Bangun Sinergitas dan Ubah Stigma, Kalapas Garut Perkuat Peran Media Jelang Idul Fitri

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Menjelang perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Garut menggelar kegiatan silaturahmi bersama insan media dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan sekaligus memperkuat kolaborasi dalam membangun citra positif lembaga pemasyarakatan di mata publik.

Bertempat di lingkungan Lapas Garut, kegiatan tersebut tidak hanya sekadar ajang temu biasa, tetapi juga sarat makna sebagai bentuk penghargaan terhadap peran media yang selama ini menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Dalam era keterbukaan informasi seperti saat ini, kehadiran media dinilai sangat vital dalam membangun persepsi publik yang objektif dan berimbang.

Kalapas Garut, Rusdedy dalam sambutannya menegaskan bahwa momentum bulan suci Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk memperkuat tali silaturahmi, meningkatkan kebersamaan, serta mempererat komunikasi dengan berbagai pihak, khususnya insan pers. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara lembaga pemasyarakatan dan media dalam menghadirkan informasi yang edukatif kepada masyarakat.

“Di bulan yang penuh berkah ini, kita jadikan sebagai momentum untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan. Atas nama pribadi dan institusi, saya menyampaikan permohonan maaf apabila selama ini terdapat kekhilafan, baik dalam sikap maupun komunikasi,” ujar Rusdedy di hadapan para awak media, Rabu (18/03/2026).

Dalam suasana santai menjelang buka puasa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi terbuka atau sambung rasa. Dalam forum tersebut, berbagai isu mencuat, salah satunya terkait masih adanya stigma negatif masyarakat terhadap lembaga pemasyarakatan. Beberapa awak media menyoroti bahwa istilah lama yang menggambarkan citra buruk penjara masih kerap muncul dan melekat di tengah masyarakat.

Menanggapi hal itu, Rusdedy secara terbuka mengakui bahwa persepsi tersebut memang masih menjadi tantangan tersendiri. Ia menjelaskan bahwa kehidupan di dalam Lapas memiliki dinamika yang tinggi dan tidak bisa disederhanakan seperti yang sering digambarkan dalam narasi umum maupun tayangan fiksi.

“Memang benar, dinamika di dalam Lapas sangat kompleks dan bisa berubah dalam waktu singkat. Namun, perlu dipahami bahwa Lapas bukan hanya tempat bagi pelaku kejahatan, melainkan juga tempat pembinaan untuk memperbaiki diri,” tegasnya.

Ia juga menyoroti bahwa citra negatif yang berkembang selama ini tidak lepas dari pengaruh media hiburan seperti film atau sinetron yang sering menggambarkan penjara sebagai tempat yang menyeramkan, penuh kekerasan, dan jauh dari nilai kemanusiaan. Padahal, menurutnya, kondisi nyata di lapangan sangat berbeda.

“Ketika masyarakat datang langsung ke Lapas Garut untuk membesuk, mereka bisa melihat sendiri bahwa suasananya tidak seperti yang dibayangkan. Banyak kegiatan positif yang dilakukan oleh warga binaan,” tambahnya.

Sebagai bagian dari upaya mengubah stigma tersebut, Lapas Garut terus melakukan berbagai inovasi dan pembinaan terhadap warga binaan. Salah satu program unggulan adalah pembinaan kemandirian yang tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga membuka peluang ekonomi hingga mampu menembus pasar ekspor. Program ini menjadi bukti nyata bahwa warga binaan memiliki potensi besar untuk berubah dan berkarya.

Selain itu, Lapas Garut juga dikenal memiliki komitmen kuat dalam memberantas peredaran narkoba di dalam lingkungan pemasyarakatan. Upaya ini dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk aparat penegak hukum dan instansi terkait, guna menciptakan lingkungan yang bersih dan kondusif.

Rusdedy menegaskan bahwa seluruh capaian tersebut tidak mungkin diraih tanpa dukungan dari berbagai elemen, mulai dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga media massa. Ia menyebut, peran media sangat krusial dalam menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat sehingga mampu membentuk opini publik yang lebih positif.

“Perubahan citra ini bukan hanya tugas kami di internal Lapas, tetapi juga membutuhkan dukungan semua pihak. Media memiliki peran besar dalam menyampaikan sisi lain dari Lapas yang selama ini jarang diketahui masyarakat,” ungkapnya.

Ia pun berharap, melalui kegiatan silaturahmi ini, hubungan baik antara Lapas Garut dan insan media dapat terus terjalin dan semakin solid. Dengan komunikasi yang terbuka dan kolaboratif, diharapkan berbagai program pembinaan dan prestasi yang diraih Lapas dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat luas.

Kegiatan ditutup dengan buka puasa bersama yang berlangsung penuh keakraban, mencerminkan semangat kebersamaan dan sinergitas yang kuat antara Lapas Garut dan para awak media.

Melalui momentum ini, Lapas Garut kembali menegaskan komitmennya untuk terus berbenah, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menghadirkan sistem pemasyarakatan yang humanis, produktif, dan berorientasi pada perubahan positif bagi warga binaan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *