![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Fakultas Komunikasi dan Informasi Universitas Garut (FKOMINFO UNIGA) kembali menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan keilmuan komunikasi dengan menyelenggarakan seminar bertajuk “PR sebagai Motor Bisnis Berkelanjutan: Dari Strategi Komunikasi, Publisitas, hingga CSR”. Sabtu, 17 Januari 2026.
Seminar ini menjadi ruang diskusi strategis yang membedah secara komprehensif posisi Public Relations (PR) dalam menghadapi tantangan dunia bisnis modern yang semakin menuntut transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan.
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Indra Ardiyanto, M.I.Kom., akademisi sekaligus praktisi komunikasi, menyampaikan bahwa paradigma PR telah mengalami pergeseran fundamental. PR tidak lagi dapat dipandang sebagai fungsi pelengkap atau sekadar alat promosi, melainkan harus ditempatkan sebagai elemen inti dalam strategi bisnis dan pengambilan keputusan organisasi.
“PR adalah jembatan strategis antara kepentingan organisasi dan ekspektasi publik. Jika jembatan ini rapuh, maka kepercayaan publik juga akan runtuh,” tegas Dr. Indra di hadapan peserta seminar yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan praktisi komunikasi.
PR Bukan Sekadar Pencitraan
Dalam pemaparannya, Dr. Indra menekankan bahwa PR merupakan disiplin strategis yang bekerja secara sistematis, terencana, dan berorientasi jangka panjang. Pendekatan PR modern menuntut pemahaman mendalam terhadap nilai, tujuan, serta tanggung jawab sosial organisasi.
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks bisnis berkelanjutan, PR berperan sebagai penggerak nilai (value driver) yang memastikan seluruh pemangku kepentingan mulai dari konsumen, karyawan, investor, hingga masyarakat luas memahami arah dan komitmen perusahaan.
“Keberlanjutan tidak cukup diklaim. Ia harus dikomunikasikan secara jujur dan konsisten. Di sinilah PR memegang tanggung jawab besar,” ujarnya.
Menurutnya, transparansi dan akuntabilitas menjadi fondasi utama dalam membangun reputasi yang kuat. PR dituntut mampu mengomunikasikan komitmen perusahaan terhadap isu lingkungan dan sosial secara terbuka, bukan sekadar membungkusnya dengan narasi manis tanpa tindakan nyata.
Strategi Komunikasi, Publisitas, dan Manajemen Krisis
Seminar juga mengulas secara mendalam strategi komunikasi yang efektif di tengah derasnya arus informasi. Penyusunan pesan yang jelas, konsisten, serta disesuaikan dengan segmentasi audiens dinilai menjadi kunci utama agar komunikasi organisasi tetap relevan dan berdampak.
Media sosial mendapat perhatian khusus sebagai kanal komunikasi dua arah yang strategis. Menurut Dr. Indra, media sosial tidak boleh hanya dimanfaatkan sebagai etalase informasi satu arah, tetapi harus dikelola sebagai ruang dialog untuk membangun keterlibatan, kepercayaan, dan komunitas publik yang loyal.
Selain itu, aspek manajemen krisis menjadi sorotan penting. Dalam era digital, isu kecil dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis besar jika tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, PR harus memiliki rencana komunikasi krisis yang matang, responsif, dan terukur agar mampu melindungi reputasi organisasi tanpa mengorbankan kejujuran.
Pendekatan storytelling juga dipaparkan sebagai strategi publisitas yang efektif dan efisien. Melalui artikel, wawancara, dan siaran pers yang kredibel, organisasi dapat membangun citra positif secara berkelanjutan tanpa harus bergantung pada biaya iklan yang tinggi.
CSR sebagai Komitmen, Bukan Seremonial
Pada sesi berikutnya, Dr. Indra menegaskan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) tidak boleh direduksi menjadi sekadar kegiatan amal atau program seremonial. CSR merupakan komitmen etis yang melekat dalam seluruh operasional organisasi, mencakup tanggung jawab sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Integrasi CSR ke dalam strategi PR dinilai menjadi bukti konkret bahwa keberlanjutan adalah tindakan nyata, bukan sekadar jargon komunikasi. Implementasi CSR yang konsisten dan relevan dengan kebutuhan masyarakat mampu memperkuat kepercayaan publik, menarik konsumen yang peduli isu sosial, serta meningkatkan loyalitas karyawan.
“Publik hari ini semakin kritis. Mereka bisa membedakan mana CSR yang tulus dan mana yang hanya kosmetik,” ujarnya.
MoA FKOMINFO UNIGA–PERHUMAS, Perkuat Dunia Akademik dan Praktik
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, seminar ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara FKOMINFO UNIGA dan Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS). Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik dan praktisi PR.
MoA tersebut mencakup kerja sama dalam pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi mahasiswa, kegiatan magang, seminar bersama, hingga riset di bidang Public Relations. Diharapkan, kolaborasi ini mampu menjembatani kebutuhan industri dengan pengembangan keilmuan di perguruan tinggi.
Melalui seminar dan penandatanganan kerja sama ini, FKOMINFO UNIGA menegaskan komitmennya untuk mencetak lulusan PR yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki integritas, kesadaran etis, serta perspektif keberlanjutan dalam menghadapi dinamika dunia bisnis dan komunikasi masa depan. (*)
