![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Dunia medis terus berkembang, termasuk dalam praktik khitan yang kini jauh dari kesan menyeramkan seperti masa lalu. Jika dulu tukang sunat identik dengan mantri berbaju putih dan peralatan tajam yang membuat anak-anak ketakutan, kini wajah praktik khitan berubah lebih ramah, modern, dan menenangkan.
Saat ini sudah lama ada salah satu sosok yang merepresentasikan adanya perubahan tersebut adalah dr Trisna Rahadyasa, dokter umum yang dikenal sebagai “tukang sunat modern” di Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Bagi masyarakat Garut, nama dr Tris bukanlah sosok asing. Dokter yang berpraktik di Rumah Sunat Bale Khitan Paseban Garut ini dikenal luas karena pendekatannya yang humanis, penuh senyum, serta kepeduliannya terhadap anak-anak.
Sementara setiap hari praktik, dr Tris jarang tampil dengan jas dokter lengkap. Ia lebih sering mengenakan jaket putih sederhana atau kemeja batik, menciptakan suasana akrab dan menghilangkan jarak antara dokter dan pasien ciliknya.
Saat di wawancarai Tribunpribumi.com, melalui sambungan Whatsapp miliknya pada. Minggu (21/12/2025), dr Tris mengungkapkan bahwa perjalanan membangun Bale Khitan Paseban bukanlah proses instan. Ia menegaskan bahwa semua diraih melalui perjuangan panjang, penuh kesabaran, dan konsistensi.
“Tidak ujug-ujug langsung jadi seperti sekarang. Semuanya melalui proses yang cukup panjang dan tentu tidak mudah,” ujar dr Tris dengan nada rendah hati.
Berawal dari Kecintaan pada Anak-Anak
Ketertarikan dr Tris pada dunia khitan bukan tanpa alasan. Sejak masih duduk di bangku kuliah, ia sudah aktif membantu kegiatan khitan. Kecintaannya terhadap anak-anak menjadi faktor utama yang mendorongnya menekuni bidang ini secara serius.
“Saya memang senang dengan anak-anak. Dengan profesi ini, saya bisa sering bertemu mereka,” ungkapnya.
Baginya, setiap anak memiliki karakter unik. Ekspresi polos, tingkah laku lucu, hingga reaksi spontan anak-anak saat menghadapi proses khitan justru menjadi sumber kebahagiaan tersendiri. Hal itulah yang membuat dr Tris tetap menikmati profesinya hingga kini.
Pengalaman Unik di Ruang Khitan
Selama menjalani profesinya, dr Tris telah menangani ribuan anak dengan beragam latar belakang dan karakter. Berbagai pengalaman unik pun kerap ia alami. Salah satunya ketika mengkhitan seorang anak yang hanya ditemani ayahnya. Sejak awal hingga proses khitan selesai, anak tersebut tampak tenang dan sangat kooperatif, tanpa rasa takut berlebihan.
Namun ada pula pengalaman yang mengundang senyum. Pernah suatu ketika, seorang anak menangis setelah proses khitan selesai. Bukan karena rasa sakit, melainkan karena kaget melihat bentuk alat kelaminnya.
“Dia bilang, ‘kok bentuknya aneh,’” kenang dr Tris sambil tertawa kecil.
Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang justru memperkaya perjalanan profesionalnya dan memperkuat keyakinannya bahwa pendekatan psikologis sangat penting dalam menangani anak-anak.
Metode Khitan Semakin Modern dan Aman
Menurut dr Tris, praktik khitan saat ini sangat berbeda dibandingkan zaman dahulu. Jika dulu metode yang digunakan cenderung konvensional dengan tingkat kebersihan yang belum terjamin, kini dunia kedokteran menghadirkan berbagai metode modern yang lebih aman, cepat, dan minim trauma.
“Sekarang metode sunat sudah sangat beragam, seperti electric cauter dan clamp yang banyak diminati masyarakat,” jelasnya.
Perkembangan ini membuat proses khitan tidak lagi menakutkan bagi anak-anak maupun orang tua. Selain itu, faktor sterilitas dan kenyamanan menjadi prioritas utama dalam setiap tindakan medis.
Pendekatan Mental Jadi Kunci Utama
Bagi dr Tris, keberhasilan proses khitan tidak hanya ditentukan oleh metode medis, tetapi juga oleh pendekatan mental. Ia menegaskan bahwa dokter harus benar-benar sabar dan mampu membangun komunikasi yang baik dengan anak.
“Pendekatan mental itu penting. Anak harus merasa aman dan nyaman. Selain itu, setiap tindakan harus mendapat persetujuan orang tua,” tegasnya.
Prinsip tersebut menjadi pedoman utama dr Tris dalam menjalankan praktiknya, sehingga orang tua pun merasa lebih tenang saat mempercayakan anak mereka.
Dari Tradisi Menuju Program Kesehatan
Jika dahulu khitan hanya dipandang sebagai tradisi atau kewajiban agama, kini khitan telah menjadi bagian dari program kesehatan global. Bahkan, World Health Organization (WHO) menganjurkan khitan sebagai salah satu upaya menurunkan risiko kanker penis, prostat, serta kanker serviks pada wanita yang dapat tertular dari pasangan.
Kesadaran inilah yang semakin menguatkan tekad dr Tris untuk menekuni profesinya. Tidak hanya sebagai pekerjaan, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian dan ibadah.
“Bagi saya, ini bukan sekadar profesi dokter. Ini juga bagian dari ibadah dan pengabdian kepada masyarakat,” pungkasnya.
Dengan senyum yang tak pernah lepas dan kepedulian yang tulus, dr Trisna Rahadyasa terus membuktikan bahwa praktik khitan bisa dilakukan dengan cara yang ramah, aman, dan penuh empati mengubah rasa takut anak-anak menjadi pengalaman yang lebih bersahabat. (DIX)
