![]()
Oleh: Diki Kusdian
Opini,TRIBUNPRIBUMI.com – Ramadhan di era 80-an hingga 90-an bukan sekadar momentum ibadah tahunan. Ia adalah ruang sosial, ruang emosional, sekaligus ruang pendidikan karakter yang tumbuh secara alami di tengah masyarakat. Tidak ada notifikasi digital, tidak ada siaran langsung kultum dari berbagai belahan dunia, tidak ada perang konten religi di media sosial. Namun justru di situlah letak kekuatannya: Ramadhan terasa lebih dekat, lebih hangat, dan lebih membumi.
Di tengah derasnya arus modernitas hari ini, ingatan tentang Ramadhan tempo dulu menjadi semacam oase batin. Ia menghadirkan nostalgia yang bukan hanya romantisme masa kecil, tetapi juga refleksi tentang nilai yang mungkin perlahan memudar.
Antusiasme Membangunkan Sahur: Alarm Kolektif yang Penuh Keakraban
Sebelum alarm ponsel menjadi andalan, ada suara kentongan, bedug kecil, bahkan peralatan dapur yang dipukul beramai-ramai. Anak-anak dan remaja berkeliling kampung sambil berteriak, “Sahuur… sahuur…!”
Tak jarang suara mereka fals, ritmenya tak beraturan, bahkan terkadang berlebihan. Namun justru di situlah kehangatannya. Sahur bukan sekadar aktivitas makan dini hari, tetapi peristiwa sosial. Warga yang terbangun tidak marah, justru tersenyum. Ada rasa dimiliki dan memiliki.
Kini, sahur terasa lebih sunyi. Alarm berbunyi secara personal. Tidak ada lagi interaksi spontan antarwarga. Modern, memang. Praktis, tentu. Tapi ada sesuatu yang hilang: kebersamaan yang lahir dari kesederhanaan.
Tarawih dan Tadarus: Sekolah Karakter Tanpa Disadari
Masjid dan musholla menjadi pusat kehidupan malam Ramadhan. Setelah tarawih, anak-anak tidak langsung pulang. Mereka duduk bersila, membawa Al-Qur’an kecil bersampul hijau atau cokelat, menunggu giliran membaca lewat pengeras suara.
Ada rasa grogi ketika suara mulai menggema ke seluruh kampung. Salah tajwid sedikit saja bisa terdengar jelas. Namun dari sanalah keberanian, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an tumbuh perlahan.
Ramadhan saat itu menjadi sekolah karakter yang berjalan alami. Tidak ada sertifikat, tidak ada konten viral, tidak ada dokumentasi instan. Yang ada hanya proses pembiasaan yang membekas hingga dewasa.
Permainan Tanpa Gawai: Tawa yang Tidak Direkam Kamera
Selepas tarawih, halaman masjid berubah menjadi arena bermain. Meriam bambu meletup, petasan kertas dibakar dengan penuh semangat, dan tawa anak-anak memecah malam.
Tidak ada yang sibuk merekam. Tidak ada yang mencari “like” atau “view”. Kebahagiaan cukup dirasakan, tidak perlu dipublikasikan.
Hari ini, anak-anak mungkin lebih akrab dengan layar ketimbang halaman masjid. Dunia mereka lebih luas secara digital, tetapi mungkin lebih sempit secara sosial. Ramadhan tempo dulu mengajarkan bahwa kebahagiaan tak selalu butuh teknologi cukup kebersamaan.
Menu Sederhana, Rasa Luar Biasa
Takjil tidak berderet mewah seperti sekarang. Tidak ada dessert box viral, tidak ada minuman kekinian berlabel estetik. Yang ada hanyalah es sirup merah dengan serutan es kasar, kolak pisang buatan ibu, serta gorengan dari pasar kaget sore hari.
Namun entah mengapa, rasanya begitu nikmat.
Mungkin karena yang membuatnya lezat bukan hanya bahan, tetapi suasana. Aroma dapur menjelang maghrib, suara azan yang ditunggu-tunggu, serta kebersamaan keluarga di ruang makan sederhana.
Kini pilihan lebih banyak, tampilan lebih menarik. Tapi pertanyaannya: apakah rasanya juga lebih membahagiakan?
Buku Agenda Ramadhan: Disiplin yang Tertanam Sejak Dini
Anak-anak sekolah dulu memiliki “buku agenda Ramadhan”. Isinya sederhana: kolom puasa, tarawih, tadarus, dan kultum. Harus diisi setiap hari, ditandatangani guru atau penceramah.
Mencari tanda tangan ustaz setelah ceramah menjadi momen tersendiri. Ada rasa bangga jika kolom terisi penuh tanpa bolong.
Tanpa disadari, itu adalah latihan integritas. Anak-anak belajar jujur, belajar disiplin, belajar bertanggung jawab. Pendidikan karakter berjalan sunyi, tetapi efektif.
Ramadhan yang Lebih Tenang dan Personal
Ramadhan tempo dulu terasa lebih lambat. Tidak tergesa-gesa. Tidak diburu konten. Tidak dipenuhi notifikasi.
Interaksi sosial terasa lebih nyata: berbagi takjil antar tetangga, ngabuburit di lapangan, hingga sekadar duduk di teras rumah menunggu waktu berbuka sambil bercengkerama.
Bukan berarti Ramadhan hari ini kehilangan makna. Justru teknologi memberi kemudahan luar biasa: kajian bisa diakses dari mana saja, Al-Qur’an tersedia dalam genggaman, sedekah bisa dilakukan dalam hitungan detik.
Namun refleksi ini penting: jangan sampai kemudahan menghilangkan kedalaman. Jangan sampai kemajuan mengikis kebersamaan.
Menjaga Ruh Ramadhan di Tengah Modernitas
Kita mungkin tak bisa mengulang suasana 80-an atau 90-an. Zaman berubah, generasi berganti. Tetapi nilai-nilainya bisa tetap dijaga.
Membangunkan sahur bisa diganti dengan pesan pengingat penuh perhatian. Tadarus tetap bisa dilakukan bersama, bukan sekadar sendiri dengan headset. Berbuka puasa bisa tetap sederhana, tanpa harus menjadi ajang pamer.
Ramadhan sejatinya bukan tentang kemewahan suasana, tetapi kedalaman rasa.
Dan mungkin, yang kita rindukan dari Ramadhan tempo dulu bukanlah bedugnya, bukan meriam bambunya, bukan sirup merahnya melainkan kehangatan relasi yang terasa tulus dan utuh.
Semoga di tengah dunia yang semakin cepat dan digital, kita tetap mampu menghadirkan Ramadhan yang hangat, personal, dan penuh kebersamaan seperti dulu, ketika kesederhanaan justru menjadi sumber kebahagiaan.
