Undang Herman Pigur Nahkodai DPC APTI Garut: Petani Tembakau Menolak Dibungkam Kebijakan yang Tak Berpihak

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Terpilihnya Undang Herman Pigur sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan organisasi. Momentum ini menjadi sinyal keras bahwa petani tembakau mulai menata barisan untuk melawan ketidakadilan kebijakan yang selama ini meminggirkan mereka dari panggung pengambilan keputusan.

Di tengah gempuran regulasi yang kian menekan, stigma negatif terhadap tembakau yang terus diproduksi, serta lemahnya keberpihakan negara terhadap petani di hulu, Undang Herman Pigur hadir sebagai representasi suara lapangan suara yang selama ini kerap diabaikan, bahkan sengaja dibungkam.

Undang bukan figur elitis yang lahir dari ruang rapat ber-AC. Ia adalah petani tembakau tulen yang tumbuh dari sawah, ladang, dan realitas pahit kehidupan petani. Rekam jejaknya dikenal luas di kalangan petani Garut sebagai sosok yang konsisten berdiri di garis depan saat kebijakan negara justru memukul petani sendiri.

APTI Harus Hidup, Bukan Sekadar Papan Nama

Usai penetapan dirinya sebagai ketua, Undang Herman Pigur melontarkan pernyataan tegas yang sekaligus menjadi kritik internal. Ia menolak keras jika APTI hanya dijadikan organisasi simbolik tanpa daya tawar nyata.

“APTI tidak boleh berhenti di seremoni dan formalitas. Organisasi ini harus hidup, bergerak, dan berani melawan ketika petani tembakau dizalimi oleh kebijakan yang tidak adil,” tegas Undang. Sabtu, (17/01/2026).

Menurutnya, selama bertahun-tahun petani tembakau hanya dijadikan objek kebijakan. Mereka dipaksa menerima keputusan yang lahir dari meja birokrasi, tanpa pernah diajak bicara secara sungguh-sungguh. Harga jual yang tidak menentu, biaya produksi yang terus melonjak, akses permodalan yang sempit, hingga minimnya pendampingan teknis menjadi persoalan laten yang dibiarkan berlarut-larut.

Ironisnya, di saat petani terus ditekan, komoditas tembakau justru menjadi salah satu penyumbang signifikan bagi pendapatan negara melalui cukai. Namun kontribusi besar itu tidak pernah kembali secara adil ke petani di hulu.

Menolak Stigma, Menggugat Regulasi Sepihak

Undang Herman Pigur juga secara terbuka mengkritik narasi tunggal yang terus-menerus menyudutkan tembakau dan petaninya. Ia menilai, tekanan regulasi yang masif telah menciptakan ketidakadilan struktural yang sistematis.

“Petani tembakau bukan musuh negara. Kami bukan penjahat. Kami hanya ingin hidup layak dari hasil keringat sendiri,” ujarnya lantang.

Ia menegaskan bahwa banyak regulasi pertembakauan lahir tanpa memahami realitas lapangan. Kebijakan yang dibuat tanpa melibatkan petani secara bermakna, menurut Undang, justru memperparah ketimpangan dan mempercepat kehancuran sektor pertembakauan rakyat.

Sebagai Ketua DPC APTI Garut, Undang menyatakan siap mengawal dan mengkritisi setiap kebijakan yang menyentuh ekosistem tembakau, dari hulu hingga hilir. Ia menolak keras jika petani terus dijadikan korban tarik-menarik kepentingan global dan tekanan asing yang sama sekali tidak mempertimbangkan nasib jutaan keluarga petani di Indonesia.

Konsolidasi Petani: Dari Bertahan ke Melawan

Undang menilai lemahnya posisi tawar petani selama ini disebabkan oleh minimnya konsolidasi. Karena itu, ia bertekad menjadikan APTI Garut sebagai rumah besar perjuangan petani tembakau yang solid, terorganisir, dan berani bersuara.

“Kita tidak bisa terus bergerak sendiri-sendiri. Petani harus bersatu, kuat, dan memiliki daya tawar. Tanpa itu, suara kita akan selalu dikalahkan,” katanya.

Ia berencana memperkuat basis petani di seluruh sentra tembakau Kabupaten Garut, membangun komunikasi kritis dengan pemerintah daerah dan DPRD, serta mendorong lahirnya kebijakan daerah yang benar-benar berpihak pada petani, bukan sekadar mengamankan kepentingan di atas kertas.

Harapan Baru di Tengah Perjuangan Panjang

Terpilihnya Undang Herman Pigur disambut harapan besar oleh petani tembakau Garut. Banyak yang melihat kepemimpinannya sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang selama ini membungkam suara petani.

Namun Undang menegaskan, jabatan bukan tujuan akhir. Baginya, kepemimpinan adalah amanah perjuangan.

“Selama petani masih menjerit dan kebijakan masih timpang, maka suara petani tidak boleh padam. Saya berdiri di sini bukan untuk jabatan, tapi untuk memperjuangkan martabat petani tembakau,” pungkasnya.

Di tengah situasi yang semakin menekan, Undang Herman Pigur membawa pesan tegas: petani tembakau tidak akan diam, tidak akan tunduk, dan tidak akan menyerah. Di bawah kepemimpinannya, DPC APTI Kabupaten Garut diharapkan menjadi benteng perlawanan tempat suara petani terus menyala dan menuntut keadilan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *