![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Mengisi bulan suci Ramadhan dengan kegiatan yang sarat makna, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Garut menggelar program religius bertajuk “One Day One Juz”. Kegiatan ini diikuti seluruh pegawai serta peserta magang dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Batch 2, dan dilaksanakan rutin setiap hari selama Ramadhan.
Kegiatan tadarus Al-Qur’an tersebut dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dan dipusatkan di Cafe Lapas Garut, sebelum para pegawai menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Program ini mengusung target pembacaan satu juz per hari secara bersama-sama, sebagai wujud pembinaan rohani dan penguatan karakter aparatur.
Program One Day One Juz bukan sekadar agenda seremonial, melainkan komitmen nyata dalam membangun lingkungan kerja yang religius dan berintegritas. Melalui pembiasaan membaca Al-Qur’an setiap pagi, para pegawai diharapkan mampu memperkuat mental, moral, serta meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan di tengah dinamika tugas pemasyarakatan yang penuh tantangan.
Kegiatan ini bersifat wajib bagi seluruh jajaran pegawai dan peserta magang. Selain sebagai sarana pembinaan spiritual, program ini juga menjadi ruang refleksi diri agar setiap individu dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, kedisiplinan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara Kepala Lapas Garut, Rusdedy, A.Md.IP., S.H., M.Si., menegaskan bahwa momentum Ramadhan harus dimanfaatkan sebagai ajang memperbaiki kualitas diri dan memperkuat integritas aparatur.
“Melalui program One Day One Juz ini, kami berharap seluruh pegawai dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta membentuk pribadi yang lebih disiplin, berintegritas, dan humanis dalam menjalankan tugas. Momentum Ramadhan ini harus kita manfaatkan untuk memperkuat nilai-nilai spiritual yang akan berdampak positif pada kualitas pelayanan dan pembinaan di Lapas Garut,” ujar Rusdedy. Selasa, (24/02/2026).
Menurutnya, penguatan nilai spiritual menjadi fondasi penting dalam menciptakan pelayanan pemasyarakatan yang profesional dan berorientasi pada pembinaan. Dengan hati yang bersih dan niat yang lurus, kualitas kerja akan meningkat dan suasana kerja menjadi lebih harmonis.
Melalui gerakan ini, Lapas Garut ingin memastikan bahwa Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain harapannya, semangat Ramadhan mampu membentuk aparatur yang tidak hanya cakap secara administratif, tetapi juga kokoh secara moral, sehingga tercipta lingkungan pemasyarakatan yang aman, tertib, serta penuh nilai-nilai religius. (*)
