yang bersahabat dapat membantu mengurangi kecemasan ketika menghadapi pengalaman yang mungkin baru pertama kali mereka rasakan,” ungkapnya.

Soliditas Pegawai Dinilai Penting untuk Menunjang Pelayanan

Selain keramahan dan kesantunan, kekompakan para pegawai juga menjadi perhatian dalam penilaian terhadap kualitas pelayanan Bale Khitan Paseban Garut.

Soliditas dalam lingkungan kerja merupakan salah satu unsur penting untuk menciptakan pelayanan yang tertib dan terkoordinasi. Setiap petugas memiliki peran masing-masing yang perlu dijalankan secara bertanggung jawab agar kebutuhan pasien dapat ditangani dengan baik.

Kekompakan tidak sekadar ditunjukkan melalui hubungan kerja yang harmonis, tetapi juga melalui komunikasi internal, kedisiplinan, pembagian tugas yang jelas, serta kesediaan saling membantu ketika diperlukan.

Dalam pelayanan kepada anak-anak, kerja sama tim menjadi semakin relevan. Pasien membutuhkan suasana yang kondusif, sedangkan orang tua membutuhkan informasi yang jelas mengenai tahapan pelayanan, persiapan, dan perawatan setelah khitan.

Apabila seluruh petugas menjalankan perannya secara terkoordinasi, pelayanan diharapkan dapat berlangsung lebih teratur dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pasien maupun keluarga.

“Bagi masyarakat, sikap profesional yang dibarengi keramahan dan kesantunan akan menjadi kesan tersendiri. Hal itu dapat membangun kepercayaan sekaligus menjadi dorongan bagi penyedia layanan untuk terus mempertahankan standar pelayanan yang baik,” jelas Tuti.

H. Yogi: Pelayanan Menjadi Skala Prioritas

Sementara itu, H. Yogi menegaskan bahwa pelayanan kepada masyarakat menjadi skala prioritas di Bale Khitan Paseban Garut. Ia menekankan pentingnya memberikan pelayanan yang baik, mengedepankan keramahan, serta membangun suasana yang mendukung kenyamanan pasien, khususnya anak-anak yang menjalani khitan.

Menurut H. Yogi, pelayanan tidak cukup hanya berorientasi pada penyelesaian tindakan. Sikap petugas ketika berhadapan dengan pasien juga harus menjadi perhatian karena turut menentukan bagaimana pelayanan tersebut dirasakan oleh masyarakat.

Pendekatan yang ramah dan santun perlu diterapkan dalam setiap tahapan pelayanan. Anak-anak harus memperoleh perhatian sesuai kebutuhan mereka, sedangkan orang tua perlu mendapatkan penjelasan yang memadai agar dapat mendampingi anaknya dengan lebih tenang.

Dalam hal ini, pelayanan ramah anak bukan sekadar slogan, melainkan pendekatan yang perlu diwujudkan melalui perilaku sehari-hari. Petugas dituntut mampu berkomunikasi dengan bahasa yang sederhana, bersikap sabar, dan memberikan penjelasan sesuai tingkat pemahaman anak.

” Kami menempatkan prinsip pelayanan sebagai bagian penting dalam upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Bale Khitan Paseban Garut,” ucap Yogi.

Komitmen tersebut juga berkaitan dengan upaya membangun budaya kerja yang mengedepankan tanggung jawab, kedisiplinan, kerja sama, serta kepedulian terhadap pasien.

Pelayanan Ramah Anak Membutuhkan Pendekatan Khusus

Khitan merupakan salah satu tindakan yang dapat menimbulkan kecemasan bagi sebagian anak. Rasa takut terhadap lingkungan baru, peralatan medis, maupun proses tindakan dapat memengaruhi kondisi psikologis anak sebelum dan selama pelayanan berlangsung.

“Oleh karena itu, pendekatan ramah anak menjadi aspek yang patut diperhatikan oleh setiap penyedia layanan khitan,” kata Yogi.

Pendekatan tersebut dapat dimulai dengan menyambut anak secara bersahabat, memperkenalkan tahapan pelayanan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, serta memberikan kesempatan kepada anak dan orang tua untuk menyampaikan pertanyaan.

Petugas juga perlu menghindari ucapan yang menakut-nakuti atau tindakan komunikasi yang dapat menambah kecemasan anak. Sebaliknya, suasana yang tenang dan suportif dapat membantu anak merasa lebih dihargai.

Meski demikian, pendekatan psikologis yang baik harus tetap berjalan seiring dengan aspek keselamatan pasien. Prosedur medis, kebersihan alat, kompetensi tenaga yang melakukan tindakan, penjelasan mengenai risiko, serta petunjuk perawatan setelah khitan merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan berkualitas.

Dengan demikian, pelayanan ramah anak seharusnya dipahami sebagai perpaduan antara komunikasi yang humanis, penanganan sesuai standar, dan tanggung jawab terhadap keselamatan pasien.

Bagi orang tua, memperoleh informasi yang jelas sebelum tindakan dan mengetahui langkah perawatan setelahnya juga merupakan bagian penting dalam memastikan anak mendapatkan pendampingan yang tepat.

Kepercayaan Masyarakat Harus Dijaga Secara Konsisten

Apresiasi yang disampaikan Tuti Nurhayati menjadi pengingat bahwa kualitas pelayanan memiliki dimensi yang luas. Masyarakat tidak hanya membutuhkan layanan yang sesuai dengan kebutuhannya, tetapi juga mengharapkan perlakuan yang sopan, informatif, dan menghargai setiap pasien.

” Mungkin kepercayaan masyarakat tidak terbentuk hanya melalui promosi atau penyampaian komitmen. Kepercayaan tumbuh dari pengalaman nyata, konsistensi pelayanan, keterbukaan informasi, dan kesediaan untuk memperbaiki kekurangan. Karena itu, penilaian positif dari masyarakat perlu dijadikan motivasi untuk mempertahankan hal-hal yang sudah berjalan baik sekaligus mendorong peningkatan kualitas secara berkelanjutan,” terangnya.

Bale Khitan Paseban Garut diharapkan terus memperkuat koordinasi ant pegawai, meningkatkan kedisiplinan, menjaga keramahan, serta memastikan pendekatan ramah anak diterapkan secara konsisten dalam pelayanan sehari-hari.

Evaluasi berkala juga penting dilakukan agar masukan dari pasien dan keluarga dapat menjadi bahan perbaikan. Dengan mendengarkan pengalaman masyarakat, penyedia layanan dapat mengetahui aspek yang perlu dipertahankan maupun hal-hal yang masih membutuhkan pembenahan.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu memperoleh informasi yang transparan mengenai prosedur pelayanan, biaya, persiapan sebelum khitan, dan perawatan setelah tindakan. Keterbukaan tersebut dapat membantu keluarga mengambil keputusan secara lebih tepat dan memahami tanggung jawab yang perlu dilakukan setelah anak menjalani khitan.

Bukan Sekadar Pelayanan, tetapi Pengalaman yang Berkesan

Pada akhirnya, pelayanan yang prima tidak hanya berbicara tentang cepat atau lambatnya proses pelayanan. Lebih dari itu, pelayanan berkualitas menyangkut bagaimana setiap pasien diperlakukan, bagaimana informasi diberikan, serta bagaimana penyedia layanan memastikan kebutuhan dan keselamatan pasien menjadi perhatian utama.

Apresiasi Tuti Nurhayati terhadap Bale Khitan Paseban Garut menempatkan keramahan, kesantunan, dan soliditas pegawai sebagai unsur yang dinilai penting dalam membangun kenyamanan masyarakat.

Sementara itu, penegasan H. Yogi mengenai pelayanan sebagai skala prioritas menunjukkan pentingnya menjaga komitmen pelayanan, terutama dalam menghadirkan pendekatan yang ramah kepada anak-anak.

Keduanya menjadi pengingat bahwa pelayanan yang baik harus dibangun melalui kerja nyata, bukan sekadar pernyataan. Sikap humanis perlu berjalan beriringan dengan profesionalisme, kepatuhan terhadap prosedur, dan tanggung jawab terhadap keselamatan pasien.

Bagi Bale Khitan Paseban Garut, menjaga kepercayaan masyarakat merupakan pekerjaan berkelanjutan. Keramahan perlu dipertahankan, kekompakan perlu diperkuat, dan kualitas pelayanan harus terus dievaluasi agar masyarakat memperoleh pelayanan yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab.

“Dengan komitmen tersebut, Bale Khitan Paseban Garut diharapkan dapat terus memberikan kontribusi positif dalam pelayanan khitan bagi masyarakat Kabupaten Garut, sekaligus membangun budaya pelayanan yang lebih humanis, profesional, dan berorientasi pada kebutuhan pasien,” pungkasnya. (DIX)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *