Pemkab Garut Luncurkan Pedoman HJG ke-213 Tahun 2026, Tema “Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang” Sarat Makna Filosofis

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut secara resmi meluncurkan pedoman peringatan Hari Jadi Garut (HJG) ke-213 Tahun 2026 sebagai landasan pelaksanaan seluruh rangkaian kegiatan peringatan hari jadi daerah. Pedoman tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 400.14.1.1/359/PKP yang ditetapkan pada 26 Januari 2026 dan ditandatangani langsung oleh Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin.

Peluncuran pedoman ini menjadi penanda dimulainya persiapan peringatan Hari Jadi Garut ke-213 yang akan dilaksanakan secara serentak dan terpadu di seluruh wilayah Kabupaten Garut. Melalui surat edaran tersebut, Pemkab Garut mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari perangkat daerah, instansi vertikal, lembaga pendidikan, sektor swasta, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat desa, untuk bersama-sama menyemarakkan peringatan hari jadi sebagai momentum refleksi, evaluasi, dan kebangkitan daerah.

Pemerintah daerah menegaskan bahwa peringatan Hari Jadi Garut bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi ruang untuk meneguhkan kembali identitas, jati diri, serta arah pembangunan Kabupaten Garut ke depan.

Pada peringatan tahun 2026 ini, Hari Jadi Garut ke-213 mengusung tema “Garut Gumiwang, Tanjeur Dangiang”. Tema tersebut dinilai memiliki muatan filosofis yang kuat serta mencerminkan harapan besar terhadap masa depan Garut sebagai daerah yang bersinar, kokoh, dan berwibawa.

Tema “Garut Gumiwang, Tanjeur Dangiang” merepresentasikan visi agar Garut mampu memaksimalkan seluruh potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, inovasi, serta capaian pembangunan yang telah diraih selama ini. Dengan demikian, Garut diharapkan dapat memperkuat daya saingnya, baik di tingkat regional maupun nasional.

Sejalan dengan pengusungan tema tersebut, Pemerintah Kabupaten Garut juga secara resmi memperkenalkan logo Hari Jadi Garut ke-213. Logo ini dirancang sebagai identitas visual yang tidak hanya modern dan atraktif, tetapi juga sarat makna simbolik yang mencerminkan karakter, sejarah, serta arah pembangunan Garut yang berkelanjutan.

Tema HJG ke-213 dirumuskan dalam tiga pilar filosofis utama. Pilar pertama, Gumiwang, dimaknai sebagai bersinar atau bercahaya. Filosofi ini melambangkan harapan agar Kabupaten Garut mampu memancarkan potensi, prestasi, dan keunggulan di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, sosial, budaya, hingga inovasi pembangunan.

Pilar kedua, Tanjeur atau Nanjeur, bermakna tegak dan kokoh. Makna ini menggambarkan keteguhan prinsip, konsistensi kebijakan, serta daya tahan Kabupaten Garut dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, termasuk dinamika sosial, ekonomi, dan globalisasi.

Sementara itu, pilar ketiga, Dangiang, merujuk pada aura, wibawa, dan daya tarik yang menumbuhkan rasa hormat, kebanggaan, serta kepercayaan. Dangiang mencerminkan komara atau kewibawaan Garut sebagai daerah yang dihormati, diperhitungkan, dan memiliki identitas kuat.

Secara utuh, tema tersebut menggambarkan sosok Kabupaten Garut yang bersinar, berdaya saing, dan memiliki wibawa dengan mengoptimalkan seluruh potensi daerah, inovasi pembangunan, serta capaian yang telah diraih selama ini.

Nilai-nilai filosofis tersebut juga diterjemahkan secara visual dalam desain logo resmi angka “213” Hari Jadi Garut ke-213. Logo ini mengusung konsep modern dengan sentuhan lokal khas Garut, di mana setiap elemen visual dirancang memiliki makna simbolik yang saling terhubung dan memperkuat pesan tema.

Angka “2” pada logo dibentuk menyerupai siluet tunas hijau dan padi. Elemen ini melambangkan kesuburan alam Garut sekaligus menegaskan peran penting sektor pertanian sebagai fondasi utama ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.

Angka “1” digambarkan sebagai obor yang menyala di bagian tengah. Simbol obor tersebut selaras dengan makna Gumiwang sebagai cahaya penerang, sumber semangat, serta penuntun arah pembangunan Kabupaten Garut menuju masa depan yang lebih baik.

Sementara itu, angka “3” ditampilkan dengan dominasi warna biru yang dinamis berpadu dengan aksen oranye. Perpaduan warna ini merepresentasikan kreativitas, inovasi, optimisme, serta semangat generasi muda Garut dalam menatap masa depan yang penuh tantangan dan peluang.

Sebagai pelengkap, logo Hari Jadi Garut ke-213 juga menampilkan elemen pegunungan dan buku terbuka di bagian bawah. Pegunungan melambangkan keindahan bentang alam Garut yang menjadi kekayaan dan daya tarik daerah. Adapun buku terbuka menyimbolkan pentingnya ilmu pengetahuan, literasi, dan pendidikan sebagai pilar utama dalam mewujudkan kemajuan dan pembangunan berkelanjutan.

Pemerintah Kabupaten Garut berharap tema dan logo Hari Jadi Garut ke-213 ini tidak berhenti sebatas identitas visual atau simbol perayaan semata. Lebih dari itu, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diharapkan dapat menginspirasi, menjiwai, dan terimplementasi dalam setiap program, kebijakan, serta gerak pembangunan daerah.

Melalui momentum peringatan Hari Jadi Garut ke-213, seluruh elemen masyarakat diajak untuk memperkuat kolaborasi, menjaga persatuan, serta bersama-sama mewujudkan Garut yang semakin bercahaya, berwibawa, dan berdaya saing, baik di tingkat nasional maupun internasional. (Zakariyya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *