![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Desa Cigadog, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat kini lebih dikenal bukan hanya karena potensi alamnya,tetapi juga karena banyak perubahan sosial yang tumbuh dari tangan dingin kepemimpinan Kepala Desa Dedi Rudiana.
Di bawah kepemimpinannya, para pemuda dan pemudi desa yang sebelumnya minim ruang ekspresi kini bertransformasi menjadi generasi aktif, kreatif, dan peduli terhadap sesama.
Perubahan tersebut bermula dari kegemaran sebagian pemuda Cigadog terhadap olahraga motor cross. Aktivitas yang identik dengan adrenalin tinggi itu sempat dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat.
Namun, alih-alih melarang, Dedi Rudiana justru melihat potensi besar di dalamnya. Ia memilih pendekatan persuasif dengan merangkul para pemuda, mengarahkan hobi mereka ke jalur yang lebih terorganisir dan bernilai positif.
Melalui pembinaan yang berkelanjutan, pemerintah desa memberikan ruang bagi komunitas motor cross untuk berkembang secara sehat dan tertib. Mereka diajak memahami pentingnya keselamatan, sportivitas, serta tanggung jawab sosial sebagai bagian dari masyarakat.
Dari sinilah lahir gagasan besar: menggabungkan olahraga ekstrem dengan gerakan kemanusiaan.
Gagasan tersebut kemudian diwujudkan dalam kegiatan bakti sosial berupa khitanan massal bagi anak-anak yatim piatu dan warga kurang mampu secara ekonomi. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa hobi dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Pelaksanaan khitanan massal itu melibatkan berbagai elemen, mulai dari pemerintah desa, tenaga medis, tokoh masyarakat, hingga para pemuda motor cross yang menjadi motor penggerak utama.
Mereka tidak hanya berperan sebagai panitia, tetapi juga turun langsung membantu proses persiapan, pendataan peserta, hingga pendampingan anak-anak yang mengikuti khitanan.
Saat di wawancarai awak media melalui sambungan Whatsapp miliknya pada. Senin, (15/12/2025). Kepala Desa Cigadog, Dedi Rudiana, menyampaikan bahwa pembinaan generasi muda merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan desa. Menurutnya, pemuda bukanlah objek pembangunan semata, melainkan subjek utama yang harus dilibatkan secara aktif.
“Pemuda adalah kekuatan desa. Kalau mereka kita rangkul, kita beri kepercayaan, dan kita arahkan dengan baik, hasilnya luar biasa. Motor cross ini bukan sekadar hobi, tapi pintu masuk untuk membangun karakter, kebersamaan, dan kepedulian sosial,” ujar Dedi.
Ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut sengaja ditempuh untuk menghindari pola pembinaan yang bersifat represif.
Sebaliknya, pemerintah desa memilih jalan dialog, pendampingan, dan pemberian ruang berekspresi yang sehat agar pemuda merasa dihargai dan memiliki desa mereka sendiri.
Respons masyarakat terhadap perubahan ini pun sangat positif. Warga menilai para pemuda Cigadog kini jauh lebih aktif dalam kegiatan sosial, memiliki rasa tanggung jawab, serta mampu menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya. Tidak sedikit orang tua yang mengaku bangga melihat anak-anak mereka terlibat dalam kegiatan kemanusiaan.
Kegiatan khitanan massal tersebut juga memberikan dampak langsung bagi keluarga kurang mampu. Selain meringankan beban ekonomi, kegiatan ini menghadirkan rasa kebersamaan dan kepedulian yang kian menguatkan ikatan sosial antarwarga.
Tokoh masyarakat setempat menilai langkah yang diambil Kepala Desa Cigadog sebagai bentuk kepemimpinan yang adaptif dan visioner. Di tengah tantangan sosial yang dihadapi generasi muda, pendekatan berbasis minat dan bakat dinilai jauh lebih efektif dibandingkan larangan dan pembatasan.
Ke depan, Pemerintah Desa Cigadog berkomitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan kepemudaan yang produktif, baik di bidang olahraga, seni, maupun sosial kemasyarakatan. Harapannya, Desa Cigadog dapat menjadi contoh bagaimana kepemimpinan desa mampu mengubah potensi anak muda menjadi kekuatan pembangunan yang berlandaskan nilai gotong royong dan kemanusiaan.
Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian, Desa Cigadog perlahan menegaskan identitas barunya: desa yang ramah bagi pemuda, kuat dalam solidaritas, dan maju dalam pembangunan sosial. (DIX)
