Hujan Deras Picu Tebing Ambrol di Cisurupan, Rumah Janda Lansia Rusak Parah, Kades Situsari: Tanah Sudah Sangat Labil

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Intensitas hujan tinggi yang terus mengguyur wilayah selatan Kabupaten Garut dalam beberapa waktu terakhir kembali memicu bencana tanah longsor. Kali ini, musibah menimpa rumah milik Juju (60), seorang janda lansia warga Kampung Cigangsa RT 04 RW 03, Desa Situsari, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Minggu malam, (15/02/2026)

Tebing yang berada tepat di belakang rumah korban ambrol secara tiba-tiba dan menghantam bagian dapur hingga menyebabkan dinding jebol serta kerusakan parah pada struktur bangunan belakang rumah.

Longsor Terjadi Mendadak, Dapur Hancur Total

Peristiwa tersebut terjadi saat kondisi tanah dalam keadaan jenuh air akibat hujan yang hampir setiap hari turun dengan intensitas sedang hingga tinggi. Warga sekitar menyebut, sebelum kejadian sempat terdengar suara gemuruh dari arah belakang rumah korban.

Tak lama kemudian, material tanah dari lereng yang posisinya lebih tinggi meluncur deras dan langsung menghantam bangunan dapur. Kerasnya tekanan tanah membuat dinding tak mampu bertahan. Sebagian bangunan roboh dan menyisakan lubang besar di bagian belakang rumah.

Dapur yang sehari-hari digunakan Juju untuk memasak dan memenuhi kebutuhan rumah tangga kini tidak lagi bisa difungsikan. Peralatan dapur rusak dan tertimbun tanah bercampur puing-puing bangunan. Lantai dipenuhi lumpur, sementara bagian belakang rumah terbuka tanpa perlindungan.

Beruntung, dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa. Saat longsor terjadi, Juju tidak berada tepat di dalam dapur. Namun peristiwa itu tetap meninggalkan trauma mendalam bagi perempuan lanjut usia yang tinggal seorang diri tersebut.

Kepala Desa: Dampak Hujan yang Terus-Menerus

Kepala Desa Situsari, Ridwan Fauzi, SH, membenarkan kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa longsor yang terjadi merupakan dampak langsung dari hujan berkepanjangan yang mengguyur wilayahnya.

“Ini dampak dari hujan yang terus-menerus mengguyur di wilayah kami. Tanah menjadi sangat labil dan jenuh air. Rumah warga yang berada di dekat tebing memang memiliki tingkat kerawanan tinggi,” ujar Ridwan saat dikonfirmasi awak media melalui sambungan Whatsapp miliknya. Senin, (16/02/2026).

Menurutnya, Pemerintah Desa Situsari bersama warga langsung melakukan penanganan darurat. Gotong royong dilakukan untuk membersihkan material longsor yang menumpuk di dapur dan sekitar rumah korban.

Selain itu, pihak desa juga telah melakukan pendataan kerusakan untuk dilaporkan ke instansi terkait di tingkat kecamatan dan kabupaten agar bantuan dapat segera diproses.

Kerusakan Struktur dan Kerugian Materiil

Kerusakan yang dialami rumah Juju bukan sekadar retakan ringan. Bagian struktur utama di belakang rumah terdampak langsung. Dinding jebol, rangka bangunan melemah, dan fondasi terancam terkikis jika tidak segera diperkuat.

Perbaikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari pembangunan ulang dinding, penguatan tebing belakang rumah, hingga pembersihan total material longsor. Bagi Juju, yang hanya mengandalkan penghasilan terbatas, kondisi ini tentu menjadi beban berat.

Warga sekitar menyebut rumah tersebut merupakan satu-satunya tempat tinggal yang dimiliki korban. Jika tidak segera diperbaiki, dikhawatirkan kerusakan akan semakin meluas, apalagi jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.

Ancaman Longsor Susulan Masih Mengintai

Kondisi geografis Cisurupan yang berada di wilayah perbukitan membuat sejumlah titik rawan longsor, terutama saat musim hujan. Kontur tanah yang miring dan minimnya penahan tebing alami memperbesar risiko pergerakan tanah.

Ridwan Fauzi mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar lereng untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia juga meminta warga segera melaporkan jika menemukan tanda-tanda pergerakan tanah, seperti retakan di dinding atau tanah ambles.

“Kami terus mengingatkan warga agar waspada. Jika hujan turun dengan intensitas tinggi dalam waktu lama, sebaiknya mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman,” tegasnya.

Harapan Bantuan dan Mitigasi Jangka Panjang

Peristiwa ini kembali menjadi peringatan bahwa mitigasi bencana di wilayah rawan longsor harus menjadi perhatian serius. Selain bantuan material untuk memperbaiki rumah korban, penguatan tebing dan pemetaan titik rawan longsor dinilai sangat mendesak.

Masyarakat berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat segera melakukan asesmen lanjutan dan memberikan bantuan darurat, baik berupa logistik, material bangunan, maupun dukungan psikososial bagi korban.

Hingga saat ini, Juju masih bertahan di rumahnya yang rusak dengan kondisi dapur yang tidak lagi bisa digunakan. Di tengah ketidakpastian cuaca dan potensi longsor susulan, solidaritas warga menjadi penopang utama. Namun, dukungan yang lebih luas dari berbagai pihak sangat dibutuhkan agar korban dapat kembali hidup dengan rasa aman dan layak. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *