![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Inilah sebuah pemandangan jalan Kampung Pamoyanan, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat kini memang terlihat berbeda. Aspal hotmix membentang rapi, hitam mengilap, seolah menjadi simbol keberhasilan pembangunan infrastruktur. Namun di balik permukaan yang tampak sempurna itu, muncul ironi yang tak bisa lagi ditutup-tutupi: banjir datang lebih sering, kemacetan makin parah, dan warga justru merasa kehilangan kenyamanan yang dulu mereka miliki.
Pembangunan yang seharusnya menjadi solusi, kini justru dipertanyakan.
Seorang tokoh masyarakat Pamoyanan yang meminta identitasnya dirahasiakan melontarkan kritik tajam. Ia tidak menolak pembangunan. Ia tidak anti perubahan. Namun ia mempertanyakan cara pembangunan itu dilakukan.
“Jalan memang sudah bagus. Tapi sekarang tiap hujan deras, air meluap. Dulu kampung ini tidak pernah kebanjiran seperti sekarang,” ujarnya tegas saat di wawancarai awak media. Sabtu, (21/02/2026).
Dari Resapan Alami ke Genangan Permanen
Pamoyanan dulu dikenal sebagai lingkungan yang relatif tenang, nyaman,bersih, dan tidak rawan genangan. Struktur tanah yang masih didominasi lahan terbuka membuat air hujan cepat meresap. Tidak ada cerita jalan berubah jadi kolam dadakan.
Namun situasi berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Deretan perumahan tumbuh di sekitar kawasan. Lahan hijau menyusut. Area resapan berganti beton dan paving. Sementara sistem drainase yang ada seakan tidak pernah disesuaikan dengan lonjakan beban lingkungan.
“Air sekarang seperti kehilangan arah. Saluran kecil, sebagian tersumbat. Begitu hujan deras, langsung meluap ke jalan,” ungkapnya.
Ironisnya, pengaspalan hotmix justru mempercepat aliran air ke titik terendah. Permukaan yang kedap air membuat hujan tak lagi meresap, melainkan langsung mengalir deras tanpa kontrol. Tanpa sistem drainase yang memadai, genangan hanyalah soal waktu.
Pertanyaannya: apakah sebelum proyek hotmix dilakukan sudah ada kajian teknis tata air yang matang? Ataukah proyek berjalan sekadar memenuhi target fisik tanpa memperhitungkan dampak hidrologis?
Kemacetan: Jalan Lingkungan Dipaksa Jadi Jalur Alternatif
Masalah tidak berhenti pada banjir. Kemacetan kini menjadi “menu rutin” warga, terutama pada pagi siang dan sore hari saat jam sekolah.
Jalan yang awalnya dirancang sebagai akses lingkungan kini berubah fungsi menjadi jalur alternatif kendaraan dari berbagai arah. Arus dari kawasan perumahan dan wilayah sekitar bertemu di ruas jalan yang lebarnya tidak pernah dirancang untuk volume sebesar itu.
“Hampir tiap pagi macet. Motor dan mobil numpuk. Anak sekolah, warga kerja, semua lewat sini. Jalannya tidak sebanding dengan jumlah kendaraan,” keluhnya.
Kemacetan bukan sekadar soal waktu terbuang. Ini menyangkut keselamatan. Jalan sempit dengan arus padat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pejalan kaki dan anak-anak sekolah.
Apakah perubahan fungsi jalan ini pernah diantisipasi? Atau Pamoyanan dibiarkan menanggung dampak perkembangan wilayah tanpa perlindungan perencanaan yang jelas?
Pembangunan Fisik Tanpa Integrasi Lingkungan
Warga menilai ada pola pembangunan yang terlalu fokus pada tampilan fisik. Aspal halus, proyek terlihat selesai, laporan bisa ditutup. Namun persoalan mendasar drainase, kapasitas jalan, analisis dampak lalu lintas seolah menjadi urusan belakangan.
“Jalan bagus itu penting. Tapi kalau tiap hujan jadi kolam dan tiap pagi macet, itu bukan kemajuan. Itu masalah baru,” tegas tokoh masyarakat tersebut.
Ia juga menyinggung pentingnya transparansi. Siapa pelaksana proyek? Apakah kualitas pengerjaan sudah sesuai standar? Apakah ada pengawasan teknis yang ketat? Jika hotmix dilakukan tanpa pembenahan sistem air, maka yang terjadi bukan solusi, melainkan tambal sulam.
Siapa Bertanggung Jawab?
Warga tidak ingin menunjuk hidung secara emosional. Namun mereka meminta evaluasi nyata. Pemerintah daerah, dinas teknis, hingga pengembang perumahan harus duduk bersama. Drainase perlu dikaji ulang. Saluran harus dinormalisasi dan diperbesar bila perlu. Kajian pelebaran jalan atau rekayasa lalu lintas mesti dipertimbangkan sebelum kondisi semakin memburuk.
“Ini bukan soal menyalahkan. Tapi jangan sampai kampung jadi korban pembangunan yang tidak direncanakan matang,” ujarnya.
Jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa lebih luas. Aspal yang terus-menerus terendam genangan berpotensi cepat rusak. Anggaran pemeliharaan akan membengkak. Dan warga kembali menjadi pihak yang menanggung konsekuensi.
Warga Tidak Anti Pembangunan
Satu hal yang ditekankan warga Pamoyanan: mereka tidak menolak kemajuan. Mereka memahami bahwa pertumbuhan perumahan dan infrastruktur membawa dampak ekonomi. Akses menjadi lebih mudah. Mobilitas meningkat. Nilai tanah naik.
Namun pembangunan yang baik adalah pembangunan yang berimbang yang menghitung daya dukung lingkungan, yang mempertimbangkan aliran air, yang memikirkan kapasitas jalan sebelum kendaraan menumpuk.
“Kami ingin kampung ini maju. Tapi jangan sampai tiap hujan waswas banjir, tiap pagi waswas macet. Maju itu harus nyaman,” pungkasnya.
Kini bola ada di tangan para pemangku kebijakan. Jalan sudah hotmix. Foto proyek mungkin sudah diambil. Laporan mungkin sudah ditandatangani.
Namun bagi warga Pamoyanan, ukuran keberhasilan bukanlah aspal yang mulus. Melainkan ketika hujan turun tanpa genangan,kemudian pagi,siang dan sore datang tanpa kemacetan.
Jika pembangunan tidak disertai perencanaan matang, maka yang terjadi bukan kemajuan melainkan masalah baru yang dibungkus aspal hitam mengilap. (*)
