Dedi Mulyadi Tegaskan Garut Akan Melesat Jika Sains dan Nilai Buhun Berpadu di Milangkala ke-213

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Perayaan Hari Jadi ke-213 Kabupaten Garut yang digelar di Gedung DPRD Garut, Rabu (18/02/2026), berlangsung khidmat sekaligus sarat makna filosofis. Momentum Milangkala yang mengusung tema “Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang” itu menjadi panggung refleksi sekaligus arah baru pembangunan daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan pidato yang tak sekadar seremonial. Ia mengurai secara mendalam tentang identitas, potensi, dan masa depan Garut, dengan menekankan pentingnya sinergi antara sains modern dan nilai-nilai buhun (kearifan leluhur).

Garut: Kesempurnaan yang Dianugerahkan Tuhan

Dalam pandangannya, Garut bukan hanya wilayah administratif di peta Jawa Barat, melainkan hamparan kesempurnaan yang dianugerahkan Tuhan. Ia menyebutkan berbagai potensi unggulan yang telah lama menjadi kebanggaan masyarakat.

Mulai dari suburnya tanah hortikultura yang menghasilkan aneka komoditas pertanian berkualitas, kegagahan Domba Garut yang menjadi ikon budaya sekaligus ekonomi, manisnya jeruk Garut, legitnya dodol khas daerah, hingga kualitas jaket kulit yang telah menembus pasar nasional bahkan internasional.

Tak lupa, ia menyinggung ketangguhan para jeger Garut yang dikenal berani dan tangguh dalam berbagai medan perjuangan. Semua itu, menurutnya, adalah simbol keunggulan yang dimiliki Garut secara lahiriah.

“Garut ini hebat. Tetapi kehebatan fisik harus diiringi dengan kedalaman nilai. Kalau hanya bangga pada hasil bumi dan produk, tanpa menguatkan akar budaya, kita akan kehilangan arah,” ujarnya tegas.

Menyatukan Nilai Buhun dan Teknokrasi

Dalam pidatonya, Kang Dedy sapaan akrabnya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk kembali pada jati diri. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan di masa depan sangat bergantung pada kemampuan menyatukan nilai tradisi dengan pendekatan teknokrasi modern.

Menurutnya, kearifan buhun sejatinya adalah bentuk teknokrasi pada masanya. Para karuhun membangun tatanan sosial, pertanian, tata ruang, hingga sistem nilai dengan dasar pengalaman, rasa, dan kebijaksanaan yang mendalam.

“Buhun itu bukan sesuatu yang kuno dan harus ditinggalkan. Justru itu adalah fondasi. Ketika kita berbicara teknokrasi hari ini, sesungguhnya leluhur kita sudah mempraktikkan teknokrasi dengan bahasa zamannya,” ungkapnya.

Ia menilai, jika nilai-nilai buhun dipadukan dengan sains dan tata kelola modern, maka kepemimpinan di Garut akan melahirkan kebijakan yang tidak hanya efektif secara administratif, tetapi juga menyentuh rasa dan kebutuhan masyarakat.

Perjalanan Batin dan Landasan Spiritual

Tak hanya berbicara tentang pembangunan fisik, Gubernur juga menyinggung pentingnya perjalanan batin dalam memimpin dan membangun daerah. Ia mengutip ungkapan Sunda, Menekung ka nu Maha Agung, ngabarata ka nu Maha Kawasa, mujasmedi ka Hyang Widi, sebagai simbol kesadaran spiritual dalam setiap langkah pembangunan.

Baginya, pembangunan bukan sekadar proyek dan angka statistik, melainkan proses menyatukan alam rasa dan alam raga. Dari sinilah lahir visi tentang Lembur Matuh, Dayeuh Manggung, Banjar Karang Pamidangan. (Gambaran kampung yang nyaman), kota yang terhormat, serta lingkungan sosial yang penuh cinta dan kebersamaan.

Konsep tersebut, lanjutnya, bukan romantisme masa lalu, melainkan arah yang relevan untuk menjawab tantangan zaman modern yang sering kali kehilangan nilai kemanusiaan.

Empat Pilar Penentu Masa Depan

Dalam arahannya, Kang Dedy juga merumuskan empat pilar utama yang harus bersinergi demi kemajuan Garut:

Pertama, mereka yang belajar dari bacaan dan literasi ilmu pengetahuan.

Kedua, mereka yang memiliki ketajaman rasa dan kepekaan sosial.

Ketiga, mereka yang ditempa melalui pendidikan formal dan sistem akademik.

Keempat, mereka yang jernih dalam tafakur serta memiliki kedalaman spiritual.

Menurutnya, pembangunan akan timpang jika hanya bertumpu pada satu kelompok saja. Sinergi keempat pilar tersebut menjadi kunci agar Garut tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga matang secara budaya dan spiritual.

Enggal Pang Bakti : Seruan Mengabdi

Menutup pidatonya, Kang Dedy menyerukan semangat Enggal Pang Bakti (segera mengabdi). Ia mengajak seluruh jajaran pemerintah daerah, DPRD, tokoh masyarakat, hingga generasi muda untuk bergerak cepat membenahi tata ruang, memperkuat perencanaan berbasis sains, serta menjaga kelestarian nilai budaya.

Menurutnya, tata ruang yang tertata dengan pendekatan ilmiah harus tetap berpijak pada karakter alam dan budaya Garut. Pembangunan yang mengabaikan identitas lokal hanya akan menciptakan kota tanpa jiwa.

“Garut harus tertata, bermartabat, dan tetap berpijak pada akar jati dirinya,” pungkasnya.

Perayaan Milangkala ke-213 ini pun bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi kolektif. Di usia yang semakin matang, Kabupaten Garut ditantang untuk melangkah lebih jauh menguatkan tradisi, memanfaatkan sains, serta meneguhkan kepemimpinan yang menyatu antara akal dan rasa.

Dengan semangat Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang, harapan besar pun digantungkan: menjadikan Garut sebagai daerah yang bersinar, kokoh, dan harum namanya di tingkat Jawa Barat maupun nasional. (DIX)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *