![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut, Jawa Barat memastikan peringatan Hari Jadi Kabupaten Garut (HJG) ke-213 tahun 2026 akan digelar dengan konsep yang lebih bermakna, sarat nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal. Salah satu agenda utama yang menjadi pembeda dari peringatan tahun-tahun sebelumnya adalah dihadirkannya kegiatan “Ngarawat Ci Garut” sebagai rangkaian pembuka perayaan.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Drs. H. Nurdin Yana, M.H.,saat di wawancarai Media Tribunpribumi.com melalui sambungan Whatsapp miliknya, Sabtu (31/01/2026).
Menurut Nurdin Yana, peringatan Hari Jadi Garut tahun ini tidak hanya difokuskan pada kegiatan seremonial semata, tetapi juga diarahkan sebagai momentum refleksi sejarah lahirnya Kabupaten Garut, sekaligus penguatan identitas budaya daerah di tengah masyarakat.
“Ada yang berbeda dalam Hari Jadi Garut ke-213 tahun ini. Kami menghadirkan kegiatan ‘Ngarawat Ci Garut’ sebagai pembuka rangkaian utama perayaan. Kegiatan ini akan mulai dilaksanakan pada 12 Februari 2026,” ujar Nurdin Yana.
Ia menjelaskan, konsep Ngarawat Ci Garut lahir dari pemahaman sejarah bahwa awal mula berdirinya Kabupaten Garut tidak terlepas dari pencarian dan keberadaan sumber air. Air menjadi elemen vital yang menentukan lokasi pemukiman dan pemerintahan pada masa awal terbentuknya daerah.
“Pemberangkatan awal Kabupaten Garut ini muncul karena kita mencari air. Kenapa mencari air? Karena untuk meyakinkan bahwa setiap daerah yang akan ditetapkan harus memiliki ketersediaan air. Dari situlah sejarah Sumur Garut bermula,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nurdin Yana mengungkapkan bahwa dalam prosesi Ngarawat Ci Garut akan dilakukan simbolisasi penggalian dan penyatuan sejumlah sumur bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan awal Kabupaten Garut. Prosesi tersebut dimaknai sebagai upaya merawat sumber kehidupan sekaligus merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah daerahnya.
“Beberapa sumur yang ada akan kita ‘kawinkan’ secara simbolis, sehingga lahirlah konsep Sumur Garut. Dari situlah pemberangkatan sejarah Kabupaten Garut dimulai,” tambahnya.
Setelah pelaksanaan Ngarawat Ci Garut, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan mengenang sejarah Pemerintahan Kabupaten Garut yang dipusatkan di Titik Nol Kabupaten Garut, tepatnya di depan Kantor BPKAD Kabupaten Garut. Kegiatan ini menjadi simbol penanda perjalanan pemerintahan daerah dari masa ke masa.
Masih di hari yang sama, Pemkab Garut juga akan melaksanakan ziarah ke makam Bupati Garut pertama, RAA Adiwijaya, yang berlokasi di TPU Cipeujeuh. Selain itu, ziarah juga akan dilakukan ke makam beberapa Bupati Garut terdahulu yang telah wafat, yakni Bupati Garut ke-III, IV, V, dan XIII di Makam Dalem Kaum, yang berada di belakang Masjid Agung Garut. Rangkaian tersebut ditutup dengan doa dan salat Dzuhur bersama di Masjid Agung Garut.
Adapun puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Garut ke-213 akan dilaksanakan pada Rabu, 18 Februari 2026, melalui Upacara Peringatan HJG ke-213 yang direncanakan berlangsung di Alun-Alun Garut atau Lapangan Otto Iskandar Di Nata. Upacara tersebut akan menjadi pusat perhatian masyarakat karena akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan pendukung.
Sejumlah agenda yang akan memeriahkan puncak peringatan HJG ke-213 di antaranya pagelaran seni dan budaya khas Sunda, mini pelayanan publik dari berbagai instansi, gelar pangan murah untuk masyarakat, promosi dan pameran produk UMKM lokal, hingga Pameran Sejarah Kabupaten Garut yang menampilkan perjalanan panjang daerah dari masa ke masa.
Setelah seluruh rangkaian upacara selesai, kegiatan pokok Hari Jadi Kabupaten Garut ke-213 akan ditutup dengan Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Garut dalam rangka peringatan HJG ke-213 sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan perjalanan pemerintahan daerah.
Nurdin Yana berharap, peringatan Hari Jadi Kabupaten Garut tahun ini dapat benar – benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Ia menekankan pentingnya keterlibatan seluruh perangkat daerah, instansi vertikal, serta elemen masyarakat dalam menyemarakkan HJG ke-213.
“Kami berharap Hari Jadi Garut tahun ini bisa membumi, setidaknya bagi seluruh SKPD dan instansi vertikal di Kabupaten Garut. Salah satunya melalui pemasangan ornamen Hari Jadi seperti umbul-umbul, spanduk, dan atribut lainnya,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa nuansa peringatan HJG ke-213 akan mengusung kesundaan sebagai identitas budaya daerah. Penjor akan dipasang di setiap kantor SKPD maupun di kawasan alun-alun Garut sebagai simbol kearifan lokal Sunda.
“Nuansanya adalah kesundaan. Penjor akan kita hadirkan sebagai bagian integral dari budaya Sunda yang menghiasi pelaksanaan Hari Jadi Garut ke-213. Insyaallah, ini akan menjadi daya tarik sekaligus penguat identitas budaya daerah,” pungkas Nurdin Yana.
Dengan konsep yang memadukan nilai sejarah, budaya, dan pelayanan publik, Pemerintah Kabupaten Garut optimistis peringatan Hari Jadi Kabupaten Garut ke-213 akan menjadi momentum penting untuk memperkuat rasa kebersamaan, kebanggaan daerah, serta komitmen bersama dalam membangun Garut yang lebih maju dan berkelanjutan. (*)
